La Ode Syukur
Universitas Halo Oleo

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ANALISIS STRUKTUR PUISI DALAM KUMPULAN PUISI “AKU INI BINATANG JALANG” KARYA CHAIRIL ANWAR Rio Dirman; La Ode Syukur; La Ode Balawa
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 4 No. 2 (2019): JURNAL BASTRA EDISI APRIL 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis Struktur Puisi Dalam Kumpulan Puisi “Aku Ini Binatang Jalang”Karya Chairil Anwar. Masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah strukturpuisi dalam Kumpulan Puisi “Aku Ini Binatang Jalang” Karya Chairil Anwar? Tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan struktur puisi dalam Kumpulan Puisi “Aku Ini Binatang Jalang” Karya Chairil Anwar. Jenis yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah penelitian kepustakaan (library Research) yaitu dengan cara mengadakan studi lewat bahan bacaan yang relevan serta mendukung penelitian ini. Bahan bacaan yang dimaksud adalah puisi. Penelitian ini menggunakan pendekatan struktural. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode desktiptif kualitatif. Deskriptif yaitu penggambaran atau penyajian data berdasarkan kenyataan-kenyataan secara objektif sesuai dengan objek penelitian, dengan cara menelaah secara seksama puisi yang diteliti. Data yang digunakan dalam penelitian adalah data tertulis berupa tiga puisi yaitu: 1. Hampa, 2. Di Mesjid, 3. Diponegoro. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik baca catat. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah srtuktur batin dan struktur fisik puisi yang terdiri dari tiga puisi yang masing-masing memiliki empat struktur batin yaitu: Tema, nada, perasaan, dan amanat. dan enam struktur fisik yaitu diksi, pengimajian, kata konkret, gaya bahasa, verifikasi, dan tipografi.
SIMBOL LESBIAN DALAM NOVEL GERHANA KEMBAR KARYA CLARA NG Adryan Nur Alam; La Ode Syukur; Sumiman Udu
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 4 No. 2 (2019): JURNAL BASTRA EDISI APRIL 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya lesbianisme yang sering terjadi dalam masyarakat, sehingga dengan mengidentifikasi makna-makna simbol lesbianisme dalam novel Gerhana Kembar karya Clara Ng ini kita dapat mengambil nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya, dimana dengan diketahuinya simbol-simbol lesbian dapat menjadi acuan atau patokan untuk orang-orang terdekat kita bagaimana melakukan pengawasan tentang perilaku yang hampir mendekat ke arah lesbian tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk Untuk mengetahui dan mendeskripsikan Simbol Lesbian dalam Novel Gerhana Kembar karya Clara Ng. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, dengan data penelitian berupa kata-kata, percakapan dan kalimat dalam bentuk ungkapan yang mengandung tanda dan simbol lesbian dalam novel Gerhana Kembar karya Clara Ng. Data dalam penelitian ini dianalisis menggunakan pendekatan semiotik menurut Roland Barthes. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan diperoleh kesimpulan bahwa, lebian dalam Novel Gerhana Kembar dianalisis berdasarkan 5 kode yaitu berdasarkan kode Hermeneutik yang menunjukkan asbabun nuzul atau sebab akibat terjadinya lesbian yang dilakukan oleh Henrietta dan Fola sebagai akibat selalu mempunyai waktu bersama, kemudian melalui kode konotatif atau kilasan makna yang menunjukkan atas kebersamaan Henrietta dan Fola mereka mulai menyatakan apa yang mereka rasakan melalui beberapa kilasan makna, kode simbolik yang menunjukkan tanda atau symbol yang hanya mereka mengerti sendiri bahwa Henrietta maupun Fola menyukai sesama jenis, selanjutnya adalah kode proaretik atau tindakan yang mereka lakukan sebagai ungkapan perilaku lesbian mereka, dan yang terakhir adalah kode Gnomik atau kultural yang menunjukkan kebudayaan yang selaras dalam latar novel Gerhana kembar.Kemudian tindakan lesbian tersebut bertentangan dengan nilai agama dan norma sosial yang dimana masyarakat indonesia masih menganggap tabu persoalan perilaku lesbian.
FUNGSI DAN MAKNA MANTRA KADIU SAFARA DESA LABUNTI KABUPATEN MUNA Yatni Sukarni; La Ode Syukur; Yunus
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 4 No. 3 (2019): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan fungsi dan makna mantra Kadiu Safara di desa Labunti Kabupaten Muna. Penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan. Jenis penelitian yaitu penelitian deskriptif-kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah data lisan. Sumber data dalam penelitian ini adalah informan yaitu Kamokulano Liwu. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, rekam, dan catat. Teknik analisis data dalam penelitian ini yaitu pendekatan struktural. Sesuai dengan hasil penelitian ini, fungsi mantra Kadiu Safara yaitu: Fungsi meletakan bhoru ke permukaan adalah sebagai bentuk penolak bala. Proses ini dipecaya dapat menghilangkan hal-hal buruk yang ada dalam kampong. Fungsi menyiram air yang sudah dimantrai ke masyarakat adalah sebagai mandi pembersihan diri dari dosa-dosa yang telah diperbuat pada tahun sebelumnya. Ketupat dan telur yang dibuang di laut berfungsi sebagai Ghotino Embu atau pemberian makan kepada penguasa laut agar mereka selalu dilindungi ketika sedang melaut. Sedangkan makna yang terkandung dalam mantra Kadiu Safara terdiri atas tiga bagian (1) makna mantra Kaetampisiha Oe:Makna mantra ketika turun ke air adalah untuk permohonan izin kepada penguasa laut agar mereka diberi kelancaran dalam melakukan ritual tersebut. Kamokulano Liwu meminta kepada Embu agar diberikan perlindungan selama proses berjalannya ritual. (2) makna mantra Kadiu Toba: masyarakat turun ke laut untuk mandi bermakna sebagai pembersihan diri sekaligus penghilang penyakit yang ada pada tubuh masyarakat. Kadiu Toba dianggap juga sebagai mandi mensucikan diri melepas semua dosa. (3) makna mantra Dhoa Kasalamata: sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kepada Allah Swt, karena telah diberikan kesehatan, umur panjang dan sebagai penolak bala.
KEMAMPUAN MENENTUKAN STRUKTUR DAN UNSUR KEBAHASAAN TEKS BERITA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 BARANGKA Delisnawati; Yunus; La Ode Syukur
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 4 No. 4 (2019): JURNAL BASTRA EDISI OKTOBER 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan kemampuan siswa dalam menentukan struktur dan unsur kebahasaan teks berita siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Barangka. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini tergolong dalam penelitian kelas karena peneliti turun langsung ke sekolah untuk mengumpulkan data sesuai dengan masalah penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif yaitu penelitian yang memberikan gambaran secara jelas mengenai kemampuan menentukan struktur dan unsur kebahasaan teks berita siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Barangka yang selanjutnya dianalisis hasil data dengan menggunakan prinsip statistik yang berupa angka-angka. Responden dalam penelitian ini 95 yang terdiri dari empat kelas. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara individu terdapat 82 (86,31%) siswa masuk kategori mampu dan 13 (14%) siswa dikategorikan tidak mampu. Secara klasikal persentase kemampuan siswa dikategorikan mampu karena mencapai kriteria ketuntasan klasikal 85%.