Yosi Vanesa Aulia
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Makna Abaqa Nabi Yusuf Dalam Al-Qur'an (Aplikasi Semiotika Roland Barthes Terhadap QS. As-Saffat: 140) Yosi Vanesa Aulia
Jurnal Semiotika Quran Vol 2 No 1 (2022): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.531 KB) | DOI: 10.19109/jsq.v2i1.11445

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui makna yang tersurat dan tersirat terkait “Abaqo” (pelarian) dalam kisah Nabi Yunus yang terungkap di QS. as-Saffat: 140. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis serta pendekatan dan mengaplikasikan teori semiotika Roland Barthes. Teori yang ditawarkan oleh Roland Berthes ini menyuguhkan pendekatan semiotika dengan dua langkah. Pada langkah awal yaitu sistem linguistik atau yang dikenal dengan makna denotasi. Kemudian pada langkah kedua yaitu dengan sistem mitologi atau makna konotasi. Dengan kata lain, pembacaan pada langkah awal merupakan pembacaan secara tekstual melihat aspek tulisan dan bahasa. Kemudian pada langkah kedua pembacaan dilakukan dengan melihat sisi kontekstual yang terjadi. Dengan pendekatan ini penulis mendapatkan hasil yaitu: pertama, sistem linguistik yang tedapat dalam kata Abaqo tidak hanya diartikan sebagai lari pada umumnya tapi lari meninggalkan sesuatu, yang terdapat banyak makna tersirat didalam kata Abaqo. Kedua, pemaknaan kata Abaqo dari sistem mitologi dapat dimaknai sebagai Nabi Yunus yang diklaim ingkar dari tanggung jawab karena Nabi Yunus mengalami putus asa yang disebabkan tidak berhasil dan gagal dalam mendakwahkan Agama dan ajaran yang Nabi Yunus bawa berupa iman dan tauhid.
Eksklusivisme Al-Quran: Reinterpretasi Konsep Menundukkan Pandangan Bagi Laki-Laki Mukmin Perspektif Betrand Russell Rinaldo Rinaldo; Yosi Vanesa Aulia
Jurnal Semiotika Quran Vol 2 No 2 (2022): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.331 KB) | DOI: 10.19109/jsq.v2i2.12798

Abstract

Abstract In this modern era, the interaction between men and women in the real and virtual worlds can no longer be limited, while the literal-textual meaning of the Qur'an implies to lower or hold one's gaze to the opposite sex. This kind of problem is not in line with the dictum of the Koran as a blessing for the whole world, because there is a debate in the world of language in the Koran with the world of reality in social society in terms of lowering the view. The author uses the logical atomic theory initiated by Betrand Russel with a descriptive-analytical-critical presentation model that adheres to a deconstruction work system to answer the question of how the Koran responds to the issue of looking down for Muslim men in the current modernization era, and what is the form of reinterpretation of Qs. . An-Nur: 30 in the concept of subduing the views of Muslim men using the semiotic perspective of Betrand Russell. So that the results of the research are in the form of a new interpretation of the meaning of Surah An-Nur: 30, among which, first, the context of Surah An-Nur: 30 discusses the consequences of the views that have been carried out, not about the law. Second, this view is a necessity, only needs to be adjusted to the situation and conditions to achieve benefit. Third, the new interpretation of An-Nur: 30 is in accordance with Indonesian culture and customs in accordance with religious norms and cultural norms. Keywords : Exclusiveism, Reinterpretation, Betrand Russell