Ahmad Misbakhul Amin
Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Aktualisasi Nilai Rekonsiliasi Perspektif Kitab Al-Tibyan Karya KH. Hasyim Asy’ari Ahmad Misbakhul Amin; Ahmad Saddad
Jurnal Semiotika Quran Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v4i1.21862

Abstract

Artikel ini dilatarbelakangi adanya degradasi moral yang disebabkan adanya banyak perbedaan yang justru tidak menjadi media persatuan namun menjadi celah adanya Iftiraq. Perpecahan ini secara urgen dan mendesak perlu untuk segera diatasi dengan metode dan cara yang sudah teruji untuk kemudian dapat diaktualisasikan di kehidupan. KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Al-Tibyan menawarkan usaha rekonsiliasi Nasional yang dalam penelitian ini dipaparkan kandungan dan nilai yang tersimpan. Penulis menggunakan metode Library Research dengan memanfaatkan beberapa sumber pustaka yang valid. Dalam penelitian ini penulis setidaknya menemukan tiga hasil temuan. Pertama, terdapat nilai persaudaraan yang kuat menjadi tonggak rekonsiliasi Nasional dalam kitab Al-Tibyan. Kedua, dalam kitab Al-Tibyan nilai persatuan dan perdamaian menjadi orientasi pokok terhadap usaha rekonsiliasi Nasional KH. Hasyim Asy’ari. Ketiga, aktualisasi nilai persaudaraan dan persatuan serta perdamaian secara aktif dan dinamis dapat diimplementasikan dengan pendekatan zaman kekinian salah satunya memanfaatkan dunia digitalisasi. Ketiga nilai rekonsiliasi dalam kitab ini dapat diaktualisasikan artinya kitab ini masih relevan dengan zaman dan problematika kekinian.
Menelisik Ideologi Persatuan Kitab Arba’in Karya KH. Hasyim Asy’ari: : Sebuah Analisis Wacana Kritis Alfin Hidayatullah; Ahmad Misbakhul Amin; Muhammad Fadhil Febryansyah; Syaiful Rijal; Ahmat Saepuloh
El Nubuwwah Jurnal Studi Hadis Vol. 3 No. 1 (2025): El Nubuwwah Jurnal Studi Hadis
Publisher : Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/elnubuwwah.v3i2.18865

Abstract

The rise of Islamic radicalism in post-reform Indonesia poses a serious challenge to national integration and religious harmony. Doctrines and movements grounded in exclusivism and intolerance toward religious diversity often trigger societal fragmentation. In this context, KH. Hasyim Asy'ari—founder of Nahdlatul Ulama—formulated an ideological response rooted in his compilation of ḥadīths entitled Arba‘īna Ḥadīthan Tata‘allaqu Bi Mabādi’ Jam‘iyyah Nahdlatil Ulama’. This study aims to examine the values of unity expressed through three core ḥadīths thematically linked to the concept of social cohesion, namely ḥadīth no. 16, 22, and 39. Employing a qualitative-descriptive method, the research adopts Teun A. van Dijk’s Critical Discourse Analysis framework, which incorporates macro-structure, schematic form, semantics, syntax, stylistics, rhetorical strategy, and social cognition. The findings reveal that while the isnād (chain of transmission) of the three ḥadīths varies—ranging from ḥasan li dhātihi, ṣaḥīḥ li dhātihi, to ḍa‘īf—their matn (textual content) is evaluated as ṣaḥīḥ based on compatibility with reason and foundational Islamic principles. The thematic values identified include empathy, solidarity, tolerance of difference, and the imperative to preserve communal harmony. This compilation of ḥadīths functions not merely as a religious text but also as an ideological manifesto responding to the socio-religious challenges of its time. In conclusion, Arba‘īna Ḥadīthan reflects a traditionalist yet progressive vision of Islam rooted in Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah, offering a normative framework for promoting moderation, pluralism, and national unity in contemporary Muslim societies.