Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pelatihan Pengelolaan Media Sosial dan Fotografi bagi Komunitas Sederek Eco Bhinneka Surakarta Uswatun Hasanah; Fatmah Bagis; Ariati Dina Puspitasari; Hanifa Kasih Surahman
BUDIMAS : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 6, No 1 (2024): BUDIMAS : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29040/budimas.v6i1.13186

Abstract

Memasuki era disrupsi 5.0 menuntut semua masyarakat untuk bisa beradaptasi dengan cepat, terutama bagi penggerak komunitas. Proses promosi dan penyebaran nilai-nilai baik saat ini tidak hanya disampaikan secara langsung namun juga dapat memanfaatkan media sosial. Media sosial menjadi wadah interaksi baru serta peningkatan promosi program yang lebih optimal dan efisien. Oleh karena itu, pelatihan ini dirancang sebagai upaya dalam meningkatkan pengetahuan serta keterampilan masyarakat penggerak komunitas dalam mengelola media sosial dan fotografi. Hasil dari kegiatan ini adalah keterlibatan aktif dari anggota komunitas Sederek Eco Bhinneka, peserta memiliki kemampuan dan keterampilan dalam mengelola unggahan di media sosial serta teknik fotografi yang mudah dan bagus. Kegiatan IbM ini dilaksanakan dengan metode penyuluhan serta pendampingan. Kata kunci: Komunitas, Pelatihan media sosial dan fotografi, Sederek Eco Bhinneka.
Lao’ Ilu Elung (Laut adalah kehidupan): Eksplorasi pengalaman kebahagiaan Masyarakat Pesisir Suku Bajo Uswatun Hasanah; Anshor Putra; Muh Alifuddin; Ahmed Hussein Zangana; Fatmah Bagis
JURNAL ILMIAH EDUNOMIKA Vol 8, No 1 (2024): EDUNOMIKA
Publisher : ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29040/jie.v8i1.13195

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman kebahagiaan pada komunitas masyarakat pesisir Suku Bajo. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan fenomenologi deskriptif yang berupaya melihat bagaimana partisipan memaknai peristiwa-peristiwa dalam kehidupan mereka. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara terhadap masyarakat Bajo yang tersebar di beberapa daerah. Peserta berasal dari tiga daerah berbeda yaitu masyarakat Bajo Mola, masyarakat Bajo Lamanggau, dan masyarakat Kepulauan Bajo di Banggai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman kebahagiaan erat kaitannya dengan pemenuhan dan aktualisasi dari identitas diri sebagai orang laut atau masyarakat Bajo yang memiliki ciri khas fisik dan sosial yang berbeda dari masyarakat lain, menjalankan ritual budaya yang juga tradisi meminta perlindungan oleh roh laut adalah jalan untuk mencapai kebahagiaan, dan “Lao ilu elung” (laut adalah kehidupan) merupakan tema utama yang menggambarkan makna kebahagiaan bahwa laut dan masyarakat suku Bajo adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Rekomendasi penelitian selanjutnya menggali secara spesifik terkait stereotip dan identitas diri yang membentuk konsep kebahagiaan serta integrasinya terhadap penerapan pendidikan berbasis nilai lokal di masyarakat Bajo. Keywords: Fenomenologi, Masyarakat pesisir, Pengalaman kebahagiaan, & Suku Bajo. Abstract: This research aims to explore the experience of happiness in the coastal communities of the Bajo Tribe. This research was conducted using a descriptive phenomenological approach, which attempts to see how participants interpret events in their lives. Data collection was carried out through interviews with the Bajo community spread across several regions. Participants came from three different areas, namely the Bajo Mola community, the Bajo Lamanggau community, and the Bajo Islands community in Banggai. The results of this research show that the experience of happiness is closely related to the fulfillment and actualization of one's identity as a sea person or Bajo community who have physical and social characteristics that are different from other communities; carrying out cultural rituals, which are also a tradition of asking for protection from sea spirits, is the way to achieve happiness; and "Lao ilu elung" (the sea is life) are the main themes that describe the meaning of happiness. The sea and the Bajo people are two entities that cannot be separated. Recommendations for further research explore specifically the stereotypes and self-identities that shape the concept of happiness and their integration into the implementation of local value-based education in Bajo society. Keywords: Coastal communities, Experiences of happiness, the Bajo tribe, & Phenomenology
Efforts to Reduce Employee Deviant Behavior in Islamic Educational Institutions Fatmah Bagis; Astika Nurul Hidayah; Abid Yanuar Badharudin; Uswatun Hasanah; Mega Aprillia Pratamasari
JURNAL ILMIAH EDUNOMIKA Vol 8, No 3 (2024): EDUNOMIKA
Publisher : ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29040/jie.v8i3.14665

Abstract

This research explores the factors that influence employees' tendencies to engage in deviant behavior in the workplace and contribute to its creation. This research aims to determine the influence of workplace behavior on organizational commitment, spirituality, ethical leadership, organizational justice, and job satisfaction, using a social exchange theory framework. This research uses a sampling method as a non-random sampling method based on samples selected for statistical analysis. The respondents used in this research were 232 employees of the Islamic University of Purwokerto City. The research uses hardfiles and softfiles (Google forms) for data collection. Data collection was carried out using a Likert Scale-based questionnaire and tested using the Smart PLS application. The findings show that although workplace spirituality and organizational commitment have a direct negative impact on workplace deviant behavior, this relationship is not statistically significant. On the other hand, Job Satisfaction and Organizational Justice have a negative but significant effect on conservation behavior in the workplace. Additionally, there is a weak but positive relationship between workplace deviant behavior and ethical leadership. Keywords: Workplace Deviance Behavior, Islamic Instittution, Workplace Spirituality, Ethical Leadership.
Dari Edukasi ke Aksi: Eco Bhinneka sebagai model pengabdian masyarakat berbasis kolaborasi lintas iman untuk keberlanjutan lingkungan Uswatun Hasanah; Ana Utami Zainal; Lufki Nurlaila Hidayati; Lia Karisma Saraswati; Isnatul Chasanah; Windarti Windarti; Hanifa Kasih Surahman; Ariati Dina Puspitasari
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i1.350

Abstract

Krisis ekologis global dan meningkatnya polarisasi sosial menuntut pendekatan pengabdian masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada solusi teknis, tetapi juga memperkuat kohesi sosial dan nilai keberlanjutan. Artikel ini bertujuan menganalisis dampak Program Eco Bhinneka sebagai model pengabdian masyarakat berbasis kolaborasi lintas iman dan lingkungan di lima wilayah dampingan: Banjarmasin, Bandung, Jakarta Timur, Jambi, dan Banyumas. Program ini menggunakan pendekatan community-based participatory approach yang mengintegrasikan edukasi lingkungan, aksi kolektif, dan penguatan kepemimpinan perempuan muda. Data dikumpulkan melalui analisis situasi awal, pre-test dan post-test, observasi partisipatif, refleksi peserta, serta monitoring dan evaluasi program. Hasil menunjukkan peningkatan literasi ekologis peserta, perubahan perilaku pro-lingkungan, serta penguatan kohesi sosial lintas iman melalui aksi bersama seperti bank sampah, penghijauan, eco enzyme, budikdamber, dan kampanye digital. Dari perspektif teoretis, program ini mengintegrasikan environmental peacebuilding, faith-based environmentalism, transformative learning, dan ekofeminisme dalam satu praktik pengabdian yang kontekstual dan transformatif. Eco Bhinneka terbukti efektif dalam menghubungkan keberlanjutan ekologis dengan perdamaian sosial serta pemberdayaan perempuan muda. Model ini berpotensi direplikasi sebagai strategi pengabdian masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan dalam konteks multikultural Indonesia. The global ecological crisis and increasing social polarization demand community engagement approaches that move beyond technical solutions and actively strengthen social cohesion and sustainability values. This article analyzes the impact of the Eco Bhinneka Program as a community engagement model based on interfaith collaboration and environmental action across five assisted regions in Indonesia: Banjarmasin, Bandung, East Jakarta, Jambi, and Banyumas. The program adopts a community-based participatory approach that integrates environmental education, collective action, and the empowerment of young women’s leadership. Data were collected through baseline situational analysis, pre- and post-tests, participatory observation, participant reflections, and program monitoring and evaluation. The findings indicate significant improvements in participants’ ecological literacy, pro-environmental behavioral changes, and strengthened interfaith social cohesion through collaborative initiatives such as community waste banks, tree planting, eco-enzyme production, small-scale urban aquaculture (budikdamber), and digital environmental campaigns. Theoretically, the program synthesizes environmental peacebuilding, faith-based environmentalism, transformative learning, and ecofeminism into a contextual and transformative model of community engagement. Eco Bhinneka demonstrates that interfaith environmental collaboration can simultaneously promote ecological sustainability, social peace, and young women’s empowerment. The model holds strong potential for replication as an inclusive and sustainable community engagement strategy in multicultural contexts such as Indonesia.