Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KOMUNIKASI DAKWAH PENYULUHAN AGAMA ISLAM MELALUI KREDIBILITAS SUMBER BIDANG PENGENTASAN BUTA HURUF AL-QUR’AN DAN BIMBINGAN HAJI UMROH DI KECAMATA DRIYOREJO GRESIK Mohammad Rofiq
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 3 No. 01 (2023): Maret
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v3i01.639

Abstract

Seorang mad’u akan lebih mudah dipersuasi apabila sumber-sumber persuasinya cukup kredibel. Semakin tinggi kredibel komunikator (baca: penyuluh agama Islam), maka akan semakin mudah memengaruhi cara pandang mad’u. Seringkali seseorang akan lebih percaya dan cenderung menerima dengan baik pesan-pesan yang disampaikan oleh orang yang memiliki kredibilitas di bidangnya. Ustadzah Yoeli sebagai penyuluh agama Islam bidang pengentasan buta huruf Al-Qur’an dan bimbingan haji dan umroh di Kecamatan Driyorejo Kabupaten Gresik terdapat tiga bentuk. (1) Bentuk Pathos, yaitu kekuatan Ustadzah Yoeli dalam mengendalikan emosi mad’u atau penerima pesan; (2) Bentuk Ethos, yaitu kekuatan karakter Ustadzah Yoeli. Maksudnya kekuatan karakter yang dimiliki Ustadzah Yoeli, sehingga pesan yang disampaikannya bisa dipercaya; (3) Bentuk Logos, yaitu kekuatan Ustadzah Yoeli dalam beragumentasi. Maksudnya kekuatan yang dimiliki Ustadzah Yoeli melalui argumentasinya dalam menyampaikan dakwahnya secara benar dan rasional. Kesuksesan dakwah penyuluh agama Islam tidak hanya berdasarkan pada kredibilitas sumber saja. Akan tetapi juga bergantung pada metode yang diterapkan dalam mengajak mad’u. Materi yang baik namun tidak dibarengi dengan metode yang tepat, maka kegiatan komunikasi dakwah tersebut tidak akan optimal. Sebaliknya materi yang baik dan dibarengi dengan metode yang tepat, maka kegiatan komunikasi dakwah tersebut akan optimal, serta tujuan dakwah akan tercapai dengan baik. Keyword: Kredibilitas, Pathos, Ethos, Logos.
Komunikasi Pembelajaran Fikih Ibadah melalui Demonstrasi Berbasis Video Step-by-Step dalam Meningkatkan Keterampilan Praktik Wudhu dan Sholat Peserta Didik Mohammad Rofiq; Mashfufatur Rohmah; Sayidatur Rohmah
An-Nahdloh: Journal of Education and Islamic Studies Vol. 1 No. 4 (2026): September 2026
Publisher : An-Nahdloh: Journal of Education and Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islamic jurisprudence (fiqh al-'ibadah) learning requires students not only to understand Islamic legal concepts but also to perform acts of worship correctly in accordance with Islamic teachings. Therefore, instructional communication plays a crucial role in connecting knowledge transmission with the development of practical skills. This study aims to analyze the instructional communication process in Islamic jurisprudence learning through step-by-step video-based demonstrations, examine the interaction patterns between teachers and students, and explain their contribution to students' ablution (wudhu) and prayer (shalat) practice skills. This study employed a qualitative approach using a library research design by reviewing scholarly articles, academic books, and other relevant scientific sources, particularly those published between 2021 and 2026. The collected data were analyzed using content analysis and thematic analysis to identify major themes and synthesize previous research findings. The results indicate that instructional communication is implemented through six interconnected stages: learning orientation, conceptual explanation, video-based demonstration, guided practice, feedback, and reflection. The interaction pattern is characterized as dialogic, interactive, collaborative, and multimodal through the integration of verbal communication, visual media, nonverbal cues, and direct practice. Furthermore, instructional communication contributes to strengthening conceptual understanding, improving psychomotor skills, and fostering the internalization of Islamic values in students' worship practices. This study concludes that instructional communication serves as an integrative component that determines the effectiveness of step-by-step video-based demonstrations in Islamic jurisprudence learning. These findings provide a conceptual foundation for developing more innovative, interactive, and practice-oriented instructional strategies in Islamic Religious Education.   Keywords: Instructional Communication; Islamic Jurisprudence Learning; Demonstration Method; Step-By-Step Video; Practical Skills
Teori Exchange (Hubungan Guru dan Murid dalam Pendidikan Agama) Alfin Camelia; Mohammad Rofiq; Maftuh
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 4 No. 1 (2026): February : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v4i1.1012

Abstract

Artikel ini mengkaji relevansi dan keterbatasan Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory) dalam memahami hubungan antara guru dan peserta didik dalam Pendidikan Agama Islam (PAI). Teori Pertukaran Sosial memandang interaksi sosial sebagai suatu proses pertukaran yang didasarkan pada perhitungan antara ganjaran (reward) dan biaya (cost), yang dapat digunakan untuk menganalisis motivasi, partisipasi, dan kepatuhan dalam konteks pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), yang bersumber dari buku, artikel jurnal, serta berbagai referensi ilmiah yang relevan dengan Teori Pertukaran Sosial dan pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan guru dan peserta didik dalam PAI mencerminkan unsur-unsur pertukaran sosial, di mana guru memberikan pengetahuan, bimbingan, dan keteladanan, sedangkan peserta didik memberikan perhatian, kepatuhan, serta partisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Ganjaran seperti nilai, pujian, dan pemahaman terhadap nilai-nilai keagamaan, serta biaya berupa kedisiplinan, usaha belajar, dan pengendalian diri, memengaruhi motivasi awal peserta didik dalam mempelajari PAI. Namun demikian, penelitian ini juga mengungkap bahwa Teori Pertukaran Sosial memiliki keterbatasan dalam konteks pendidikan Islam, karena teori ini menekankan perhitungan rasional dan kepentingan pribadi. Pendidikan Islam lebih mengutamakan keikhlasan, pembentukan akhlak, serta pengabdian kepada Allah SWT sebagai tujuan utama. Oleh karena itu, Teori Pertukaran Sosial dapat berfungsi sebagai kerangka analisis pendukung, tetapi tidak dapat dijadikan sebagai landasan utama dalam memahami tujuan dan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam.