Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PEREMAJAAN PERTANAMAN KAKAO DENGAN KLON UNGGUL MELALUI TEKNIK SAMBUNG SAMPING (SIDE-CLEFT-GRAFTING) Jermia Limbongan
AgroSainT Vol 1 No 2 (2010)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen Indonesia Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47178/agro.v1i2.351

Abstract

Perkembangan luas areal tanaman kakao di Indonesia dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan, sedangkan rata-rata produktivitas per satuan luas baru mencapai 840 kg per ha per tahun. Hal ini disebabkan antara lain karena bibit yang ditanam oleh petani tidak diketahui asal usul keturunannya. Selain itu sebagian besar tanaman kakao sudah berumur tua. Teknik sambung samping dengan klon unggul dapat digunakan untuk meningkatkan kembali produktivitas tanaman tersebut tanpa harus membongkarnya. Teknik ini mudah dilaksanakan di tingkat petani, bahan-bahan yang digunakan (entres, kantong plastik, pisau okulasi, gunting pangkas, tali rafiah) relatif mudah diperoleh, tidak merusak tanaman, dan tingkat keberhasilan sambungan bisa mencapai 93,4%. Selain itu biaya produksi untuk pengadaan bibit dan penanaman jika dilakukan penyambungan tanaman lama tidak diperlukan sehingga biaya produksi berkurang dan pendapatan yang diperoleh lebih tinggi. Hasil biji kering dapat ditingkatkan menjadi 2.340 kg/ha/tahun.
UJI ADAPTASI BEBERAPA VARIETAS PADI DATARAN TINGGI DI SULAWESI SELATAN Jermia Limbongan
AgroSainT Vol 2 No 1 (2011)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen Indonesia Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47178/agro.v2i1.376

Abstract

Padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas strategis yang berperan penting dalam perekonomian dan ketahanan pangan nasional dan menjadi basis untuk revitalisasi pertanian. Sulawesi Selatan sebagai salah satu lumbung pangan nasional perlu melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan produktivitas padi yang sampai saat ini baru mencapai rata-rata 4,7 ton per hektar. Salah satu upaya adalah mengembangkan padi dataran tinggi dengan melakukan uji adaptasi padi pada beberapa daerah dataran tinggi.Penelitian dilakukan di tiga lokasi yaitu Rantepao (kabupaten Toraja Utara), Malino, dan Bajeng (kabupaten Gowa) dengan menguji 12 varietas dan kultivar yaitu Basmati 370-IRRI, Basmati 370-Original , Basmati 370-Sukamandi , HSPR, IMPARI 3, IMPARI 4, Khao Dawk Mali, Milky Rice, Mentik Wangi, Sinta Nur, Singkoang (Fatmawati), dan IPB 117-E-Rp-2-1, disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Hasil pengkajian menunjukkan varietas Basmati,Inpari, Sinta Nur dan Singkoang adalah varietas yang cepat berbunga, namun dari segi jumlah anakan produktif yang paling banyak adalah HSPR, Milky Rice, dan Basmati 370 Sukamandi. Produksi yang tertinggi dihasilkan dari HSPR sebesar 4,7-5,7 ton GKG perha namun hasil tersebut tidak berbeda nyata dengan hasil Mentik Wangi, Inpari 3, Inpari 4, Sinta Nur, Singkoang, dan IPB 117-ERp-2-1.
Penentuan Dosis Pupuk Tanaman Padi Sawah Berdasarkan Hasil Analisis Tanah Jermia Limbongan
AgroSainT Vol 3 No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen Indonesia Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47178/agro.v3i1.617

Abstract

Tanah merupakan salah satu dari beberapa faktor penentu sistem produksi tanaman yang dapat bervariasi dari suatu tempat dengan tempat yang lainnya atau bahkan dapat bervariasi dari suatu waktu ke waktu yang berikutnya. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan analisis tanah di laboratorium dan berdasarkan hasil analisis tersebut ditentukan dosis pemupukan N,P,K yang sesuai untuk pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah tadah hujan. Penelitian penentuan dosis pupuk tanaman padi sawah berdasarkan hasil analisis tanah dilaksanakan dalam bentuk survey dan pengambilan contoh tanah komposit di Kebun Percobaan Luwu, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, yang berlangsung Maret – Desember 2010. Hasil analisis tanah di laboratorium menunjukkan bahwa tanah sawah tadah hujan di KP. Luwu mengandung nitrogen sebesar 0,12% (sangat rendah), P2O5 sebesar 19 mg/100 g (rendah) dan K2O sebesar 7 mg/100 g (rendah). Berdasarkan hasil analisis tanah tersebut maka kebutuhan pupuk SP36 adalah 100-125 kg/ha, KCl 100-125 kg/ha (jika jerami tidak dikembalikan) dan 50 kg KCl/ha jika jerami dikembalikan ke dalam lahan sawah serta Urea sebesar 250 kg/ha. Dengan dosis tersebut terjadi peningkatan hasil padi dari 4,5 ton/ha pada MT1 menjadi 5,2 ton/ha pada MT2 dan pada MT3 diperoleh hasil padi sebesar 7,29 ton/ha.
Pengkajian Pola Penerapan Inovasi Pertanian Spesifik Lokasi Tanaman Kakao Di Sulawesi Selatan Jermia Limbongan
AgroSainT Vol 3 No 2 (2012)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen Indonesia Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47178/agro.v3i2.626

Abstract

Pelaksanaan program pembangunan perkebunan di Sulawesi Selatan telah dilaksanakan dalam berbagai bentuk kegiatan antara lain Program Nasional yang dikenal “Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (Prima Tani). Program lainnya adalah Gerakan Peningkatan Produsi dan Mutu Kakao Nasional (Gernas), program ini berlangsung dari 2009-2011, yakni peremajaan, rehabilitasi dan intensifikasi. Untuk mengetahui pola distribusi dan penerapan inovasi dan faktor penentu keberhasilan distribusi inovasi setelah program tersebut dilaksanakan beberapa tahun, telah dilakukan pengkajian pola penerapan inovasi pertanian spesifik lokasi tanaman kakao di kabupaten Luwu dan Luwu Utara pada tahun 2011. Kegiatan ini dilaksanakan dengan menggunakan metode survei dengan memilih 20 orang responden di setiap lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan masyarakat tani di kedua lokasi masih rendah. Hal ini berimplikasi pada kepala rumah tangga sebagai pengambil keputusan usahatani akan sulit menerima inovasi teknologi. Kehidupan petani masih perlu ditingkatkan karena masih kurang diberdayakan Teknologi yang diprioritaskan pada kegiatan peremajaan di Luwu adalah pemangkasan disusul penggunaan pupuk NPK, sedangkan di Luwu Utara adalah penggunaan pohon pelindung dan pemupukan NPK. Untuk kegiatan rehabilitasi teknologi yang diprioritaskan di Luwu adalah sambung samping dan penggunaan entres klon unggul, sedangkan di Luwu Utara adalah teknologi sambung pucuk dan sambung samping. Delapan puluh persen petani mengatakan penyuluh, aparat daerah dan peneliti merupakan pendorong utama bagi mereka untuk menerapkan teknologi dan sekitar 20 % petani menerapkan teknologi atas inisiatif sendiri. Pada kegiatan rehabilitasi ternyata penggunaan entres asal klon unggul sudah diadopsi dengan baik oleh petani setempat yaitu dengan skala peniruan sangat tinggi masing-masing 46,4% dan 60,3%. Komponen teknologi sambung samping dan sambung pucuk sudah sangat memasyarakat di kedua kebupaten tersebut. Untuk kegiatan intensifikasi, komponen teknologi pengendalian OPT mempunyai skala peniruan yang tinggi (30-36,6%), sedangkan sanitasi dan panen sering mempunyai skala peniruan yang sangat tinggi (16-20%).
Kajian Pola Distribusi Dan Analisis Dampak Penerapan Inovasi Teknologi Jagung Pada Lahan Kering Di Sulawesi Selatan Jermia Limbongan
AgroSainT Vol 3 No 3 (2012)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen Indonesia Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47178/agro.v3i3.637

Abstract

Jagung sabagai komoditas tanaman pangan dan bahan baku industri semakin penting perannya. Dalam beberapa tahun terakhir proporsi penggunaan jagung oleh industri pakan telah mencapai 50% dari total kebutuhan nasional. Penelitian dilakanakan di Kabupaten Jeneponto dan Bone Sulawesi Selatan, pada Bulan Maret-Desember 2011. Menggunakan metode survei dengan melakukan wawancara terhadap 40 petani responden tiap kabupaten. Wawancara dilakukan juga terhadap informan kunci baik pada instansi terkait maupun pada tokoh masyarakat. Penelitian mencakup tiga aspek yaitu (1) pola distribusi inovasi teknologi; (2) spill over teknologi; dan (3) kajian dampak inovasi terknologi. Sekunder diperoleh dari dinas pertanian provinsi dan distan masing-masing kabupaten, BPS, Ketahanan Pangan, dan kantor desa. Menggunakan Analisis deskriptif untuk mengkaji secara mendalam hal apa yang mempengaruhi pola distribusi teknologi di Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) komponen teknologi yang diadopsi petani yaitu penggunaan varietas, benih bermutu/berlabel, populasi tanaman, hama penyakit, pengolahan lahan, dan panen tepat waktu; (b) Penggunaan varietas merupakan komponen teknologi tertinggi yang ditiru oleh petani lain dengan skala peniruan tinggi 56,2% di Kabupaten Bone dan 62,1 di Kabupaten Jeneponto; (c) di kabupaten Bone dan Jeneponto terjadi spillover antar kecamatan yang disebabkan karena kesamaan biofisik dan kesamaan agroekosistem; (d) spillover teknologi terjadi dengan dominasi petani di luar kelompok dalam satu desa yang sama, dan petani desa tetangga dalam satu kecamatan yang sama; (e) Produktivitas jagung sebelum penerapan inovasi teknologi 3,5 t/ha, dan setelah penerapan inovasi teknologi mencapai 6,2 t/ha atau terjadi peningkatan produktivitas 2,7 t/ha dan tingkat pendapatan bersih mencapai Rp. 7,05 juta per hektar.
PENERAPAN TEKNOLOGI SAMBUNG SAMPING, SAMBUNG PUCUK, DAN PEMBUATAN PUPUK ORGANIK PADA TANAMAN KAKAO DI PROPINSI SULAWESI SELATAN Jermia Limbongan
AgroSainT Vol 5 No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen Indonesia Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47178/agro.v5i2.667

Abstract

Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah pengembangan kakao yang cukup luas, mencapai 256.348 ha terdapat pada 21 kabupaten di antaranya Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Bone, dan Soppeng. Produktivitas yang dicapai di daerah ini masih cukup rendah (kurang dari 600 kg per ha per tahun) disebabkan oleh kegiatan para petani kakao yang mendatangkan benih yang tidak jelas asal keturunannya antara lain dari Jawa, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Kalimantan. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan komoditas kakao di Sulawesi Selatan terutama tanaman kakao yang telah ditanam selama bertahun-tahun tidak menghasilkan buah Selain itu sebagian besar tanaman kakao sudah berumur lebih dari 20 tahun sehingga tidak produktif lagi. Tanaman kakao yang tidak produktif tersebut dapat direhabilitasi menggunakan teknologi sambung samping, sambung pucuk. Selain itu pemupukan organik merupakan suatu hal yang penting melalui pemanfaatan limbah tanaman menggunakan decomposer untuk mepercepat proses dekomposisi. Agar petani dapat menerapkan teknologi-teknologi tersebut dengan baik, perlu ada pendampingan dari peneliti/penyuluh baik melalui berbagai media komunikasi maupun melalui demplot dimana petani bisa melihat dan terlibat langsung dalam proses adopsi teknologi tersebut.
Pengkajian Polatanam IP-300 Padi Di Sulawesi Selatan Jermia Limbongan
AgroSainT Vol 2 No 3 (2011)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen Indonesia Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47178/agro.v2i3.699

Abstract

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas lahan sawah ialah melalui pelaksanaan IP padi 300. Keberhasilan pelaksanaan IP300 padi harus didukung oleh ketersediaan varietas unggul genjah, pembuatan pesemaian yang dapat menghasilkan bibit yang baik, pemupukan berimbang, penerapan pengendalian orgamisme penggannggu tanaman (OPT) secara terpadu, penggunaan sistem tanam dan pengolahan tanah yang sesuai. Pengkajian dilaksanakan bulan Maret sampai Desember 2010 di lahan sawah irigasi semi teknis di KP. Luwu, kabupaten Luwu Utara. Kegiatan ini dirancang dengan menggunakan kombinasi metode survey, kegiatan lapang dan metode diseminasi. Tujuan pengkajian adalah untuk mendapatkan paket teknologi spesifik lokasi yang efisien dan efektif serta dapat diadopsi petani melalui Pengkajian polatanam IP-300 padi pada Lahan Sawah Irigasi Semi Teknis di Sulawesi Selatan. Hasil yang dicapai dari pengujian beberapa komponen teknologi ialah bahwa pertumbuhan varietas Impari 1 pada MT2dan Inpari 7 pada MT3 cukup baik. Penanaman MT1 menggunakan pola petani, sedangkan MT2 dan MT3 dilakukan introduksi teknologi. Produksi yang dicapai pada MT1, MT2, dan MT3 berturut-turut 4,48 ; 5,20, dan 7,29 ton GKP per ha . Selama tiga kali penanaman terjadi peningkatan biaya input pada MT2 dibanding MT1 namun terjadi penurunan 5,4% (target 10%) pada MT3 dibanding MT2. Walaupun hasil gabah yang diperoleh dari tiga musim tanam hanya sebesar 16,97 ton per ha, namun diperkirakan target sebesar 21 ton per ha dapat dicapai pada tahun kedua atau ketiga. Perkiraan ini didasarkan pada hasil gabah sebesar 7,29 ton/ha yang dicapai pada MT3, yang kalau angka tersebut dianggap rata-rata, maka produksi setahun dapat mencapai 21,78 ton/ha.
Pengaruh Pemupukan Organik dan Anorganik Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman padi di Lahan Sawah Semi Intensif, Sulawesi Selatan Jermia Limbongan
AgroSainT Vol 2 No 3 (2011)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen Indonesia Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47178/agro.v2i3.701

Abstract

Sulawesi Selatan yang merupakan lumbung pangan nasional tetap berupaya untuk meningkatkan produksi beras sehingga bisa mencapai surplus sebesar 2 juta ton tahun 2012 mendatang. Untuk mencapai rencana tersebut maka salah satu cara yang dapat dilakukan adalah penggunaan pupuk organik dan anorganik untuk meningkatkan produksi padi. Pengkajian pemupukan organik dan anorganik telah dilakukan di KP. Luwu, Bone-Bone, Sulawesi Selatan mulai Oktober – Desember 2010 dengan menguji lima perlakuan yaitu : A= kompos (4 t/ha) + pupuk cair 4 liter/ha, B= Kompos (4 t/ha) + Setengah dosis rekomendasi pupuk anorganik, C= Kompos (4 t/ha) + Dosis rekomendasi pupuk anorganik , D= Dosis Rekomendasi Pupuk Anorganik (200 kg/ha Urea + 100 kg/ha Ponska) dan diulangi empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk organik dalam bentuk kompos dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman padi khususnya tinggi tanaman pada umur 2 bulan, namun tidak berpengaruh terhadap jumlah anakan. Selanjutnya hasil pengamatan produksi gabah menunjukkan penggunaan pupuk organik dapat secara nyata meningkatkan hasil padi menjadi 7,29 ton GKG per hektar dengan perolehan pendapatan sebesar Rp. 9.067.000,- per hektar.