Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam strategi pengembangan kompetensi karyawan dalam menghadapi transformasi organisasi pada industri jasa di Indonesia, yang berlangsung di tengah fenomena ketidaksesuaian keterampilan (skills mismatch) dan disrupsi digital pada era Industri 4.0. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus intrinsik. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap 12 informan kunci yang terdiri atas manajer sumber daya manusia, supervisor, dan karyawan lini depan, disertai observasi partisipatif selama 12 jam serta telaah dokumentasi program SDM pada dua perusahaan jasa di wilayah Jabodetabek dan Surabaya dalam periode Januari hingga Juni 2026. Proses analisis data mengacu pada model interaktif Miles dan Huberman, dengan penerapan triangulasi metode untuk memastikan validitas temuan. Hasil penelitian mengungkap tiga tema utama, yaitu: (1) dinamika transformasi berbasis hybrid yang menuntut penguasaan kompetensi hibrida yang menggabungkan aspek teknis dan empati; (2) efektivitas strategi pengembangan yang adaptif, terutama melalui mentoring antar rekan kerja dan blended learning; serta (3) keberadaan hambatan budaya yang bersifat hierarkis, yang dapat diatasi melalui praktik “gotong royong digital” sehingga mendorong peningkatan kemampuan adaptasi karyawan hingga 40%. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan memperluas kerangka Competency-Based HRM melalui integrasi dimensi budaya Indonesia, sekaligus mengisi kesenjangan dalam literatur kualitatif yang selama ini didominasi oleh pendekatan kuantitatif. Secara praktis, hasil penelitian ini merekomendasikan kepada manajer sumber daya manusia untuk memprioritaskan mentoring yang kontekstual sebagai strategi utama pengembangan kompetensi. Pada tataran kebijakan, temuan ini mendukung perlunya integrasi kompetensi hibrida dalam kurikulum vokasi nasional.