Irwan Baadilla
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Bentuk Pranikah Dalam Novel 172 Days (Kajian Sastra Islam) Nuri Kamal; Irwan Baadilla
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 10 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v10i3.4133

Abstract

Berdasarkan fenomena yang terjadi saat ini, kalangan masyarakat banyak yang melakukan hubungan pacaran yang tidak sesuai dengan syariat islam Tujuan penelitian ini yakni untuk mengetahui proses pranikah dalam novel 172 Days melalui proses ta’aruf dapat membantu memahami sebuah konsep pernikahan dalam islam untuk memberikan perspektif baru tentang hubungan manusia serta pentingnya mempersiapkan diri secara spiritual sebelum menikah, sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan hasil dideskripsikan. Hasil dari penelitian ini yakni pertama melibatkan orang ketiga, peneliti menemukan keterlibatan orang tua, paman, dan saudara kandung dalan proses taaruf. Kedua pertemuan terbatas, terdapat silaturahmi dari kedua keluarga calon pasangan. Ketiga komunikasi terbatas, terdapat komunikasi antara calon pasangan yang dilakukan lewat media sosial. Keempat diskusi masa depan, terdapat diskusi mengenai nama panggilan antara calon pasangan jika sudah melangsungkan pernikahan. Kelima transparansi dan kejujuran, terlihat dari keterbukaan dan kejujuran untuk menyampaikan niat baiknya dalam melakukan proses taaruf. Terakhir doa dan istikharah yang terdapat dalam novel 172 Days karya Nadzira Shafa menggambarkan kegiatan berdoa dan salat istikharah yang dilakukan oleh tokoh.
Rekonstruksi Makna Kejujuran akademik Mahasiswa: Studi Penggunaan ChatGPT dalam Perspektif Etika Islam Heni Ani Nuraeni; Irwan Baadilla; Ahmad Hidayatullah; Rokhmani Rokhmani; Siti Kodariah
Nusantara: Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Lembaga Sosial Rumah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62491/njpi.2026.v6i3-14

Abstract

Purpose – This study aims to analyze the level of ChatGPT usage, examine students’ perceptions of academic honesty in its use from an Islamic ethics perspective, and reconstruct the meaning of academic honesty in the era of Generative Artificial Intelligence (AI).Methods – This study used a sequential explanatory mixed-methods design. Quantitative data were gathered through questionnaires from 150 PBSI and PGSD students at Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA, followed by in-depth interviews with 10 students. The qualitative data were analyzed using thematic analysis. Findings – The results indicate that the level of ChatGPT usage among students was high (80.0%). Students’ perceptions of academic honesty in using ChatGPT were also categorized as high (74.8%), with the highest scores found in the dimensions of amanah (trustworthiness) (84.8%) and academic responsibility (84.2%). In contrast, lower scores were observed in AI-use transparency (57.8%), originality of work (64.8%), and ?idq (truthfulness) (66.2%). Qualitative findings revealed a reconstruction of the meaning of academic honesty, shifting from honesty as complete independence toward honesty as responsible and transparent use of technology.Research Implications – This study was limited to students from two programs at one university. Its findings underscore the need to strengthen AI literacy, academic ethics, and institutional AI policies grounded in Islamic values: ?idq, amanah, mas’uliyyah, ihsan, and adab.