Damianus Suryo Pranoto
Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

REFLEKSI FILOSOFIS DAN TEOLOGI KEBEBASAN MANUSIA DALAM PERSPEKTIF ARMADA RIYANTO Damianus Suryo Pranoto
Jurnal Reinha Vol 14 No 2 (2023)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v14i2.281

Abstract

Fokus tulisan ini ingin menguraikan tentang kebebasan manusia sebagai makhluk peziarah. Maksudnya, bagaimana manusia dalam memahami dan merefleksikan eksistensi dan esensi dalam hidupnya yang bertujuan untuk menyatakan makna eksistensi seseorang sebagai subyektif “aku bertindak”, dalam artian keberadaan seseorang yang mampu menciptakan makna hidup melalui sikap-sikap kemanusiaan seperti peduli, membantu, menolong, dan bertanggung jawab bahkan memampukan diri rela berkorban demi orang lain. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif berdasarkan literatur buku yang menitikberatkan pada tindakan manusia sebagai makhluk rasional dan sensitivitas terhadap kehidupan dan metode konsep filosofis juga digunakan, diungkapkan melalui refleksi pribadi terkait kebebasan manusia dalam berelasi dengan sesamanya serta membahas konsep-konsep filosofis seperti eksistensi manusia, kebebasan, jiwa, tubuh, dan tujuan hidup. Dengan demikian tulisan ini membahas eksistensi manusia dari segi tubuh dan jiwa, menjelaskan dualitas yang ada dalam manusia yang menyoroti kebebasan subyektif, di mana kebebasan dipahami sebagai tanggung jawab yang membutuhkan kesadaran akan nilai moral masing-masing individu. Oleh karena itu, kebebasan manusia ingin menunjukkan pemaknaan hidup dalam relasi dengan sesamanya dengan menyadari tanggung jawab moralnya sebagai suatu landasan mencapai kesempurnaan diri.
ETIKA KOMUNIKASI NEW MEDIA SEBAGAI UPAYA TANGGUNG JAWAB TERHADAP LIYAN DALAM PERSPEKTIF EMMANUEL LEVINAS Damianus Suryo Pranoto; Fransiskus Xaverius Eko Armada Riyanto
Jurnal Reinha Vol 16 No 1 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i1.391

Abstract

Media digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga menciptakan ruang yang rentan terhadap disinformasi. Transformasi ini menciptakan ruang interaksi yang cepat dan terbuka, tetapi juga melahirkan tantangan etis berupa ujaran kebencian, disinformasi, dan dehumanisasi. Tulisan ini membahas etika komunikasi new media sebagai bentuk tanggung jawab terhadap liyan dalam perspektif Emmanuel Levinas. Tujuannya ialah menganalisis bagaimana prinsip etika Levinas dapat diterapkan dalam komunikasi digital untuk merespons kehadiran liyan sebagai subjek yang menuntut tanggung jawab etis. Tulisan ini memakai metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan hermeneutika. Penulis menafsirkan pemikiran Levinas tentang fenomenologi wajah sebagai dasar komunikasi yang bermoral. Maka, langkah pembahasannya akan dimulai dengan menguraikan konsep liyan dan tanggung jawab etis dalam pemikiran Levinas, kemudian menghubungkannya dengan praktik komunikasi di media sosial. Levinas menekankan bahwa kehadiran liyan, baik secara fisik maupun virtual, menuntut respons moral yang menghargai martabat manusia. Karena itu, tulisan ini mau menegaskan etika Levinasian dalam konteks media digital, menawarkan perspektif alternatif untuk mengatasi degradasi nilai etika di ruang virtual bahwa kesadaran dari individu akan bertanggung jawab terhadap liyan yang menjadikan dasar untuk membangun interaksi digital lebih manusiawi dan bermartabat. Jadi, etika komunikasi dalam new media bukan hanya teknik, melainkan sikap eksistensial mengutamakan hormat dan kepedulian terhadap sesama.
REFLEKSI FILOSOFIS DAN TEOLOGI KEBEBASAN MANUSIA DALAM PERSPEKTIF ARMADA RIYANTO Damianus Suryo Pranoto
Jurnal Reinha Vol 14 No 2 (2023)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v14i2.281

Abstract

Fokus tulisan ini ingin menguraikan tentang kebebasan manusia sebagai makhluk peziarah. Maksudnya, bagaimana manusia dalam memahami dan merefleksikan eksistensi dan esensi dalam hidupnya yang bertujuan untuk menyatakan makna eksistensi seseorang sebagai subyektif “aku bertindak”, dalam artian keberadaan seseorang yang mampu menciptakan makna hidup melalui sikap-sikap kemanusiaan seperti peduli, membantu, menolong, dan bertanggung jawab bahkan memampukan diri rela berkorban demi orang lain. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif berdasarkan literatur buku yang menitikberatkan pada tindakan manusia sebagai makhluk rasional dan sensitivitas terhadap kehidupan dan metode konsep filosofis juga digunakan, diungkapkan melalui refleksi pribadi terkait kebebasan manusia dalam berelasi dengan sesamanya serta membahas konsep-konsep filosofis seperti eksistensi manusia, kebebasan, jiwa, tubuh, dan tujuan hidup. Dengan demikian tulisan ini membahas eksistensi manusia dari segi tubuh dan jiwa, menjelaskan dualitas yang ada dalam manusia yang menyoroti kebebasan subyektif, di mana kebebasan dipahami sebagai tanggung jawab yang membutuhkan kesadaran akan nilai moral masing-masing individu. Oleh karena itu, kebebasan manusia ingin menunjukkan pemaknaan hidup dalam relasi dengan sesamanya dengan menyadari tanggung jawab moralnya sebagai suatu landasan mencapai kesempurnaan diri.
ETIKA KOMUNIKASI NEW MEDIA SEBAGAI UPAYA TANGGUNG JAWAB TERHADAP LIYAN DALAM PERSPEKTIF EMMANUEL LEVINAS Damianus Suryo Pranoto; Fransiskus Xaverius Eko Armada Riyanto
Jurnal Reinha Vol 16 No 1 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i1.391

Abstract

Media digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga menciptakan ruang yang rentan terhadap disinformasi. Transformasi ini menciptakan ruang interaksi yang cepat dan terbuka, tetapi juga melahirkan tantangan etis berupa ujaran kebencian, disinformasi, dan dehumanisasi. Tulisan ini membahas etika komunikasi new media sebagai bentuk tanggung jawab terhadap liyan dalam perspektif Emmanuel Levinas. Tujuannya ialah menganalisis bagaimana prinsip etika Levinas dapat diterapkan dalam komunikasi digital untuk merespons kehadiran liyan sebagai subjek yang menuntut tanggung jawab etis. Tulisan ini memakai metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan hermeneutika. Penulis menafsirkan pemikiran Levinas tentang fenomenologi wajah sebagai dasar komunikasi yang bermoral. Maka, langkah pembahasannya akan dimulai dengan menguraikan konsep liyan dan tanggung jawab etis dalam pemikiran Levinas, kemudian menghubungkannya dengan praktik komunikasi di media sosial. Levinas menekankan bahwa kehadiran liyan, baik secara fisik maupun virtual, menuntut respons moral yang menghargai martabat manusia. Karena itu, tulisan ini mau menegaskan etika Levinasian dalam konteks media digital, menawarkan perspektif alternatif untuk mengatasi degradasi nilai etika di ruang virtual bahwa kesadaran dari individu akan bertanggung jawab terhadap liyan yang menjadikan dasar untuk membangun interaksi digital lebih manusiawi dan bermartabat. Jadi, etika komunikasi dalam new media bukan hanya teknik, melainkan sikap eksistensial mengutamakan hormat dan kepedulian terhadap sesama.
the Merangkaikan Diri Di Padang Pastoral Digital: Kaum Muda Berkatakese Di Tengah Tantangan Hidup Menggereja Damianus Suryo Pranoto; Oktovianus Son
Vox Dei: Jurnal Teologi dan Pastoral Vol 4 No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Ekumene Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46408/vxd.v4i2.443

Abstract

Digital technology has brought a significant impact to the way young people interact and develop their identities. In this context, young people's digital pastoral care is often faced with challenges that can affect identity and behavior, can have both negative and positive impacts. Digital technology can be a means to help someone in being creative or developing, especially in pastoral care or proclaiming faith. The method used was qualitative by conducting interviews to investigate the views of Catholic youth on the use of digital technology in a religious context. The result is that when young people immerse themselves in the digital world, it becomes a tangible manifestation of how spirituality can synergize with technology, forming an inclusive platform where faith and daily life complement each other.