Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Efektivitas Terapi dan Kejadian Tidak Dikehendaki Penggunaan Regimen Pengobatan Jangka Pendek pada MultiDrug-Resistant Tuberculosis: a Scoping Review Yunilistianingsih - Yunilistianingsih; Vitarani Dwi Ananda Ningrum
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 20 No 2 (2023): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/jfi.v20i2.1970

Abstract

The increase in Multidrug-resistant Tuberculosis (MDR-TB) is a global problem that must be addressed immediately. Duration of treatment, adverse events (ADRs) and medical costs can affect adherence and treatment success. This literature review was conducted to review the effectiveness and ADRs of short-term regimens (STR) in MDR-TB patients. We used PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar to retrieve the relevant original articles on MDR-TB treatment with STR in English-language, published from 2018 through 2022. The keywords used in the search for articles are "multi-drug-resistant tuberculosis", "short regimens" or "short-term regimens", effectiveness, safety" or "adverse events". Of the 13 articles obtained, the all-oral regimen proved promising for implementation in the treatment of MDR-TB. Based on sputum conversion, cure rate, and percentage of patients who completed treatment, the regimen with the highest therapeutic effectiveness was 6KmMfxPtoCfzHEZ/5MfxCfzEZ at 92.9%, and the lowest was 4KmMfxPtoCfzHEZ/5MfxCfzEZ at 63.6%. The all-oral regimen with or without Bedaquilin showed a better average therapeutic effectiveness (87.04%) than regimen containing injection (78.43%). Meanwhile, the serious ADRs that emerged were death, cardiotoxicity, hepatotoxicity and ototoxicity. Apart from monitoring the safety, research needs to be expanded to a larger population and wider sites, to find more effective regimens because Mycobacterium tuberculosis are easily resistant.
Tingkat Pengetahuan dan Kepedulian Masyarakat tentang Keamanan Penggunaan Kosmetik: Scoping Review Rahma Sakti Oktavia Rahma; Vitarani Dwi Ananda Ningrum; Okti Ratna Mafruhah
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 22 No. 02 Desember 2025
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kosmetovigilans adalah praktik penting untuk menjamin keamanan penggunaan kosmetik di masyarakat. Di Indonesia, peran ini diemban oleh lembaga seperti BPOM, tetapi efektivitasnya bergantung pada pengetahuan, perspektif, dan sikap masyarakat dalam melaporkan efek samping serta memilih produk yang aman. Scoping review ini bertujuan menganalisis tingkat pengetahuan masyarakat tentang kosmetovigilans dan mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan dan faktor-faktor yang memengaruhi kesadaran masyarakat terhadap kosmetovigilans. Scoping review dilakukan dengan pencarian literatur dari PubMed, Science Direct, dan Google Scholar menggunakan kata kunci knowledge of cosmetovigilance, awareness of cosmetic safety, public understanding cosmetovigilance, Factors Influencing Public Awareness of Cosmetovigilance. Artikel yang dipilih adalah studi yang membahas pengetahuan atau kesadaran masyarakat tentang kosmetovigilans, studi dalam bahasa Inggris atau Indonesia, dan studi yang diterbitkan dalam 5 tahun terakhir. Review ini menunjukkan kesenjangan antara kesadaran dan tindakan konsumen terkait keamanan kosmetik di berbagai wilayah. Di India, sebanyak 95,11% responden menyadari efek samping kosmetik, namun hanya 68,43% memahami konsep ‘keamanan kosmetik’. Sementara itu, di Arab Saudi, 74% responden menggunakan tabir surya, tetapi hanya 16% yang melakukannya secara rutin. Selain itu, 16,1% wanita melaporkan efek samping kosmetik. Di Sri Lanka, banyak mahasiswa mengalami jerawat dan alergi akibat kosmetik yang tidak sesuai. Adapun di Portugal, sebanyak 93% konsumen tidak mengetahui kadar THC yang aman pada produk kosmetik berbasis cannabis. Data ini menunjukkan perlunya edukasi dan regulasi yang lebih baik di berbagai wilayah. Meskipun kosmetik bermanfaat, banyak konsumen kurang sadar akan resikonya. Edukasi, regulasi yang ketat, dan sistem pelaporan yang baik dibutuhkan untuk melindungi konsumen. Kolaborasi pemerintah, industri, dan masyarakat menjamin kosmetik berkualitas.