AbstrakFenomena menurunnya penggunaan bahasa daerah di Sumatera Selatan, khususnya di Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, menjadi tantangan serius dalam upaya pelestarian identitas budaya lokal. Bahasa daerah seperti Melayu Palembang dan Lematang mengalami penurunan penutur akibat dominasi bahasa Indonesia dan berkurangnya transmisi antar generasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran guru mengenai pentingnya revitalisasi bahasa daerah melalui pendekatan berbasis cerita rakyat sebagai media edukatif dan kultural di sekolah. Mitra kegiatan adalah para guru SMP se-Kecamatan Lawang Kidul sebanyak 30 orang yang berperan sebagai agen pelestarian bahasa daerah di lingkungan pendidikan. Metode pelaksanaan dilakukan melalui sosialisasi dan ceramah interaktif, disertai pemutaran video cerita rakyat lokal seperti Antu Ayek dan Si Pahit Lidah. Kegiatan ini juga menampilkan diskusi reflektif mengenai strategi revitalisasi bahasa daerah melalui empat aspek utama: keluarga, integrasi muatan lokal, media cerita rakyat, dan perlombaan budaya. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa tingkat pemahaman guru tertinggi terdapat pada aspek media cerita rakyat dan integrasi muatan lokal masing-masing 30%. Secara keseluruhan, kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan komitmen guru dalam mengimplementasikan pembelajaran berbasis budaya lokal, serta menjadi langkah awal bagi penguatan kebijakan pendidikan yang berpihak pada pelestarian bahasa daerah di Muara Enim. Kata kunci: revitalisasi; bahasa daerah; cerita rakyat; guru. AbstractThe decline in the use of local languages in South Sumatra, particularly in Lawang Kidul Subdistrict, Muara Enim Regency, has become a serious challenge to preserving regional cultural identity. Local languages such as Malay Palembang and Lematang are facing a reduction in native speakers due to the dominance of Indonesian and the weakening of intergenerational transmission. This community service activity aimed to increase teachers understanding and awareness of the importance of local language revitalization through the use of folklore as an educational and cultural medium in schools. The program involved 30 junior high school teachers from Lawang Kidul Subdistrict as partners who play a key role in sustaining local language learning in the education environment. The implementation was carried out through socialization and interactive lectures, accompanied by the screening of local folklore videos such as Antu Ayek and Si Pahit Lidah. The activity also included reflective discussions on four main aspects of revitalization: family involvement, integration into local curricula, the use of folklore media, and language festivals or competitions. The evaluation results showed that teachers highest level of understanding was on the aspects of folklore media and curriculum integration (each 30%). Overall, this activity successfully enhanced teachers knowledge and commitment to implementing culturally based learning and became an initial step toward strengthening educational policies that support the preservation of local languages in Muara Enim. Keywords: revitalization; local language; folklore; teachers