Maria Lousiana
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penerapan Manajemen Cairan pada Pasien DHF dengan Risiko Hipovolemia di RS X Tangerang Selatan Ni Wayan Suryasari; Maria Lousiana
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.13293

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever merupakan infeksi virus dengue yang dapat meningkatkan permeabilitas kapiler, menyebabkan kebocoran plasma, penurunan volume intravaskular, dan risiko hipovolemia. Studi kasus ini bertujuan menggambarkan penerapan manajemen cairan pada pasien dengan Dengue Hemorrhagic Fever yang mengalami risiko hipovolemia melalui perbandingan kondisi klinis dua pasien. Desain yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan pendekatan proses keperawatan pada dua pasien di ruang rawat inap RS X Tangerang Selatan pada Juni 2026. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dokumentasi rekam medis, pemeriksaan laboratorium, serta pemantauan asupan dan keluaran cairan. Intervensi mengacu pada Standar Intervensi Keperawatan Indonesia dan dilaksanakan selama tiga kali dua puluh empat jam. Hasil menunjukkan bahwa pasien pertama mengalami tekanan darah 90/70 mmHg, nadi 102 kali/menit, mukosa kering, turgor menurun, dan hematokrit 40,8%, sehingga pemantauan difokuskan pada stabilitas hemodinamik dan volume intravaskular. Pasien kedua memiliki hemodinamik relatif stabil, tetapi mengalami stomatitis yang menghambat asupan oral, hematokrit 44,4%, serta trombositopenia berat hingga 25.000/mm³ disertai petekie. Setelah intervensi, kondisi klinis dan status hidrasi kedua pasien membaik, dengan keseimbangan cairan positif sebesar +937,5 mL dan +1.105 mL. Kadar trombosit saat pemulangan meningkat menjadi 57.000/mm³ dan 41.000/mm³. Manajemen cairan yang disertai pemantauan hemodinamik, hidrasi, keseimbangan cairan, dan laboratorium membantu mempertahankan volume sirkulasi serta mencegah perburukan hipovolemia. Pendekatan perlu disesuaikan dengan karakteristik klinis setiap pasien.
Penerapan Teknik Pursed Lip Breathing sebagai Upaya Mengurangi Sesak Nafas pada Pasien Asma Bronkial di RS X Tangerang Selatan Deta Puspita Ratih; Maria Lousiana
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.13363

Abstract

Latar Belakang: Asma bronkial merupakan penyakit saluran pernapasan kronis yang menjadi masalah kesehatan global yang signifikan. Karakteristik utamanya meliputi hiperresponsivitas bronkus dan bronkospasme yang bermanifestasi sebagai sesak napas (dyspnea). Penatalaksanaan di rumah sakit umumnya berfokus pada terapi farmakologis, sehingga diperlukan intervensi keperawatan mandiri non-farmakologis seperti teknik Pursed Lip Breathing (PLB) untuk mengontrol sesak secara mandiri. Tujuan: Menganalisis efektivitas penerapan edukasi teknik Pursed Lip Breathing (PLB) dalam mengurangi sesak napas dan memperbaiki status respirasi pada pasien asma bronkial di RS X Tangerang Selatan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif komprehensif pada dua pasien (Ny. R, 27 tahun dan Tn. B, 34 tahun) dengan diagnosis medis asma bronkial yang mengalami eksaserbasi akut di Ruang Perawatan RS X Tangerang Selatan. Masalah keperawatan prioritas yang diangkat adalah pola napas tidak efektif. Implementasi berupa latihan teknik PLB yang diberikan secara bertahap dan berulang selama tiga hari masa perawatan. Hasil: Sebelum intervensi, kedua pasien mengalami sesak napas dengan frekuensi napas 23 x/menit, penggunaan otot bantu napas ringan, serta bunyi napas tambahan wheezing pada fase ekspirasi. Setelah diberikan latihan PLB secara konsisten selama tiga hari, keluhan sesak berkurang, pasien tampak lebih rileks, frekuensi napas menurun menjadi 18-20 x/menit, saturasi oksigen berada pada 95%-98% tanpa oksigen tambahan, dan wheezing menghilang. Kedua pasien juga mampu mendemonstrasikan teknik ini secara mandiri sebelum pulang. Kesimpulan: Teknik Pursed Lip Breathing dapat digunakan sebagai terapi komplementer non-farmakologis yang mendukung terapi medis dalam memperbaiki pola napas, mengurangi sesak napas, dan meningkatkan kemandirian pasien.