Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pemanfaatan Daun Bangun-Bangun sebagai Galaktagog Tradisional Masyarakat Batak Toba Celine Agustina Simorangkir; Gresia Sinaga; Maria Shintauli Panggabean; Regina Anastasia Br Gultom; Yolanda Silvana Marbun; Findi Septiani; Cicik Suryani
Jurnal Pendidikan Kurikulum dan Pembelajaran Vol 1, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jpkp.v1i2.7314

Abstract

Daun bangun-bangun (Coleus amboinicus) adalah tanaman herbal yang digunakan oleh masyarakat Batak Toba sebagai bahan pendukung kesehatan setelah melahirkan, terutama untuk meningkatkan produksi air susu ibu (ASI) secara alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tujuan penggunaan, cara pengolahan, keunggulan, manfaat sehari-hari, serta cara pengenalan daun bangun-bangun dalam tradisi Batak Toba. Penelitian dilakukan di Medan, Sumatera Utara, pada bulan September 2025, dengan metode kualitatif deskriptif-etnografis melalui wawancara semi-struktural dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan tujuan utama adalah meningkatkan produksi ASI hingga 47,4% dalam waktu 4 jam, pengolahan berupa sup tradisional, keunggulan terdapat pada kandungan fenolik dan flavonoid yang lebih tinggi dibandingkan dengan daun kemangi, manfaat rutin mencakup peningkatan kandungan mineral pada ASI dan pertumbuhan berat badan bayi, serta pengenalan secara turun-temurun sejak masa leluhur. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa daun bangun-bangun memiliki peran ganda sebagai bahan pangan fungsional dan warisan budaya yang mendukung pemberian ASI eksklusif.
Studi Etnobotani Minuman Bandrek (Tabbar) Khas Batak Toba Findi Septiani; Anisali Panjaitan; Judika Agnesia Purba; Yolanda Dealova Sihite; Donna Ariesta Sinaga; Ester Tania Monita Silalahi; Adel Dwi Nita Silalahi; Cicik Suriani
Jurnal Pendidikan Kurikulum dan Pembelajaran Vol 1, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jpkp.v1i2.7312

Abstract

Minuman tradisional Tabbar (bandrek khas Batak Toba) merupakan warisan budaya yang masih dikonsumsi secara turun-temurun dan dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan, khususnya sistem ekskresi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai etnobotani Tabbar, proses peracikan tradisional, serta manfaat kesehatannya menurut pengalaman empiris masyarakat Batak Toba. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara semi-terstruktur kepada peramu dan konsumen Tabbar, serta observasi langsung proses pembuatannya. Data dianalisis secara tematik dengan triangulasi untuk memastikan keabsahan informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tabbar diramu dari jahe merah (Zingiber officinale), lada (Piper ningrum), kayu manis (Cinnamomum burmannii), serai (Cymbopogon citratus), lengkuas (Alpinia galanga), cengkeh (Syzygium aromaticum), dan gula merah. Masyarakat meyakini minuman ini dapat melancarkan peredaran darah, memperbaiki metabolisme, membantu pengeluaran zat sisa melalui urin dan keringat, serta mengurangi keluhan pada saluran kemih. Analisis etnobotani menunjukkan adanya kandungan bioaktif seperti gingerol, alkaloid, flavonoid, dan minyak atsiri yang berpotensi mendukung fungsi ginjal dan kesehatan tubuh. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa Tabbar bukan sekadar minuman tradisional, tetapi juga bagian dari identitas budaya Batak Toba yang menyatukan aspek kesehatan, kearifan lokal, dan nilai sosial. Temuan ini membuka peluang penelitian farmakologis lanjutan serta pengembangan Tabbar sebagai produk herbal tradisional dalam kesehatan modern.
INTEGRASI KAJIAN ETNOPEDAGODI DALAM PENDIDIKAN BIOLOGI MELALUI KEARIFAN LOKAL SUKU MELAYU PADA TRADISI TEPUNG TAWAR Findi Septiani
Edukasia Jurnal Pendidikan Vol. 1 No. 3: Januari 2025
Publisher : LPPM Universitas Battuta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan dan budaya merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Pelestarian budaya dapat dilakukan dengan cara mengintegrasikan tradisi-tradisi lokal ke dalam pendidikan. Salah satu nilai kearifan lokal yang masih melekat dalam masyarakat yaitu tradisi Tepung Tawar pada Suku Melayu. Melalui pendekatan etnopedagogi, menawarkan potensi besar untuk mengajarkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui studi kepustakaan. Sumber yang digunakan berupa artikel jurnal, buku, maupun laporan penelitian. Hasil penelitian menyatakan bahwa Tradisi Tepung Tawar memiliki beberapa nilai kearifan lokal seperti nilai kebijaksanaan, nilai sosial, nilai spiritual, dan nilai keseimbangan dengan alam. Selain itu, Tradisi Tepung Tawar menggunakan bahan-bahan seperti dedaunan dalam pelaksanaannya. Maka dari itu, Tradisi Tepung Tawar dapat dijadikan sebagai media untuk memudahkan siswa dalam memahami konsep keanekaragaman hayati dalam pembelajaran Biologi. Dengan demikian, penelitian ini akan mengkaji keterkaitan antara kearifan lokal adat Melayu Tepung Tawar dengan ilmu pendidikan Biologi, terutama dalam hal pemanfaatan tanaman