Ima Arie Wardayanie, Ning
Balai Besar Industri Agro

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Potensi Antibakteri Dari Vinegar Bambu Andong (Gigantochloa pseudoarundinaceae) and Ampel Bamboo (Bambusa vulgaris Scharad var.striata) Ima Arie Wardayanie, Ning; Maria Novelina Sitorus, Yus
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 29, No 02 (2012)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6952.029 KB)

Abstract

Vinegar bambu adalah cairan transparan berwarna coklat kemerahan dengan aroma asap yang diperoleh dari kondensasi asap pada proses karbonisasi (pirolisis) bambu. Vinegar bambu mengandung 80-90% air dan campuran lebih dari 200 bahan organik seperti asam asetat, fenol dan aldehid. Secara umum senyawa tersebut berperan sebagai antimikroba, antioksidan, memberikan efek warna dan cita rasa khas asap pada produk asap.Penelitian ini bertujuan untuk (1) mempelajari proses pembuatan vinegar bambu; (2) mempelajari proses pemurnian vinegar bambu dan karakteristiknya; dan (3) mengetahui potensi antibakteri vinegar bambu yang telah dimurnikan dari bambu andong dan bambu dan bambu ampel. Penelitian ini dibagi menjadi 3 tahap yaitu tahap pembuatan vinegar bambu kasar, pemurnian vinegar bambu dan penentuan potensi antibakteri vinegar bambu.Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pemurnian vinegar bambu dengan metoda penyulingan dapat mengurangi kandungan senyawa berbahaya yang terdapat pada vinegar bambu kasar, terutama komponen tar dan PAH. Vinegar bambu mempunyai kadar BaP dan BaA berkisar antara tidak terdeteksi sampai 10 ppb serta kadar tar berkisar antara 0.1% - 0.4%. Vinegar bambu mempunyai aktivitas antibakteri terutama terhadap Staphylococcus aureus dan Pseudomonas. Hasil uji antibakteri menunjukkan bahwa vinegar dari bambu andong dan ampel dapat menghambat Staphylococcus aureus mulai konsentrasi 5%, sedangkan pada bakteri lain seperti Esherichia coli, Aalmonella dan Pseudomonas lebih efektif pada konsentrasi yang lebih tinggi. Dari hasil pengujian tersebut dapat terlihat bahwa aktivitas antibakteri dipengaruhi oleh kadar asam dan kadar fenol. Semakin tinggi kadar asam dan kadar fenol maka aktivitas antibakteri cenderung semakin besar. Selain itu aktivitas antibakteri juga mungkin dipengaruhi oelh efek sinergisitas asam dan fenol.Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa vinegar bambu yang dimurnikan dengan cara penyulingan, dapat mengurangi kadar tar dan PAH, dan dapat meningkatkan kadar asam dan fenol, yang berperan dalam aktivitas antibakteri. Vinegar yang dipirolisis pada suhu 200 C - 400 C cenderung memilki saktivitas antibakteri yang lebih tinggi.
Pengaruh Suhu dan Waktu Maserasi terhadap Komponen Volatil yang Terlibat pada Ekstraksi Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC) Ramadhani Meutia, Yuliasri; Ima Arie Wardayanie, Ning; -, Rienoviar; Mahardini, Titin; Wirawan, Indera
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 32, No 01 (2015)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.268 KB)

Abstract

Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium) merupakan tanaman rempah khas Sumatera Utara yang banyak digunakan sebagai bumbu masak karena memiliki citarasa yang khas. Selain itu andaliman memiliki beberapa manfaat antara lain sebagai antimikroba, antioksidan dan sebagai immunomodulator. Studi mengenai pengaruh proses ekstraksi terhadap komponen flavor andaliman telah dilakukan, namun belum ada yang melihat pengaruh suhu dan waktu maserasi  terhadap komponen flavor pada ekstrak yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh suhu dan waktu maserasi terhadap komponen volatil yang terlibat di dalamnya. Andaliman diekstrak dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol dan etil asetat (1:1) pada suhu ruang dan pada suhu 40 °C selama 2 jam, 4 jam, dan 6 jam. Hasil ekstraksi dianalisis komponen volatilnya dengan menggunakan GC-MS dilanjutkan dengan analisis komponen aroma yang terdeskripsikan dengan GC-O. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen flavor utama yang dihasilkan dari proses ekstraksi andaliman dengan maserasi menggunakan pelarut etanol: etil asetat (1:1) pada suhu ruang didominasi oleh  senyawa geranyl acetate meskipun setelah 6 jam maserasi terjadi dominasi D-Limonene menggantikan dominasi geranyl acetate. Maserasi pada suhu 40 °C juga menunjukkan geranyl acetate sebagai komponen volatil dominan pada 2 jam maserasi. Setelah 4 jam maserasi 40 °C, citronellol merupakan komponen volatil dominan, sedangkan setelah 6 jam maserasi 40 °C komponen volatil yang dominan adalah D-Limonene diikuti oleh geranyl acetate. Suhu maserasi dan waktu pada proses maserasi yang berbeda dapat menyebabkan perubahan pada komponen flavor yang dominan pada ekstrak andaliman. Namun komponen flavor yang dominan pada GC-MS tersebut tidak menunjukkan aroma yang terdeskripsikan pada GC-O. Aroma yang terdeskripsikan dari sniffing port pada andaliman yang dimaserasi pada suhu ruang bervariasi dari andaliman-like, green, flowery, sour, dan earthy. Sedangkan pada andaliman yang dimaserasi pada suhu 40 °C adalah aroma flowery, green, sweet, and spicy lebih banyak terdeskripsikan. Hal ini dapat menunjukkan bahwa suhu maserasi  dapat mempengaruhi aroma yang terdeskripsikan dengan menggunakan GC-O.