Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Traditional Fermentation Process of Lais Fish (Cryptopterus Bicirrhis) in Butas Bagu Village, Sembakung District, Nunukan District, North Kalimantan Siti Hajar; Novianti Novianti; Harianti Harianti
Jurnal Indonesia Sosial Teknologi Vol. 5 No. 2 (2024): Jurnal Indonesia Sosial Teknologi
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jist.v5i2.915

Abstract

North Kalimantan (Kaltara), the 34th province in Indonesia, with its capital city in Tanjung Selor, has very abundant natural resources (SDA) potential. North Kalimantan has a coastline of 3,515 km, which holds a variety of capture fisheries potential. To find out the traditional fermentation process of Sikalut and Lais (Kryptopterus) fish in Butas Bagu Village. The purpose of this final project is to learn about the traditional fermentation process of lais fish (Cryptopterus Bicirrhis). Starting from Washing 1, Filleting, Disposing of Stomach Contents, Washing II, Draining Water, Salting, Freezing for 24 hours, Adding Cassava Dregs, and Putting Fish in Jars. Traditional fish processing should be done at night; the goal is to prevent flies from landing on the ingredients, and it should be done with caution if the preparations are mixed with other ingredients apart from cassava pulp or rice.
Konservasi dan Pengelolaan Garam Gunung Berkelanjutan di Kecamatan Krayan Selatan: Perspektif Ekologi Dan Keanekaragaman Hayati Jemri Jemri; Harizatul Jannah; Siti Hajar; Efendi Efendi
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 12 (2025): Jurnal Pendidikan Indonesia (Japendi)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v6i12.8986

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan dan konservasi sumber daya garam gunung di Kecamatan Krayan Selatan, Kalimantan Utara, dengan pendekatan ekologi dan keanekaragaman hayati. Garam gunung di wilayah ini memiliki peran penting dalam ekonomi lokal dan budaya masyarakat adat Lundayeh yang mengelola garam dengan metode tradisional. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-method yang menggabungkan survei lapangan kuantitatif, analisis kualitatif melalui Focus Group Discussion (FGD) dengan 25 informan kunci, serta analisis spasial berbasis GIS untuk pemetaan sebaran sumber daya. Hasil penelitian menunjukkan lima temuan utama: (1) identifikasi 12 titik mata air garam dengan karakteristik hidrogeologi berbasis batuan sedimen Karst dan salinitas tinggi (15-25%), (2) keberadaan mikroorganisme halofilik endemik dan vegetasi rawa pegunungan yang sensitif terhadap perubahan ekosistem, (3) praktik pengelolaan tradisional Lundayeh yang memiliki jejak karbon rendah namun menghadapi tekanan modernisasi, (4) kesenjangan antara standar mutu nasional dan metode produksi tradisional, serta (5) ketiadaan mekanisme kelembagaan formal untuk konservasi berkelanjutan. Penelitian ini mengidentifikasi tantangan dan potensi dalam pengelolaan berkelanjutan, dengan mempertimbangkan aspek ekosistem yang mendukung dan keberagaman hayati. Model pengelolaan yang diusulkan bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan pelestarian ekosistem. Penelitian ini memiliki kontribusi terhadap pengembangan model pengelolaan sumber daya alam berbasis kearifan lokal di wilayah perbatasan Indonesia.