Bagus Amirullah
Universitas Al-Amien Prenduan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Acceptance and Commitment Therapy (ACT) dalam Konseling Pesantren: Eksplorasi Pengalaman Santri dalam Menghadapi Experiential Avoidance Heri Fadli Wahyudi; Musyfiquddin; Syaifatul Jannah; Bagus Amirullah
DA'WA: Jurnal Bimbingan Penyuluhan & Konseling Islam Vol. 6 No. 1 (2026): September
Publisher : IAI Miftahul Ulum Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36420/gbqg6204

Abstract

Kecenderungan menghindari pengalaman psikologis yang tidak menyenangkan (experiential avoidance) sering muncul pada remaja dalam situasi yang memunculkan tekanan emosional maupun evaluasi sosial. Di pesantren, kondisi ini dapat memengaruhi keberanian santri dalam berinteraksi, berpartisipasi dalam kegiatan publik serta menghadapi tuntutan akademik. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan konseling yang mampu membantu santri mengelola pengalaman internal secara lebih adaptif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus di Pondok Pesantren Miftahul Huda Pragaan Sumenep, adapun subjek peneliti (konseli) tiga orang santri yang menunjukkan kecenderungan penghindaran terhadap situasi yang memunculkan ketidaknyamanan emosional. Data diperoleh melalui wawancara dan observasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk experiential avoidance yang dialami santri meliputi penarikan diri dari interaksi sosial, kecemasan berbicara di depan umum dan rendahnya kepercayaan diri dalam menghadapi tuntutan performatif. Penerapan enam prinsip dasar ACT, yakni kesadaran saat ini, defusi kognitif, penerimaan, diri sebagai konteks, klarifikasi nilai dan tindakan berkomitmen, menunjukkan adanya perubahan bertahap pada perilaku dan respons emosional konseli. Santri mulai mampu menerima pengalaman internal yang tidak nyaman, mengurangi keterikatan pada pikiran negatif, serta mengambil tindakan yang lebih selaras dengan nilai dan tanggung jawabnya. Secara umum, melalui pendekatan ACT santri yang mengalami experiential avoidance telah menunjukkan adanya perubahan pada psikologis santri yang lebih fleksibel. Oleh karena itu, pendekatan ACT dapat dijadikan sebagai alternatif pendekatan dalam layanan bimbingan dan konseling di pesantren khususnya dalam menangani fleksibilitas psikologis santri, sekaligus menjadi acuan bagi pengembangan program pendampingan psikologis yang lebih kontekstual sesuai dengan karakteristik lingkungan pendidikan Islam.