p-Index From 2021 - 2026
0.882
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Purifikasi
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PHYTOMINING LOGAM Cr, V, DAN Sc YANG DITINGKATKAN SECARA MIKROBIAL : KAJIAN PERAN BIOSTIMULAN INDIGENOUS DALAM PROSES UPTAKE LOGAM OLEH TANAMAN HIAS Muhammad Alif Ramadhani; Bieby Voijant Tangahu; Renaldo Lazuardy; Isni Arliyani
Purifikasi Vol 24 No 1 (2025): Jurnal Purifikasi
Publisher : Department of Environmental Engineering-Faculty of Civil, Planning, and Geo Engineering. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/purifikasi.v24i1.500

Abstract

Red mud yang dihasilkan secara global mencapai angka 4 miliar ton per tahun 2020. Red mud mengandung Cr, V dan Sc yang masuk ke dalam kelompok Rare Earth Elements dengan nilai ekonomis yang tinggi. Phytomining menjadi salah satu solusi untuk menangani limbah red mud dengan mengekstrak logam berharga menjadi bentuk bio-ore. Red mud yang digunakan berasal dari PT Indonesia Chemical Alumina di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Indonesia. Tujuan dari penelitian ini untuk menemukan formulasi yang dapat membuat proses phytomining efektif dan efisien. Tanaman yang digunakan adalah Dracaena fragrans. Media tanam memiliki komposisi 90% red mud dengan 10% pupuk kandang serta penambahan bioaugmentasi Bacillus proteolyticus yang merupakan bakteri indigenous red mud. Penelitian ini dilakukan selama 28 hari, dengan pengambilan data berupa pH dan berat basah dan kering pada hari ke-7, 14, 21 dan 28, serta data pendukung berupa Electrical Conductivity (EC) setiap dua hari sekali. Uji Optical Density (OD) dan Total Plate Count (TPC) dilakukan untuk mengetahui kurva pertumbuhan serta pembentukan koloni B. proteolyticus. Ekstraksi logam pada tanah menggunakan reagen EDTANa2 dan aqua regia, sedangkan pada tanaman menggunakan accelerated wet digestion. Hasil OD menunjukkan B. proteolyticus memiliki fase stasioner di jam ke-4 sampai jam ke-6, dengan pembentukan koloni tertinggi 54.000 CFU/mL. Penurunan pH terjadi akibat aktivitas mikroba dan produksi eksudat oleh akar tanaman. Nilai EC yang menurun mengindikasikan penyerapan ion logam bebas sebagai mikronutrien oleh tanaman. Nilai TF D. fragrans tertinggi pada logam Cr yaitu 8,74 di hari ke-7, sedangkan nilai Translocation Factor (TF) logam V dan Sc dalam jangkauan <1.
APLIKASI PHYTOMINING DENGAN PENDEKATAN TUMBUHAN-MIKROBA UNTUK REMEDIASI LIMBAH REDMUD Faiza Salsabilla; Bieby Voijant Tangahu; Muhammad Althaf Ryan Akmal; Farras Arafi; Isni Arliyani
Purifikasi Vol 24 No 1 (2025): Jurnal Purifikasi
Publisher : Department of Environmental Engineering-Faculty of Civil, Planning, and Geo Engineering. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/purifikasi.v24i1.503

Abstract

Red mud merupakan limbah padat alkalis hasil samping industri pemurnian bauksit. Limbah ini mengandung logam berat seperti kromium (Cr), vanadium (V), dan skandium (Sc) yang bersifat toksik namun juga bernilai ekonomis. Penelitian ini mengkaji pendekatan phytomining berbasis tumbuhan-mikroba untuk meremediasi logam berat dari red mud secara berkelanjutan. Dua jenis tanaman hiperakumulator, Tradescantia pallida dan Philodendron hederaceum, dikombinasikan dengan bakteri Bacillus stercoris dan Chromobacterium piscinae dalam media red mud dan pupuk kandang, untuk menguji efektivitas serapan dan translokasi logam. Penelitian dilakukan selama 28 hari dengan pengukuran parameter biomassa, potential hydrogen (pH), electrical conductivity (EC), serta analisis logam total dan bioavailable menggunakan inductively coupled plasma-optical emission spectroscopy (ICP-OES). Hasil menunjukkan bahwa inokulasi mikroba meningkatkan kepadatan koloni (TPC), pertumbuhan tanaman, serta menurunkan pH dan EC media. T. pallida menunjukkan nilai Translocation Factor (TF) >1 untuk Cr dan V, sedangkan P. hederaceum menunjukkan nilai Bioconcentration Factor (BCF) tinggi untuk Cr (hingga 8,50), mengindikasikan potensi sebagai fitostabilisator. Potensi remediasi untuk Sc masih terbatas karena nilai TF dan BCF <1 pada kedua tanaman. Pendekatan ini menawarkan strategi efektif dan aplikatif dalam pengelolaan red mud berbasis teknologi hijau.
UJI RETANG DOSIS RED MUD SEBAGAI AMANDEMEN TANAH DENGAN KOMBINASI PUPUK KANDANG TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SAWI (Brassica juncea) Natasya Febriani Fauziah; Harmin Sulistiyaning Titah; Bieby Voijant Tangahu; Andriyan Yulikasari; Ervin Nurhayati; Isni Arliyani
Purifikasi Vol 24 No 1 (2025): Jurnal Purifikasi
Publisher : Department of Environmental Engineering-Faculty of Civil, Planning, and Geo Engineering. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/purifikasi.v24i1.504

Abstract

Pemanfaatan red mud (RM), limbah samping hasil pemurnian bauksit yang bersifat sangat basa, memiliki potensi sebagai amandemen tanah dalam kerangka ekonomi sirkular, meskipun penerapannya masih terkendala oleh pH yang tinggi, kandungan natrium, dan potensi toksisitas logam berat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi rentang toleransi Brassica juncea terhadap variasi dosis RM sebagai manademen yang dikombinasikan dengan pupuk kandang. Uji rentang dosis dilakukan dengan variasi RM sebesar 3%, 5%, 10%, 15%, dan 20% yang dicampurkan dengan tanah kebun dan pupuk kandang (rasio 2:1), serta kontrol berupa tanah kebun. Parameter pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah daun, kandungan klorofil, biomassa basah dan kering) serta karakteristik kimia tanah (kandungan nutrien dan logam) diamati selama 14 hari. Hasil menunjukkan bahwa dosis RM hingga 10% masih mendukung kelangsungan hidup tanaman, sementara dosis 15% dan 20% menyebabkan kematian akibat peningkatan kandungan Cr, V, Ni, dan Sc. Dosis 5% menunjukkan kinerja optimal dengan peningkatan tinggi tanaman sebesar 20%, jumlah daun 25%, kandungan klorofil 53%, dan biomassa kering 156% dibanding kontrol. Kombinasi RM dan pupuk kandang secara sinergis meningkatkan ketersediaan hara (N, P, K) sekaligus menjaga kadar logam berat tetap di bawah ambang batas aman FAO/WHO. Studi ini menunjukkan bahwa RM berpotensi dimanfaatkan sebagai amandemen tanah secara berkelanjutan apabila digunakan dalam dosis terkendali dan dikombinasikan dengan bahan organik. Penelitian ini memberikan dasar ilmiah awal untuk mendukung strategi pemanfaatan limbah industri dalam sistem pertanian berbasis ekonomi sirkular.
ANALISA WATER BALANCE LUBANG BEKAS TAMBANG BATU BARA DI BLOK SUSUBANG UKO KABUPATEN PASER Aris Bastian Lahay; Ervin Nurhayati; Isni Arliyani
Purifikasi Vol 24 No 1 (2025): Jurnal Purifikasi
Publisher : Department of Environmental Engineering-Faculty of Civil, Planning, and Geo Engineering. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/purifikasi.v24i1.505

Abstract

Pemanfaatan area lubang bekas tambang batu bara (pit lake) menjadi salah satu strategi pengelolaan pascatambang yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi hidrologi dan kualitas air pit lake di Blok Susubang Uko, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Metode yang digunakan meliputi analisis teknis yang terdiri dari hidrologi, hidrogeologi, keseimbangan air (water balance), serta uji laboratorium terhadap kualitas air. Selain itu, dilakukan analisis kelayakan finansial dengan pendekatan Net Present Value (NPV), Benefit-Cost Ratio (BCR), Internal Rate of Return (IRR) dan Payback Period. Berdasarkan hasil pengujian kualitas air pada sepuluh titik pemantauan di wilayah Susubang Uko, dapat disimpulkan bahwa nilai pH di semua titik berada dalam kisaran netral (7,5–7,8), suhu seragam (22°C), BOD < 2 mg/L, COD < 10 mg/L, dan coliform total < 50 MPN/100 ml—semuanya berada dalam batas aman bahkan untuk standar kelas 1 menurut PP No. 22 Tahun 2021. Namun parameter DO (Dissolved Oxygen) hanya berkisar antara 4,1–4,8 mg/L, belum memenuhi standar kelas 1 (≥6 mg/L), tetapi masih sesuai untuk kelas 2 (≥4 mg/L). Sedangkan, nilai TSS (Total Suspended Solid) berkisar antara 83–180 mg/L, melampaui batas kelas 1 dan 2 (≤50 mg/L), sehingga hanya sesuai untuk kelas 3 atau 4. Dengan mempertimbangkan seluruh parameter tersebut, maka kualitas air sungai di area Susubang Uko secara keseluruhan paling sesuai dikategorikan sebagai kelas 3 cocok digunakan untuk keperluan pertanian atau perikanan.
DOXYCYCLINE PHOTOCATALYTIC DEGRADATION USING MESOPOROUS CARBON NITRIDE (MCN) UNDER VISIBLE LIGHT Azzahra Hanggararas Sasdika; Ervin Nurhayati; Isni Arliyani; Muchammad Tamyiz; Adhi Yuniarto; Yu Syuan Liou; Checia Hu
Purifikasi Vol 25 No 1 (2026): Journal Purifikasi
Publisher : Department of Environmental Engineering-Faculty of Civil, Planning, and Geo Engineering. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/purifikasi.v25i1.541

Abstract

Antibiotic contamination in aquatic environments has become a global concern due to its potential contribution to antimicrobial resistance and adverse impacts on aquatic ecosystems. Photocatalysis using carbon nitride-based semiconductor materials has emerged as a promising approach for the removal of antibiotic pollutants. This study aimed to evaluate the performance of Mesoporous Carbon Nitride (MCN) for the degradation of DOX under visible-light irradiation at initial concentrations of 0.5, 5, 20, and 50 mg/L. Photocatalytic experiments were conducted in a laboratory-scale reactor equipped with a magnetic stirrer to maintain solution homogeneity. DOX concentration was determined using UV–Vis spectrophotometry, while ammonia (NH₃-N) analyses were performed to investigate compound transformation during the degradation process. The results demonstrated that both irradiation time and initial DOX concentration significantly influenced the degradation performance. The highest degradation efficiency was achieved at an initial concentration of 50 mg/L, reaching 36.51% after 150 min of visible-light irradiation, whereas the degradation efficiency at 20 mg/L was 12.29%. Degradation rate analysis revealed maximum values of 0.103 mg L⁻¹ min⁻¹ and 0.514 mg min⁻¹ g⁻¹ at 50 mg/L. Changes in ammonia concentration indicated that the photocatalytic process not only promoted DOX degradation but also facilitated the transformation of nitrogen-containing compounds during the reaction. Meanwhile, the apparent negative degradation efficiencies observed at 0.5 and 5 mg/L were attributed to analytical limitations associated with UV–Vis measurements at low concentrations. These findings demonstrate the potential of MCN as a visible-light-responsive photocatalyst for the treatment of antibiotic-contaminated wastewater.