Bambang Sugiyanto
Universitas Sains Al-Qur’an

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membangun Toleransi Beragama Siswa Di Sd Negeri 1 Buntu Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo Karin Nurlaeli; Robingun Suyud El Syam; Bambang Sugiyanto
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 3 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v3i2.6631

Abstract

Indonesia sebagai negara multikultural memiliki tantangan dalam menjaga keharmonisan kehidupan beragama di tengah keberagaman keyakinan. Pendidikan dasar menjadi fase strategis dalam menanamkan nilai toleransi beragama sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran guru Pendidikan Agama Islam dalam membangun sikap toleransi beragama peserta didik di lingkungan sekolah dasar multireligius. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan lokasi penelitian di SD Negeri 1 Buntu, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Subjek penelitian meliputi guru Pendidikan Agama Islam, kepala sekolah, peserta didik kelas IV–VI, dan wali murid. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Islam memiliki peran yang komprehensif sebagai pendidik, pembimbing, teladan, motivator, dan pengelola kelas dalam menanamkan nilai toleransi beragama. Nilai toleransi diintegrasikan dalam pembelajaran akhlak, kisah Nabi Muhammad SAW, ayat Al-Qur’an, dan hadis, serta diperkuat melalui pembiasaan, keteladanan, dan kerja sama antara sekolah dan orang tua. Sikap dan respons peserta didik menunjukkan kecenderungan positif, tercermin dalam perilaku saling menghargai, tidak melakukan perundungan berbasis agama, serta mampu berinteraksi secara harmonis dengan teman yang berbeda keyakinan. Penelitian ini menegaskan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang bersifat holistik dan kontekstual berkontribusi signifikan dalam membangun karakter toleransi beragama pada peserta didik sekolah dasar.
Teachers’ Strategies In Managing Learning For Early Childhood Students From Diverse Religious Backgrounds At Tk Kalibening 2 Wonosobo Khusnul Musyarofah; Bambang Sugiyanto; Robingun Suyud El Syam
Jurnal E-MAS (Edukasi dan Pembelajaran Anak Usia Dini) Vol. 2 No. 2 (2026)
Publisher : FKIP UNSULTRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64690/e-mas.v2i2.771

Abstract

This study was motivated by the religious diversity among students at TK Kalibening 2 Wonosobo, which requires teachers to implement inclusive learning practices and foster tolerance from an early age. The study aimed to analyze teachers’ strategies in managing learning activities involving children from different religious backgrounds. This research employed a qualitative approach with a descriptive design. The research subjects consisted of the principal, teachers, and parents. Data were collected through observation, interviews, and documentation. Data validity was ensured through source and technique triangulation, while data analysis followed the Miles and Huberman model, including data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings revealed that teachers implemented habituation, role modeling, collaborative play, storytelling, singing, and question-and-answer activities to promote tolerance among children. Learning activities were planned through inclusive and general approaches that accommodated students from different religious backgrounds. During Islamic religious activities, non-Muslim students were provided with alternative activities under teacher supervision. The main challenges included teachers’ limited knowledge of non-Muslim religions, the lack of diversity-based learning training, and young children’s limited understanding of religious differences. These challenges were addressed through communication with parents, teacher supervision, and simple explanations regarding religious diversity. The study found that tolerance can be effectively developed through daily interactions, habituation, and inclusive learning experiences. The novelty of this research lies in its focus on teachers’ strategies for managing learning in an early childhood classroom with students from different religious backgrounds. The findings contribute to the development of multicultural and inclusive education practices in early childhood education.
PERAN PETANI KENTANG UNTUK MENANAMKAN JIWA MANDIRI PADA ANAK USIA DINI DI DESA BANARAN WONOSOBO Bambang Sugiyanto; Robingun Suyud El Syam; Maulidya Anggraeni Puspita Asri
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.10271

Abstract

ABSTRACT This study is motivated by the importance of fostering independence from an early age as a foundation for children’s character development, particularly within farming families that have unique life dynamics. The family environment of potato farmers in Banaran Village, Wonosobo, provides contextual learning experiences through daily activities. This study aims to describe the role of potato farmers in instilling independence in early childhood and to identify the supporting and inhibiting factors. The study employs a qualitative approach with a case study design. The research subjects are potato farming families with children aged 3–6 years, supported by informants such as PAUD teachers and community leaders selected through purposive sampling. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and analyzed using data reduction, data display, and conclusion drawing, with validity ensured through triangulation. The results show that the role of farmers is not limited to economic fulfillment but also shapes family life patterns that instill values of discipline, responsibility, hard work, initiative, and perseverance through modeling and habituation. Children are accustomed to being independent in daily activities and are also involved in simple farming tasks. Supporting factors include consistent habituation, an active family environment, and a culture of mutual cooperation, while inhibiting factors include limited parental time, differences in children’s characteristics, and a lack of awareness of stimulative parenting. In conclusion, the role of potato farmers is strategic in shaping early childhood independence. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penanaman kemandirian sejak usia dini sebagai dasar pembentukan karakter anak, khususnya dalam keluarga petani dengan dinamika kehidupan khas. Lingkungan keluarga petani kentang di Desa Banaran, Wonosobo, memberikan pengalaman belajar kontekstual melalui aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran petani kentang dalam menanamkan kemandirian anak usia dini serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian adalah keluarga petani kentang yang memiliki anak usia 3–6 tahun, dengan informan pendukung guru PAUD dan tokoh masyarakat yang dipilih secara purposive. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan serta diuji dengan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran petani tidak hanya pada pemenuhan ekonomi, tetapi juga membentuk pola hidup keluarga yang menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, kerja keras, inisiatif, dan ketekunan melalui keteladanan dan pembiasaan. Anak dibiasakan mandiri dalam aktivitas sehari-hari serta terlibat dalam kegiatan pertanian sederhana. Faktor pendukung meliputi pembiasaan konsisten, lingkungan keluarga aktif, dan budaya gotong royong, sedangkan hambatan meliputi keterbatasan waktu orang tua, perbedaan karakter anak, dan kurangnya kesadaran pengasuhan. Dengan demikian, peran petani kentang bersifat strategis dalam membentuk karakter mandiri anak usia dini.