Faidah Azuz
Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Bosowa

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Strategi Pengembangan Pengusaha Kopra Di Kecamatan Tomoni Timur Wayan Suardana; Faidah Azuz; Suryawati Salam
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 1 No. 1 (2023): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Januari 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coconut is a copra-producing plant that can be developed to offset palm cooking oil. This study aims to 1) determine the copra development strategy, 2) analyze the condition of the strengths and weaknesses factors as well as the conditions of the opportunities and threats factors in copra business development. The method used in this research is qualitative. 6 main informants (people) who are copra entrepreneurs in Tomoni Timur District. Data obtained through in-depth interviews. This study resulted in 1). The most appropriate strategy to apply is good copra quality and prospective long-term potential. 2), IFAS internal strategy in the form of strengths and weaknesses obtained a value of 2.61, which consists of 1.96 strengths (Strenghts) and 0.65 weaknesses (Weaknes). This condition shows that internally the development of the copra business is still very good to be developed. The EFAS External Strategy in the form of opportunities and threats obtained a total score of 2.25 consisting of 1.59 scores for Opportunities and 0.66 scores for Threats. This condition illustrates that externally, development in the copra business includes business good to develop. Kelapa merupakan tanaman penghasil kopra yang dapat dikembangan untuk mengimbangi minyak goring kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui strategi pengembangan kopra, 2) menganalisis kondisi faktor kekuatan dan kelemahan serta kondisi faktor peluang dan ancaman dalam pengembangan usaha kopra. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu  kualitatif. Informan utama 6 (orang) yang merupakan pengusaha kopra yang ada di Kecamatan Tomoni_Timur. Data diperoleh melalui wawancara mendalam.  Kajian ini menghasilkan 1). Strategi yang paling tepat diterapkan yaitu kualitas kopra yang baik dan potensi jangka panjang masih prospektif. 2), Strategi internal IFAS berupa kekuatan dan kelemahan diperoleh nilai sebesar 2,61, yang terdiri dari 1,96 kekuatan (Strenghts) dan 0,65 kelemahan (Weaknes). Kondisi ini menunjukan bahwa secara internal pengembangan pada usaha kopra  masih sangat baik untuk dikembangkan. Strategi Eksternal EFAS berupa peluang dan ancaman total skor yang diperoleh sebesar 2,25 yang terdiri dari 1,59 skor peluang (Opportunities) dan, 0,66 skor untuk ancaman (Threats) kondisi ini menggambarkan bahwa secara eksternal, pengembangan pada usaha kopra termasuk usaha yang baik untuk dikembangkan.
Kajian Tentang Pendapatan Penyadap Getah Pinus Intan Kristiani Datumawana; Suryawati Salam; Faidah Azuz
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 1 No. 1 (2023): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Januari 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pine sap is a non-timber forest product produced from tapping pine trees which can provide many benefits, especially economically to tappers. This study aims to determine the income and socio-economic characteristics of pine resin tapping households. Determination of the sample in this study was taken 20% of the number of each population of pine resin tappers, namely as many as 111 tappers so that a sample of 22 pine resin tappers was obtained. Data collection techniques used are observation and interviews. The analytical method used is income analysis and qualitative descriptive. The results of this study indicate that the average total revenue is Rp. 14,504,901.82 with an average cost of Rp. 1,715,454.55 so that an average income of Rp. 12,789,447.27/year is obtained and the socio-economic characteristics of household tappers include age, level of education, type of work , and income. This proves that the income derived from tapping pine resin is not inferior to other businesses and can certainly improve people's welfare. Getah pinus merupakan produk hasil hutan bukan kayu yang dihasilkan dari penyadapan pohon pinus yang mana dapat memberikan banyak manfaat khususnya secara ekonomi kepada penyadap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan serta karakteristik sosial ekonomi rumah tangga penyadap getah pinus. Penentuan sampel dalam penelitian ini diambil 20% dari jumlah tiap populasi penyadap getah pinus yaitu sebanyak 111 penyadap sehingga diperoleh sampel sebanyak 22 penyadap getah pinus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Metode analisis yang digunakan adalah analisis pendapatan dan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa total penerimaan rata-rata sebesar Rp. 14.504.901,82 dengan biaya rata-rata sebesar Rp.1.715.454,55 sehingga diperoleh pendapatan rata-rata sebesar Rp.12.789.447,27/tahun serta karakteristik sosial ekonomi rumah tangga penyadap meliputi umur, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan pendapatan. Hal ini membuktikan bahwa pendapatan yang diperoleh dari kegiatan menyadap getah pinus tidak kalah dengan usaha-usaha lainnya dan tentunya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Persepsi Petani Terhadap Peranan Penyuluh Pertanian Dalam Pengembangan Kelompok Tani Padi Sawah Muh. Fitrah Hamzah; Faidah Azuz; Aylee Christine Alamsyah Sheyoputri
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 3 No. 2 (2025): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v3i2.4240

Abstract

Farmers' perceptions of the role of agricultural extension workers are crucial to the success of rice farming groups. The purpose of this study was to determine farmers' opinions on the role of agricultural extension workers in the development of rice farming groups. To achieve this objective, the study was conducted in Belapunranga Village, Parangloe Subdistrict, Gowa Regency, involving 135 farmers. The research data was collected using the Likert scale technique. Based on the analysis using the Likert scale, it can be concluded that farmers' perceptions of the role of agricultural extension workers in Belapunranga Village are categorized as satisfactory. Farmers are satisfied with the knowledge and guidance provided by agricultural extension workers. Persepsi petani terhadap peranan penyuluh pertanian sangat menentukan keberhasilan pengembangan kelompok tani padi sawah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pendapat petani terhadap peranan pernyuluh pertanian dalam pengembangan kelompok tani padi sawah. Untuk memenuhi tujuan tersebut, maka penelitian ini dilakukan di Desa Belapunranga, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa dengan melibatkan 135 petani. Data penelitian ini menggunakan teknik skala likert. Hasil penelitian ini berdasarkan analisis menggunakan skala likert maka dapat disimpulkan bahwa persepsi petani terhadap peranan penyuluh pertanian di Desa Belapunranga dikategorikan memuaskan. Petani merasa puas dengan layanan pengetahuan dan pendampingan yang ddiberikan oleh penyuluh pertanian.
Minat Petani Padi Terhadap Penggunaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Di Desa Abbanuangnge, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng Widia Astuti; Faidah Azuz; Aylee Christine Alamsyah Sheyoputri
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 1 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Januari 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i1.4777

Abstract

This study aims to determine the interest of rice farmers in the use of people's business credit and the use of people's business credit in rice farming. This study was conducted in Abbanuangnge Village, Lilirilau District, Soppeng Regency. The research sample used was 20% of the population, namely 76 people consisting of farmers who used and did not use people's business credit using the simple random sampling method. The analysis method used is descriptive qualitative. The types of data used in this study are qualitative and quantitative data. The results of this study indicate that the interest of rice farmers in the use of people's business credit is influenced by factors such as age, education level, number of family members, length of farming, land area, income, knowledge and access. The use of people's business credit in rice farming is utilized well in accordance with the objectives proposed, namely to purchase inputs, invest in modern agricultural equipment and technology. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui minat petani padi terhadap penggunaan kredit usaha rakyat pada usahatani padi. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Abbanuangnge, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng. Sampel penelitian yang digunakan adalah 20% dari jumlah populasi yaitu 76 orang yang terdiri dari petani yang menggunakan dan tidak menggunakan kredit usaha rakyat dengan menggunakan metode simple random sampling. Metode analisis yang digunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa minat petani padi terhadap penggunaan kredit usaha rakyat dipengaruhi oleh faktor umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, lama berusahatani, luas lahan, pendapatan, pengetahuan dan akses. Penggunaan kredit usaha rakyat pada usahatani padi dimanfaatkan dengan baik sesuai dengan tujuan diajukan yaitu untuk membeli input, berinvestasi dalam peralatan, dan teknologi pertanian modern.
Analisis Fungsi-Fungsi Pemasaran Pada Pengepul Rumput Laut Di Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan Muh. Khalil Abdillah; Faidah Azuz; Aylee Christine Alamsyah Sheyoputri
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 1 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Januari 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i1.4785

Abstract

The study aims to determine the functions of seaweed marketing in Sanrobone Village.          This research was conducted from July to August 2023. The data collection method was carried out by conducting a location survey and recording the total number of seaweed collectors in Sanrobone village. Respondents in this study were 10 seaweed farmers with the snowball sampling method (purposefully selected) the number of informants was 30% of the population, namely 10 respondents with the consideration that the selected respondents could provide accurate information, especially regarding the implementation of seaweed farming production functions. The results of the study show that in the seaweed marketing channel there are marketing agencies or institutions, both individuals and institutions as parties that organize marketing activities or functions where seaweed products move from producers to consumers. Meanwhile, farmers and collector traders in Takalar Regency also carry out marketing functions in the seaweed marketing flow so that seaweed products can move from producers to customers (wholesalers). Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui fungsi-fungsi pemasaran rumput laut di Desa Sanrobone. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli hingga Agustus 2023. Metode pengumpulan data di lalukan dengan cara melakukan survey lokasi dan mencatat jumlah keseluruhan pengepul rumput laut yang berada di Desa sanrobone, Responden dalam penelitian ini yaitu petani rumput laut sebanyak 10 orang pengepul rumput dengan metode snowball sampling (sengaja dipilih) jumlah narasumber adalah 30% dari jumlah populasi yaitu 10 responden dengan pertimbangan bahwa responden yang dipilih tersebut dapat memberikan informasi yang akurat khususnya yang menyangkut tentang penerapan fungsi-fungsi produksi usahatani rumput laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam saluran pemasaran rumput laut terdapat badan-badan atau lembaga pemasaran, baik perorangan maupun kelembagaan selaku pihak yang menyelenggarakan kegiatan atau fungsi pemasaran yang mana produk rumput laut bergerak dari pihak produsen sampai konsumen; sedangkan petani dan pedagang pengumpul di Kabupaten Takalar juga menyelenggarakan fungsi pemasaran dalam  alur pemasaran rumput laut sehingga produk rumput laut dapat bergerak dari pihak produsen sampai ke pihak pelanggan (pedagang besar).
Penggunaan Modal Sosial Antara Petani Kelapa Dan Pengrajin Kopra Di Desa Bontotangnga, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar Qiqa Maysarah Ramadhani; Faidah Azuz; Aylee Christine Alamsyah Sheyoputri
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 1 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Januari 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i1.4796

Abstract

This study aims to determine use of social capital between coconut farmers and copra craftsmen in Bontotangnga Village, Bontoharu District, Selayar Islands Regency in May 2024. Respondents consisted of 24 coconut farmers and 8 copra craftsmen. The data analysis technique used scoring techniques, the process of determining the score for the respondent's answer which was carried out by making suitable classifications and categories. The results showed that there are three components of social capital used between coconut farmers and copra artisans in Bontotangnga Village, Bontoharu District, Selayar Islands Regency, namely trust, networks, and norms. In terms of trust between farmers and craftsmen, the level of trust is dominant in the category of trust, meaning that farmers trust the craftsmen who work. In terms of network (network), the relationship between farmers to craftsmen have a very good relationship. As for the norms (norms) or the level of obedience shown by farmers to craftsmen included in the obedient category. In terms of trust (trust) craftsmen against farmers, the level of trust (trust) is dominant in the category of very trusting, meaning that craftsmen have a high level of trust in farmers. In terms of network (network) or the relationship that exists between craftsmen to farmers have a very good relationship. As for norms or the level of integrity shown by craftsmen to craftsmen is included in the very obedient category, meaning that craftsmen are very obedient to the rules and orders given by farmers. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan modal sosial antara petani kelapa dan pengrajin kopra di Desa Bontotangnga, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar pada bulan Mei 2024. Responden terdiri dari 24 petani kelapa dan 8 pengrajin kopra. Teknik analisis data menggunakan teknik skoring, proses penentuan skor atas jawaban responden yang dilakukan dengan membuat klasifikasi dan kategori yang cocok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga komponen modal sosial yang digunakan antara petani kelapa dan pengrajin kopra di Desa Bontotangnga, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar yaitu kepercayaan (trust), jaringan (network), dan norma (norms). Dalam hal kepercayaan (trust) petani terhadap pengrajin, tingkat kepercayaan (trust) dominan pada kategori percaya, artinya petani percaya terhadap pengrajin yang bekerja. Dalam hal jaringan (network), jalinan hubungan yang terjalin antara petani terhadap pengrajin memiliki hubungan yang sangat baik. Adapun untuk norma (norms) atau tingkat ketaatan yang ditunjukkan petani terhadap pengrajin termasuk dalam kategori taat. Dalam hal kepercayaan (trust) pengrajin terhadap petani, tingkat kepercayaan (trust) dominan pada kategori sangat percaya, artinya pengrajin memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap petani. Dalam hal jaringan (network) atau jalinan hubungan yang terjalin antara pengrajin terhadap petani memiliki jalinan hubungan yang sangat baik. Adapun untuk norma (norms) atau tingkat ketaatan yang ditunjukkan oleh pengrajin terhadap pengrajin termasuk dalam kategori sangat taat, artinya pengrajin sangat taat terhadap aturan dan perintah yang telah diberikan oleh petani.
Rasionalitas Pilihan Pemasaran Hasil Produksi Kelapa Sawit Di Desa Lereng Kecamatan Pangale Kabupaten Mamuju Tengah Pastika Kusuma Wardana; Faidah Azuz; Suryawati Salam
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 1 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Januari 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i1.4885

Abstract

This study aims to analyze the rationality of marketing choices for palm oil production in Central Mamuju Regency. Using Rational Choice theory, this study explores the factors that influence farmers' decisions in choosing marketing channels for their products. Data were collected through interviews and observations of 35 palm oil farmers selected as samples. The results show that most of farmers prefer to sell their products directly to the factory because of more stable prices and a larger purchasing scale, although a small number still choose to sell through collectors. This choice is driven by the size of land owned as well as price fluctuations and ease of access. These findings provide important insights for policymakers to improve the efficiency of palm oil marketing in this area. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rasionalitas pilihan pemasaran produksi kelapa sawit di Kabupaten Mamuju Tengah. Dengan menggunakan teori Rati'onal Choice, penelitian ini mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam memilih saluran pemasaran untuk hasil produksi. Data Dikumpul melalui wawancara dan observasi terhadap 35 petani kelapa sawit yang dipilih sebagai sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas petani lebih memiIih untuk menjual hasil produksi langsung ke pabrik karena harga yang lebih stabil dan skala pembelian yang lebih besar, meskipun sebagian kecil masih memilih untuk menjual melalui pengepul. Pilihan didorong oleh luas lahan yang dimiliki serta pertimbangan harga dan kemudahan akses. Temuan ini memberikan wawasan penting bagi pengambil kebijakan untuk meningkatkan efisiensi pemasaran kelapa sawit di’ daerah ini.
Penerapan Kearifan Lokal Pada Usaha Tani Padi Di Kelurahan Deri Kecamatan Sesean Kabupaten Toraja Utara Michael Macmarten Koda Werang; Faidah Azuz; Suryawati Salam
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 3 No. 2 (2025): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v3i2.5698

Abstract

Due to the changing times, local wisdom in each region began to fade, but in Deri Village, the farming community still practices or upholds local wisdom in rice farming. This study aims to determine the practical use of this local wisdom in rice farming in Deri Village, Sesean Sub-district, North Toraja Regency. North Toraja Regency. This study aims to determine the practical use of local wisdom in rice farming activities in Deri Village, Sesean Sub-district, North Toraja Regency. This research was conducted in Deri Village, Sesean Sub-district, North Toraja Regency. The informants in this study were determined as many as 15 people consisting of traditional leaders and religious leaders. The data analysis method used in this research is qualitative analysis method. The results showed that the farming community in Deri Village applies local wisdom in rice farming which includes four stages, namely; (1) Pre-Planting Stage which includes:  Ceremony to determine the time to go down the rice field (Medatu) and Ceremony to go down the rice field (Ma' Rara Kalo'); (2) Planting Stage which includes: Making a seeding place (Massukbak Panta'nakan), Planting Rice (Mantanan Pare), Fertilizing and Pest Management; (3) Harvest Stage which includes: Harvesting ceremony (Ma' Rakan for Aluk Todolo) and Rice Harvesting (Mepare); (4) Post-harvesting stage includes: Results and Harvest Thanksgiving. These activities are a form of culture or local wisdom in cultivating paddy rice in Deri Village which is still applied today. The figures involved or play an important role in every implementation of traditional ceremonies or rituals in the application of local wisdom in rice farming in Deri Village, namely: (1). Parandangan Ada' (Customary Leader); (2). Tomina (Prayers); and (3). The local community (both from children to adults/parents). Seiring perkembangan zaman kearifan lokal di setiap daerah mulai memudar, namun di Kelurahan Deri masyarakat petani masih menerapkan atau memegang teguh kearifan lokal dalam berusahatani padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan kearifan lokal setempat dalam usahatani padi di Kelurahan Deri Kecamatan Sesean Kabupaten Toraja Utara. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Deri Kecamatan Sesean Kabupaten Toraja Utara. Sampel atau informan dalam penelitian ini sebanyak 15 orang yang terdiri dari ketua adat dan pemuka agama. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat petani di Kelurahan Deri menerapkan kearifan lokal dalam berusahatani padi yang meliputi empat tahap, yaitu;  (1) Tahap pra tanam yang meliputi:  upacara waktu penentuan turun sawah (Medatu) dan upacara turun sawah (Ma’ Rara Kalo’); (2) Tahap penanaman  yang meliputi: membuat tempat pembenihan (Massukbak Panta’nakan), menanam padi (Mantanan Pare), pemupukan  dan penanganan hama; (3) Tahap panen yang meliputi: upacara penentuan panen (Ma’ Rakan untuk Aluk Todolo) dan panen padi (Mepare); (4) Tahap pasca panen meliputi: hasil dan syukuran panen. Berbagai kegiatan tersebut sebagai bentuk kebudayaan atau kearifan lokal dalam berusahatani padi sawah di Kelurahan Deri yang masih di terapkan sampai sekarang. Tokoh-tokoh yang terlibat atau berperan penting dalam setiap pelaksaan kegiatan upacara atau ritual adat dalam penerapan kearifan lokal pada usahatani padi di Kelurahan Deri yaitu: (1). Parandangan Ada’ (Ketua Adat); (2). Tomina (Pendoa); dan (3). Masyarakat setempat (baik itu dari anak-anak sampai dewasa/orang tua).
Saluran Distribusi Dan Margin Pemasaran Moke Maumere Di Kota Makassar Yohanes Soi; Aylee Christine Alamsyah Sheyoputri; Faidah Azuz
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 3 No. 2 (2025): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v3i2.5704

Abstract

Due to its unique flavor characteristics and deeply held cultural values, moke as a traditional alcoholic beverage not only functions as a drink but also as a symbol of local identity overseas. This causes migrants from Maumere, East Nusa Tenggara who live in Makassar City to always consume Moke from their home place as a medium of bonding and identity. This causes migrants from Maumere, East Nusa Tenggara who live in Makassar City to always consume Moke from their home place as a means of bonding and identity. It is within this context that the study of Moke distribution and marketing finds its relevance. In order to maximize market potential, however, it is important for producers or distributors to understand and manage distribution channels effectively. This study aims to determine the distribution channel model and the amount of Maumere moke marketing margin in Makassar city using quantitative descriptive method. Respondents in this study were 10 moke traders from Maumere in Makassar city. The results showed that the distribution channel of moke maumere in Makassar city showed quite good effectiveness, although it was still faced with several obstacles. A profitable marketing margin of Rp.30,000 / 600ml bottle shows great potential for business development. Karateristik rasa yang unik dan nilai budaya yang dipegang teguh, moke sebagai minuman tradisional beralkohol tidak hanya berfungsi sebagai minuman tetapi juga sebagai simbol identitas daerah (Maumere) di perantauan. Hal ini menyebabkan perantau asal Maumere Nusa Tenggara Timur yang berdomisili di Kota Makassar selalu mengonsumsi Moke dari daerah asal mereka sebagai alat perekat dan identitas. Dalam konteks inilah studi tentang distribusi dan pemasaran Moke menemukan relevansinya. Namun untuk memaksimalkan potensi pasar, penting bagi produsen atau distributor untuk memahami dan mengelola saluran distribusi secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model saluran distribusi dan besarnya margin pemasaran moke maumere di kota Makassar dengan menggunakan metode diskriptif kuantitatif. Informan dalam penelitian ini adalah pedagang moke asal Maumere di kota Makassar yang berjumlah 10 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saluran distribusi moke maumere di kota Makassar menunjukan efektivitas yang cukup baik, meskipun masih dihadapkan pada beberapa kendala. Margin pemasaran yang menguntungkan yaitu sebesar Rp.30.000/ botol kemasan 600ml menunjukkan potensi besar bagi pengembangan usaha.
Strategi Pengembangan Usaha Kelapa Sawit Plasma Dan Mandiri Di Desa Kakullasan Kecamatan Tommo Kabupaten Mamuju Alfrian Bongga; Aylee Christine Alamsyah Sheyoputri; Faidah Azuz
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 3 No. 2 (2025): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v3i2.5723

Abstract

This study aims to determine the strategy in developing plasma and independent scheme oil palm businesses in Kakullasan Village, Tommo District, Mamuju Regency. Oil palm is one of the leading commodities that contributes to the regional economy and farmer welfare. This study uses a descriptive method with primary data collection through questionnaires, interviews, and observations and secondary data through government agencies. The population in this study were 25 oil palm farmers. Plasma farmers numbered 10 people, independent farmers numbered 13 people, and P+M numbered 3 people. The results of this study indicate that farmers who carry out extensification are plasma farmers with an average land area of plasma farmers that is larger than independent farmers; then plasma farmers become mixed farmers, namely independent plasma with an average land area of plasma farmers of 3 Ha; while independent farmers are 2.7 Ha and mixed plasma and independent farmers with an average land area of 4.8 Ha. Therefore, farmers who tend to do extensification are plasma farmers compared to independent farmers. Farmers who tend to do extensification will find it easier to increase their palm oil production because they are supported by a larger land area. Penelitian bertujuan untk mengetahui strategi dalam mengembangkan usaha kelapa sawit skema plasma dan skema mandiri di Desa Kakullasan, Kecamatan Tommo, kabupaten Mamuju. Kelapa sawit adalah salah satu komoditas unggulan yang berkontribusi terhadap perekonomian daerah dan kesejahteraan petani. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pengumpulan data primer melalui kuesioner, wawancara, dan observasi serta data sekunder melalui instansi pemerintah. Populasi dalam penelitian ini adalah petani sawit yang berjumlah 25 orang petani. Petani plasma berjumlah 10 orang, petani mandiri berjumlah 13 orang, dan P+M berjumlah 3 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa petani yang melakukan ekstensifikasi adalah petani plasma dengan rata-rata luas lahan petani plasma yang lebih banyak dibandingkan petani mandiri; kemudian petani plasma menjadi petani campuran yaitu plasma mandiri dengan luas lahan rata-rata petani plasma yaitu 3 Ha; sedangkan petani mandiri 2,7 Ha dan petani campuran plasma dan mandiri dengan luas lahan rata-rata yaitu 4,8 Ha. Oleh karena itu, petani yang cenderung melakukan ekstensifikasi yaitu petani plasma di banding petani mandiri. Petani yang cenderung melakukan ekstensifikasi akan lebih mudah dalam meningkatkan produksi kelapa sawitnya karena didukung luas lahan yang lebih besar.