Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Analisis Determinan Kejadian Stunting Anak Balita Di Pedesaan Demak Desi Wulandari; Kun Aristiati; J. Supadi
JURNAL RISET GIZI Vol 4, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v4i2.4497

Abstract

Background: Prevalence of stunting in Demak district 2015 was 29%, higher than central java prevalence. Stunting have will inhibit the development of cognitive and motoricamong children with negative impact in the next life. This study aims to determine risk of stunting of children under five year.Methods: We used data from the need assesment project from the Nutrion of Departement Health of Polytechnic Semarang. We used 420 children wich selected using simple random sampling. Risk factor for child stunting included factor from nutrition, physiological, illness, parenting, health behavior and socioeconomic incidence. Variable intake of energy and protein obtained by Food Recall 2 x 24 hours, the variable gender, maternal age, height mothers, diarrhea, respiratory infection, a child's weight, parenting, attitudes, knowledge, the use of iodized salt, vitamin A, large families, education, employment and pendapatan diperoleh using a questionnaire with interview method. Logistic regression was use to determine the risk factors.Results: We found 33,1% children was stunting. From the best model factors, the risk factor for the children in stunting is maternal high ≤ 145 cm (OR = 2,5; CI = 1,057 to 5,022), maternal knowledge of 80% (OR = 2; CI = 1,070 to 2,776), family do not use any of iodized salt in the household (OR = 8,5; CI = 4,979 to 13,541) and maternal education less than primary school (OR = 3,5; CI = 1,022 to 11,275).Conclusion: Determinan Factors that make children at risk for stunting is maternal high, maternal knowledge, families who do not use iodized salt in the household and maternal education less than primary school. There is a need to take height measurements regularly in health pos to monitor child stunting.
Daya Terima Mix Kefir Buah dan Kefir Susu Buah Wiwik Wijaningsih; Sunarto Sunarto; Desi Wulandari
JURNAL RISET GIZI Vol 12, No 1 (2024): Mei 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v12i1.11414

Abstract

Latar belakang: Kefir adalah produk yang berbahan baku susu yang difermentasi dengan penambahan kefir grains yang merupakan hasil dari simbiosis dari bakteri asam laktat (BAL) dengan khamir. Kefir digolongkan sebagai pangan fungsional karena memiliki efek baik terhadap kesehatan, dan digolongkan makanan prebiotik karena pada kefir terdapat kandungan bakteri baik yang bermanfaat memperbaiki sistem mikroflora usus dan menghambat pertumbuhan patogen dalam usus. Tujuan: untuk mengetahui daya terima kefir buah pada mix kefir buah dan kefir susu buah. Metode: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah eksperimental dengan rancangan percobaan yang digunakan merupakan  rancangan  acak  lengkap  (RAL).  Pembuatan produk kefir buah pada mix kefir buah dan kefir susu buah. Hasil: Terdapat perbedaan kesukaan aroma dari dua belas jenis kefir buah (p0.05). Skor kesukaan aroma terendah adalah Kefir susu naga 50 dan yang tertinggi adalah Kefir mangga 50. Selain itu, terdapat perbedaan Skor kesukaan viskositas (p0.05), skor kesukaan viskositas terendah kefir susu melon 30 dan tertinggi kefir mangga 50. Terdapat perbedaan Skor kesukaan rasa (p0.05), skor terendah kefir susu pisang 30 dan tertinggi kefir nanas 50. Ada perbedaan Skor kesukaan warna (p0.05). Skor kesukaan warna terendah kefir susu pisang 30 dan yang tertinggi kefir naga 50. Ada perbedaan Skor kesukaan secara umum (p0.05). Skor kesukaan terendah kefir susu pisang 30 dan yang tertinggi Kefir mangga 50. Kesimpulan: Ada perbedaan Skor kesukaan secara umum (p0.05). Skor kesukaan secara umum  bervariasi mulai dari 3.3-4.4, skor kesukaan secara umum terendah adalah Kefir susu pisang 30 dan yang paling tinggi Kefir mangga 50
PELATIHAN PEMBUATAN KEFIR SUSU KACANG TANAH KACANG MERAH (SUKATAME) SEBAGAI PMT BALITA GUNA PERCEPATAN PENURUNAN STUNTING UNTUK KADER DI KELURAHAN PEDURUNGAN TENGAH Hendriyani, Heni; Wijaningsih, Wiwik; Wulandari, Desi; Sintadewi Purbaningrum, Galuh
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 5 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i5.1838-1843

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang ditandai dengan tinggi badan yang tidak sesuai dengan usia anak. Di Indonesia, masalah stunting masih menjadi tantangan besar, terutama di daerah yang memiliki akses terbatas terhadap gizi. Salah satu cara untuk mengatasi stunting adalah dengan memperkenalkan makanan tambahan yang bergizi tinggi dan mudah diakses oleh masyarakat. Kefir, produk fermentasi susu yang kaya akan prebiotik, protein, dan probiotik, memiliki manfaat besar untuk kesehatan, termasuk membantu penurunan stunting pada balita. Kefir susu kacang tanah kacang merah (Sukatame) merupakan inovasi yang menggabungkan manfaat kefir dengan kacang tanah dan kacang merah. Pelatihan pembuatan kefir susu kacang tanah kacang merah (Sukatame) dilakukan untuk kader di Kelurahan Pedurungan Tengah. Pelatihan ini bertujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada kader dalam memproduksi dan mengolah kefir sebagai makanan tambahan balita. Metode yang digunakan meliputi ceramah, tanya jawab, demonstrasi, dan praktik. Evaluasi dilakukan dengan pre-test dan post-test untuk melihat peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader dalam pembuatan kefir sukatame, dengan rata-rata peningkatan skor pre-test dan post-test sebesar 3,6. Hasil uji hedonik terhadap produk kefir menunjukkan tingkat kesukaan yang tinggi dari para peserta. Pelatihan ini diharapkan dapat membantu percepatan penurunan stunting di wilayah Kelurahan Pedurungan Tengah dengan menyediakan makanan tambahan yang bergizi dan mudah diakses.
Nutritional Value, Sugar Content, Acidity, Fiber Content, Total Bacteria, and Acceptability of Mixed Fruit Kefir and Milk Fruit Kefir Wijaningsih, Wiwik; Wulandari, Desi; Sunarto, Sunarto
Jurnal Riset Kesehatan Vol 14 No 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrk.v14i2.13302

Abstract

Kefir is a probiotic-rich functional beverage, and the addition of fruit enhances its nutritional composition, sensory characteristics, and consumer acceptability. This study analyzed twelve types of mixed fruit kefir and milk-based fruit kefir, focusing on nutritional value, sugar content, acidity, fiber levels, total bacterial count, and acceptability. The results showed that energy content ranged from 29.4 to 78.2 kcal per 100 grams, with mango kefir (50%) having the highest energy value. Protein content varied from 1.5% to 2.5%, with banana kefir (30%) containing the highest amount. Sugar content ranged from 1.6% to 12.6%, while acidity levels varied from 1.0% to 1.8%, influencing taste and microbial stability. Fiber content ranged from 1.2% to 3.4%, and total bacterial count varied between 26,666,667 and 2,247,000,000 CFU/g, confirming kefir’s probiotic potential.Sensory analysis revealed that mango kefir (50%) and pineapple kefir (50%) were the most preferred, while banana kefir (30%) had the lowest acceptability. These findings suggest that fruit-based kefir formulations can optimize both nutritional value and sensory appeal, positioning kefir as a highly nutritious and functional beverage.