Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KADAR FLAVONOID TOTAL DAN AKTIVITAS ANTIKOLESTEROL IN VITRO PADA VARIASI EKSTRAK KULIT BUAH ALPUKAT (Persea americana) Desi Sri Rejeki; Agung Nur Cahyanta; Eva Narayani Anindita; Afina Nurfauziah
Bhamada: Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (E-Journal) Vol 17 No 1 (2026)
Publisher : UNIVERSITAS BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36308/jik.v17i1.946

Abstract

Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian secara global. Penyakit kardiovaskular tiga kali lebih umum terjadi pada individu dengan kolesterol tinggi dibandingkan pada individu yang sehat. Salah satu dari beberapa tanaman obat yang dapat menurunkan kolesterol diantaranya adalah alpukat (Persea americana Mill.) pada bagian kulitnya. Kulit alpukat (Persea americana Mill.) mengandung senyawa flavonoid. Telah dibuktikan bahwa tanaman yang mengandung banyak senyawa flavonoid dapat menurunkan kadar kolesterol. Tujuan penelitian ini untuk mengukur total kandungan flavonoid dan menilai efek penurunan kolesterol dari ekstrak kulit alpukat (Persea americana Mill.) dalam ekstrak etanol, metanol, kloroform, dan n-heksana. Penelitian ini menggunakan spektrofotometri ultraviolet-tampak sebagai teknik penelitian. Pereaksi menggunakan reagen Lieberman-Burchard, serbuk kolesterol direaksikan dengan asam asetat anhidrat dan asam sulfat pekat dengan konsentrasi 100, 200, 300, 400, dan 500 ppm. Hasil tersebut menunjukkan aktivitas antikolesterol dari setiap konsentrasi ekstrak, dengan EC50 sebesar 406,73 ppm untuk ekstrak etanol, 408,43 ppm untuk ekstrak metanol, 424 ppm untuk ekstrak kloroform, dan 465 ppm untuk ekstrak kloroform, serta 399,42 ppm untuk simvastatin sebagai kontrol positif. Semakin tinggi EC50, semakin besar penurunan kolesterol. Uji Anova digunakan karena hasil uji statistik menunjukkan bahwa data homogen dan normal (p≥0,05). Hasil uji Anova menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan pada konsentrasi apapun (p≥0,05), sehingga dapat dinyatakan bahwa aktivitas penurunan kolesterol keempat sampel tersebut setara atau serupa.
Pendampingan Perencanaan Pelayanan Farmasi Berbasis Kebutuhan Untuk Mendukung Mutu Pelayanan Kesehatan Rahmat Pannyiwi; Azmi Wijayati; Enka Nur Ishmatika; Afina Nurfauziah; Najmah Salsabila; Dwi Ardyna Octa Sari
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1518

Abstract

Latar Belakang: Pelayanan kefarmasian merupakan bagian penting dalam sistem pelayanan kesehatan karena berhubungan langsung dengan ketersediaan, keamanan, mutu, dan penggunaan obat yang rasional. Perencanaan pelayanan farmasi yang tidak didasarkan pada kebutuhan aktual dapat menyebabkan kekurangan maupun kelebihan persediaan obat, pemborosan anggaran, peningkatan risiko obat kedaluwarsa, serta terganggunya kesinambungan pelayanan. Tujuan: Meningkatkan kemampuan tenaga kefarmasian dalam menyusun perencanaan pelayanan farmasi berbasis kebutuhan sehingga dapat mendukung ketersediaan obat, efisiensi pengelolaan sumber daya, dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan pada 30 tenaga kefarmasian di fasilitas pelayanan kesehatan. Metode kegiatan meliputi penyuluhan, pelatihan, diskusi, pendampingan identifikasi kebutuhan, analisis data pemakaian, penyusunan rencana kebutuhan obat dan bahan farmasi, serta evaluasi pretest dan posttest. Materi mencakup identifikasi kebutuhan pelayanan, analisis data penggunaan, perhitungan kebutuhan, pengelolaan stok, penentuan prioritas, penyusunan rencana pengadaan, pengendalian persediaan, dan monitoring evaluasi. Hasil: Kegiatan menunjukkan peningkatan kemampuan peserta dalam melakukan perencanaan pelayanan farmasi berbasis kebutuhan. Rerata skor pengetahuan meningkat dari 62,1 pada pretest menjadi 87,4 pada posttest. Kemampuan peserta dalam mengidentifikasi kebutuhan, menganalisis data pemakaian, menghitung kebutuhan, menentukan prioritas, serta menyusun rencana pelayanan farmasi juga mengalami peningkatan. Peserta menjadi lebih memahami pentingnya penggunaan data aktual sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan pelayanan kefarmasian. Kesimpulan: Pendampingan perencanaan pelayanan farmasi berbasis kebutuhan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kefarmasian. Pendekatan ini dapat mendukung ketersediaan obat dan bahan farmasi, efisiensi penggunaan anggaran, pengendalian persediaan, serta peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Pendampingan secara berkala diperlukan agar kemampuan perencanaan dapat diterapkan secara berkelanjutan