Ishaq Syahid
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA BERBASIS TAKSONOMI FINK Syaiful Rohman; Ishaq Syahid
JEMI Vol 1 No 2 (2023)
Publisher : STIT Al-Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61815/jemi.v1i2.307

Abstract

Taksonomi Fink adalah taksonomi yang diciptakan oleh L.Dee Fink pada tahun 2003 yang mengekspresikan kebutuhan untuk jenis belajar yang baru, yaitu jenis yang melampaui domain kognitif. Taksonomi Fink mengacu pada enam aspek pembelajaran yaitu foundational knowledge, application, integration, human dimension, caring, learning how to learn. Taksonomi Fink memiliki penekanan pada penilaian aspek afektif, metakognitif dan kognitif. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan proses, validitas dan reliabilitas pengembangan instrumen penilaian hasil belajar matematika berbasis taksonomi Fink. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (Research Development). metode penelitian pengembangan (Research Development) merupakan dasar untuk mengembangakan produk tertentu yang akan dihasilkan, yaitu pada penelitian ini akan mengembangkan instrumen penilaian hasil belajar berbasis taksonomi Fink dengan menggunakan teknik penilaian tes tertulis dan penilaian observasi sikap. Metode dalam penelitian ini mengacu pada metode pengembangan Thiagarajan yaitu hanya dibatasi pada 3D, yaitu define (pendahuluan), design (perancangan), develop (pengembangan). Uji coba dilakukan pada 30 siswa kelas VI di MI Raudlatul Mubtadiin Ketapang Sampang. Data penelitian dianalisis dan diperoleh data sebagai berikut: kevalidan instrumen soal diperoleh butir soal nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7 masing-masing dengan rata-rata total adalah 30,5, 30, 29, 30, 31,5, 30,5, 29,5 dan nilai akhir masing-masing butir soal 84,8, 83,3, 80,5, 83,3 87,5, 84,8 dan 82 dengan predikat B yaitu dapat digunakan dengan sedikit revisi, kevalidan instrumen pengamatan sikap memiliki rata-rata total 36,5 dengan nilai akhir yang diperolah adalah 83 dengan predikat B dapat digunakan dengan sedikit revisi. Perhitungan validitas menggunakan rumus korelasi product moment dan uji-t dibantu dengan perhitungan aplikasi Microsoft Excel, diketahui bahwa nilai butir soal nomor 1, 2, 3, 4, 6, dan 7 berturut-turut 1.613995, 1.813196, 1.533539, 1.613995, 4.652325, dan 6.422057 yang lebih besar dari nilai = 1,071. Dengan demikian, keenam butir soal tersebut dinyatakan valid. Sedangkan butir soal ke 5 dengan nilai adalah -1.31546 yang lebih kecil dari nilai = 1,071, maka butir soal tersebut tidak valid. Perhitungan reliabilitas instrumen penilaian, diperoleh nilai = 0.46096 dan reliabilitas instrumen penilaian dinyatakan reliabel dengan mendapat kategori moderat atau sedang.
KONSEP DAN IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA BELAJAR PADA LEMBAGA PENDIDIKAN DASAR : (STUDI KASUS DI SDN KARPOTE 2 BLEGA BANGKALAN) Rohman, Syaiful; Tohari, Mustofa; Ishaq Syahid
Jurnal Edukasi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Bahri Asyiq Galis Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The goal of the independent learning curriculum is to provide students with a wide range of relevant competencies and skills to be developed in the future. This is coupled with a radical (deep and deeply rooted) understanding and practice of monotheistic values, freedom to choose their chosen field of study, and learning practices that reflect future needs and projections. This article uses a qualitative case study approach, where researchers conduct in-depth explorations of programs, events, processes, and activities involving one or more individuals. A case study is bound by time and activity, and researchers collect detailed data using various data collection procedures over a continuous period. Teachers' perspectives on the independent learning curriculum concept significantly impact their readiness to implement it in elementary schools or madrasas. Age, reluctance to develop personal capacity or learn IT, and reluctance to apply various methods using innovative learning media are key obstacles. On the other hand, limited infrastructure, such as mobile devices or laptops, also poses a barrier to the implementation of digital-based learning, making it difficult to innovate with current learning models. Keywords: Elementary education institutions, Concept and Implementation of the independent curriculum