Baharudin Saleh Ingratubun
Universitas Doktor Husni Ingratubun Papua

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KAJIAN KRIMINOLOGI TERHADAP KEJAHATAN PEDOFILIA DI WILAYAH HUKUM POLRES KEEROM Renyaan, Wilhelmus; Ingratubun, Baharudin Saleh; Suheriyono
Jurnal Hukum Ius Publicum Vol 2 No 2 (2022): Jurnal Hukum Ius Publicum
Publisher : LPPM Universitas Doktor Husni Ingratubun Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55551/jip.v4i4.32

Abstract

Pemberian perlindungan terhadap setiap warga negara memang sudah dilakukan melalui berbagai mengeluarkan regulasi yang memberikan perlakuan khusus kepada kelompok rentan yaitu para perempuan, anak dan kaum usia lanjut. Kejahatan seksual ini tidak hanya menimpa anak perempuan, tetapi juga anak laki-laki yang rata-rata umurnya masih sangat belia bahkan yang lebih miris lagi adalah adanya anak balita yang menjadi korban kejahatan seksual ini. Pedofilia ini merupakan sesuatu yang unik, karena sudah seharusnya kejahatan seperti ini tidak hanya dikaji dan dianalisa dari aspek hukum semata, namun perlu juga dilihat dari aspek lain, dan dalam hal ini penulis sangat tertarik untuk melakukan penelitian guna melihat dan mengkaji tentang potensi terjadinya kejahatan pedofilia dari aspek kriminologi guna menemukan secara utuh tentang kejahatan, penjahat maupun reaksi masyarakat terhadap pelaku maupun kejahatannya. Upaya dalam menanggulangi perilaku kejahatan Pedofilia maka perlu melakukan pendampingan serta memberikan pelayanan koseling kepada orang tua agar upaya-upaya preventif ditindak lanjut dalam tataran pencegahan sebelum terjadinya kejahatan. Perlu dilakukan patroli sambang khusus di daerah yang rawan/pelosok atau pedalaman selain itu dibutuhkan kerjasama masyarakat yaitu dengan langsung melaporkan kepada pihak kepolisian apabila terjadi kasus kejahatan seksual, sekain itu juga dubutuhkan peran aktif dari tokoh agama untuk memberikan pemahaman mengenai dampak kejahatan seksual dari sudut pandang agama dan moral.
LEGAL PROTECTION OF ONLINE SOCIAL GATHERING MEMBERS EXPERIENCE LOSSES DUE TO DEFENSE Baharudin Saleh Ingratubun
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 21 No. 2 (2022): Pena Justisia
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v21i2.4343

Abstract

This research aims to determine legal protection for online social gathering participants and also to determine inhibiting factors in dealing with members who are in default. The type of research used is sociological legal research or empirical law. Empirical legal research is legal research that analyzes the actual application of law to individuals, groups, communities, legal institutions in society with an emphasis on the behavior of individuals or communities, organizations or legal institutions in relation to the application or enactment of the law. In this research, the author conducted research in Jayapura City as the author discovered problems in the field regarding the rights of owners who were disadvantaged in transactions via electronic media at online social gatherings. The research results show that the legal protection that is expected to be provided to members who experience losses is legal protection related to compensation. However, in order to get the entire compensation, the management found obstacles in it, namely the online social gathering manager could not provide proof because there was no guarantee or written agreement in it. Inhibiting factors in dealing with members who are in default are: Settlement of default cases committed by one party against another party can initially be pursued in a non-litigation manner before ultimately if a settlement is not reached then it will be continued in litigation or before trial.
The Authority of PPAT in Making APHT at PT. Bank Negara Indonesia Wulan Pratiwi Yulia Djari; Salesius Jemaru; Baharudin Saleh Ingratubun
Journal of Strafvordering Indonesian Vol. 2 No. 3 (2025): JOSI - JULY
Publisher : PT. Anagata Sembagi Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62872/g21q9s09

Abstract

The Deed of Granting Dependent Rights (APHT) is a legal instrument that has a strategic role in ensuring certainty and legal protection for loans provided by banks. In practice, the making of APHT can only be done by the formally and territorially authorized Land Deed Making Officer (PPAT). This study aims to analyze the authority of PPAT in the manufacture of APHT at PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, as well as identifying the implementation and legal obstacles that occur in practice.  The research method used is an empirical juridical approach, with primary data collection through interviews with PPAT and credit officials at BNI Biak Branch Offices, as well as secondary data from laws and regulations and legal literature. The results of the study show that PPAT has exclusive authority in making APHT in accordance with Law Number 4 of 1996 concerning Dependent Rights. However, in the practice of cooperation with the bank, there are a number of challenges such as delays in submitting documents, lack of understanding of the debtor on legal procedures, and administrative obstacles in the process of registering dependent rights with the Land Office.