Ery Susiany Retnoningtyas
Program Studi Magister Teknik Kimia, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DISEMINASI TEKNOLOGI TEPAT GUNA ALAT PENGOLAH MINYAK JELANTAH MENJADI BIODIESEL BAGI MASYARAKAT KECAMATAN JAMBANGAN SURABAYA Ery Susiany Retnoningtyas; Ivan Gunawan; Jindrayani Nyoo Putro; Nathania Puspitasari; Andrew Joewono; Adriana Anteng Anggorowati; L. M. Hadi Santoso; Maria Yuliana; Theresia Laurensia Yunita
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i1.20265

Abstract

Abstrak: Minyak goreng bekas pakai atau minyak jelantah merupakan salah satu limbah rumah tangga terbesar di Indonesia. Minyak jelantah yang dibuang sembarangan dapat mencemari lingkungan. Masyarakat di kecamatan Jambangan, kota Surabaya sangat menyadari dampak buruk dari pencemaran minyak jelantah terhadap lingkungan. Karena itulah diinginkan mengolah minyak jelantah yang telah dikumpulkan sebagai bahan bakar biodiesel. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Jambangan agar tidak membuang secara sembarangan limbah minyak jelantah sehingga dapat menurunkan jumlah limbah minyak jelantah yang dibuang ke lingkungan. Metode kegiatan yang dilaksanakan adalah melakukan edukasi berupa pemberian materi dan praktek cara mengubah limbah minyak jelantah menjadi biodiesel menggunakan alat pengolah minyak jelantah. Untuk memudahkan pengoperasian alat pengolah minyak jelantah ini, didampingi dengan manual penggunaannya yang disusun menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat sehingga dapat belajar secara mandiri. Mitra yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Jambangan dan masyarakat kelurahan Karah, kecamatan Jambangan. Hasil dari aktivitas ini, masyarakat kecamatan Jambangan Surabaya dapat mempraktekkan langsung proses pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel. Bahkan dalam hasil evaluasi kuesionernya, mayoritas yaitu sebanyak 72% ingin mengikuti kompetisi di wilayahnya dengan memanfaatkan alat pengolah minyak jelantah ini. Hal ini tentunya menunjukkan apresiasi yang luarbiasa terhadap kegiatan abdimas ini.Abstract: Used cooking oil residue or known as ‘jelantah’ oil is one of the largest household wastes in Indonesia. Used cooking oil residue that is thrown away carelessly can pollute the environment. People in Jambangan sub-district, Surabaya city are very aware of the negative impact of used cooking oil pollution on the environment. That's why it is desirable to process the collected ‘jelantah’ oil as biodiesel fuel. The aim of this community service is to increase awareness of the Jambangan community not to carelessly dispose of used cooking oil waste so that it can reduce the amount of used cooking oil waste that is thrown into the environment. The method of activity is to provide education in the form of providing material and practice on how to convert used cooking oil waste into biodiesel using used cooking oil processing equipment. To make it easier to operate this used cooking oil processing tool, it is accompanied by a manual for its use which is prepared using language that is easy for the public to understand so that they can learn independently. The partners involved in this activity are the Jambangan Community Social Workers Association (IPSM) and the community of Karah - Jambangan sub-district. As a result of this activity, the people of Jambangan Surabaya sub-district can directly practice the process of ‘jelantah’ oil into biodiesel. Even in the results of the questionnaire evaluation, the majority, namely 72%, wanted to take part in competitions in their area using this used ‘jelantah’ oil processing equipment. This certainly shows extraordinary appreciation for this community service activity.
INOVASI TEKNOLOGI BERBASIS PLTS UNTUK PENGATURAN LINGKUNGAN AKUAKULTUR PENGGEMUKAN KEPITING BAKAU Rasional Sitepu; Peter Rhatodirdjo Angka; Sasrio Resi Valen; Yosefa Ruvinda Ayu Krisanti; Ery Susiany Retnoningtyas; Lanny Agustine; Yuliati Yuliati
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 5 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i5.34762

Abstract

Abstrak: Masyarakat berpenghasilan rendah di wilayah perkotaan memiliki potensi mengembangkan usaha sampingan yang lebih cepat menghasilkan dan berkelanjutan di lahan terbatas. Pokdarwis Kampoeng Oase Ondomohen tengah merintis usaha pembesaran kepiting air payau dengan tenaga surya, yang menjanjikan nilai jual lebih tinggi, waktu panen lebih singkat, dan biaya operasional lebih rendah daripada pembesaran ikan saat ini. Namun kemampuan mitra untuk mengelola akuakultur serta merawat sistem PLTS masih perlu ditingkatkan.Metode meliputi ceramah, praktik langsung, dan diskusi kelompok (FGD) untuk membekali 28 peserta (pengurus pokdarwis dan anggota masyarakat) dengan teori dan keterampilan teknis. Evaluasi pre-test dan post-test menunjukkan keberhasilan program dalam meningkatkan kapasitas mitra secara komprehensif. Peningkatan tidak hanya terjadi pada aspek pengetahuan teoretis (melonjak dari 37,5% menjadi 90–95%), tetapi juga keterampilan praktis. Secara rata-rata, tingkat keterampilan mitra untuk mengoperasikan sistem melonjak dari 15% (pre-test) menjadi 85% (post-test). Peningkatan paling drastis terlihat pada keterampilan baru seperti "Melakukan kultur probiotik" (0% menjadi 80%) dan keterampilan kunci lainnya.Abstract: Communities in low-lying urban areas have the potential to develop more quickly and sustainably profitable side businesses on limited land. The Kampoeng Oase Ondomohen Tourism Group (Pokdarwis) is pioneering a solar-powered brackishwater crab farming business, which promises higher sales value, shorter harvest times, and lower operational costs than current fish farming. However, partners' skills in managing aquaculture and maintaining solar power systems still need improvement.Methods included lectures, hands-on practice, and focus group discussions (FGDs) to equip 28 participants (Pokdarwis administrators and community members) with theory and technical skills. Pre- and post-test evaluations demonstrated the program's success in comprehensively enhancing partners' capacity. Improvements occurred not only in theoretical knowledge (jumping from 37.5% to 90–95%), but also in practical skills. On average, partners' skill level in operating the system jumped from 15% (pre-test) to 85% (post-test). The most drastic improvements were seen in new skills such as “Performing probiotic cultures” (0% to 80%) and other key skills.