Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PELATIHAN KONSELOR SEBAYA DALAM OPTIMALISASI KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DI PANTI ASUHAN AMRULLAH CABANG AISYIYAH Nurfaizah Alza; Anieq Mumthi’ah Al Kautzar; Firdayanti Firdayanti; Ferawati Taherong; A. Dian Diarfah; Zelna Yuni Andryani; Sitti Saleha
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kebidanan Vol 4, No 2 (2022): Jurnal Pengabdian Masyarakat Kebidanan
Publisher : Jurnal Pengabdian Masyarakat Kebidanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jpmk.v4i2.9966

Abstract

Kesehatan reproduksi merupakan keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi. Perilaku berisiko yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi remaja diantaranya adalah seks pranikah yang dapat berakibat pada kehamilan yang tidak diingankan, aborsi, berisiko tertular Infeksi Menular Seksual (IMS), termasuk HIV, penyalahgunaan narkotika, psikotropikam dan zat adiktif lainnya (NAPZA). Berbagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja terkait kesehatan reproduksi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalukan pelatihan konselor sebaya. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja di Panti Asuhan Amrulla cabang ‘Aisyiyah Limbung dengan metode ceramah, diskusi, dan role play. Berdasarkan hasil evaluasi, didapatkan hasil terdapat peningkatan pengetahuan remaja terkait kesehatan reproduksi yang ditandai dengan adanya peningkatan hasil antara pretest dan posttest dan adanya keterampilan remaja menjadi konselor sehingga telah dikategorikan mampu menjadi konselor sebaya.
MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN KESEHATAN REPRODUKSI PADA NY “N” DENGAN ANEMIA PADA WANITA PRAKONSEPSI DI RSUD LABUANG BAJI MAKASSAR Irmayanti Iskandar; Anieq Mumthi’ah Al Kautzar; Nurfaizah Alza
Jurnal Midwifery Vol 4 No 2 (2022): AUGUST
Publisher : Prodi Kebidanan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jmw.v4i2.29212

Abstract

Introduction Preconception is the period before pregnancy or prior to the meeting of the ovum with sperm. Adequate nutrition intake during the preconception will support the functional reproductive system as it smoothens the process of ovum maturation, ovum production, and ovum quality and complete fertilization process. Anemic preconception puts women at a higher risk of anemia in pregnancy, which eventually impacts on the fertilization process and fetal development. This study aimed to conduct the management of reproductive health midwifery care on Mrs. “N” with preconception anemia in Regional Public Hospital of Labuang Baji Makassar. Method This research in accordance with the 7-step Varney. Result The findings suggest that Mrs. “N” reported several complaints including fatigue, frequent dizziness, pale conjunctiva appearance, dry lip mucosa, and Hb 11.9 g/dl as shown from the laboratory results. The midwifery care was conducted by providing the patient with iron tablets containing 60 mg of elemental iron and 250 folic acids. In addition to that, the medical team also gave a recommendation that the patient consume date juice as well as 7 pieces of dates every morning. Conclusion This study concluded the midwifery care using the 7-step Varney and SOAP for Mrs. “N” with preconception anemia in Regional Public Hospital of Labuang Baji Makassar with results of increasing Hb levels up to 15.8 gr/dl, composmentis awareness, normal vital signs, and no abnormalities nor complications shown from the physical examination. These results show that there is no gap between all the treatments and the theories.
PEMBERDAYAAN REMAJA PUTRI MELALUI PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PROGRAM PENDEWASAAN USIA PERKAWINAN Anieq Mumthiah Al Kautzar; Andi Dian Diarfah; ferawati Taherong; Nurfaizah Alza; Zelna Yuni Andryani; Firdayanti Firdayanti; Andi Mahdiyah Arif
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 5 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i5.16753

Abstract

Abstrak: Pendewasaan usia perkawinan tidak hanya sekedar menunda perkawinan hingga mencapai usia ideal, namun diharapkan remaja memiliki pengetahuan dan sikap yang baik dalam merencanakan keluarga, mempertimbangkan seluruh aspek yang berkaitan dengan kehidupan berkeluarga nantinya. Tujuan kegiatan ini agar remaja dapat memahami konsep Pendewasaan Usia Perkawinan sehingga lebih sadar akan pentingnya mempersiapkan fisik dan mental sehingga lebih siap nantinya dalam berkeluarga serta diharapkan remaja dapat menghindari seks bebas. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah dengan memberikan pendidikan Kesehatan kepada remaja putri. Tahap akhir pada kegiatan ini adalah peserta mengisi kembali kuesioner posttest sebagai evaluasi untuk mengetahui perubahan pengetahuan dan sikap ramaja putri setelah pemberian materi. Hasil evaluasi menunjukkan tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat telah tercapai. Metode dan media yang digunakan dalam memberikan materi efektif dalam peningkatan pengetahuan dan sikap remaja putri.Abstract. Maturation of marriage age is not just delaying marriage until it reaches the ideal age, but it is expected that adolescents have good knowledge and attitudes in planning a family, considering all aspects related to family life later. The purpose of this activity is for adolescents to understand the concept of Maturity of Marriage Age so that they are more aware of the importance of preparing physically and mentally so that they are better prepared later in the family and it is hoped that adolescents can avoid free sex. The method used in this activity is to provide health education to adolescent girls. The final stage is for participants to fill out a post-test questionnaire as an evaluation to determine changes in the knowledge and attitudes of adolescent girls after providing material. The evaluation results show of community service activities have been achieved. The methods and media used in providing material effectively increase adolescent girl's knowledge and attitudes.
Literature Review: Dampak Pernikahan Usia Dini terhadap Stunting Nurfaizah Alza; Endah Yulianingsih; Nurnaningsih Ali Abdul; Cindy Rindiani Lapa; Ni Luh Martiona; Sry Meylanda Ishak
JOURNAL OF NONCOMMUNICABLE DISEASES Vol 3, No 2 (2023): November 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jond.v3i2.930

Abstract

Pernikahan dini di Indonesia berdasarkan Undang-Undang yaitu sebelum berusia 19 tahun. Pernikahan dini merupakan salah satu penyebab stunting yang merupakan gangguan tumbuh kembang pada anak yang dapat diidentifikasi degan menilai panjang badan atau tinggi badan anak. Prevalensi stunting saat ini masih cukup tinggi. Di Indonesia, prevalensi balita stunting berdasarkan laporan SSGBI tahun 2019 yaitu 27,67%. Review ini bertujuan untuk menelaah pengaruh atau dampak pernikahan usia dini terhadap stunting dengan menggunakan metode literature review pada artikel asli dimulai tahun 2013-2023. Berdasarkan 19 artikel yang direview, diperoleh hasil bahwa pernikahan usia dini berpengaruh atau berdampak pada kejadian stunting. Selanjutnya akan dilakukan penelitian lebih lanjut terkait upaya yang dilakukan untuk meminimalisir dampak pernikahan dini terhadap kejadian stunting.According to law, early marriage in Indonesia is a marriage before the age of 19. Early marriage is one of the causes of stunting, which is a growth and development disorder in children that can be identified by assessing the child's body length or height. The prevalence of stunting is currently quite high. In Indonesia, the prevalence of stunted toddlers, based on the 2019 SSGBI report, is 27.67%. This review aims to examine the influence or impact of early marriage on stunting using the literature review method in original articles from 2013–2023. Based on the 19 articles reviewed, the results indicated that early marriage influences or has an impact on the incidence of stunting. Furthermore, further research will be carried out regarding efforts made to minimize the impact of early marriage on the incidence of stunting.
PEMBERDAYAAN REMAJA MELALUI REP2HEL COMMUNITY” DALAM UPAYA PENCEGAHAN PERNIKAHAN USIA DINI Yusni Podungge; Selvi Mohamad; Nurfaizah Alza; Fadli Husain
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 2 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i2.20485

Abstract

Abstrak: Kasus pernikahan usia dini di Kelurahan Pilolodaa cukup tinggi yaitu 9 kasus (25.71%) pada tahun 2021 hingga Juni 2022. Tingkat pengetahuan remaja terkait dampak pernikahan usia dini dan keterampilan mendeteksi masalah remaja masih rendah. Demikian pula pada kader posyandu remaja dan karang taruna sebagai mitra pendukung. Tujuan dari pengabdian masyarakat adalah peningkatan pengetahuan dan sikap remaja, kader posyandu dan anggota karang taruna terkait dampak pernikahan usia dini serta peningkatan keterampilan dalam mendeteksi masalah kesehatan remaja. Metode yang digunakan adalah ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi dan praktik pemeriksaan payudara sendiri serta deteksi dini anemia. Mitra sasaran remaja sebanyak 30 orang dan mitra pendukung masing-maisng 3 orang. Berdasarkan analisis hasil kuesioner pre dan post, semua remaja mengalami peningkatan pengetahuan (100%) dan untuk sikap serta peningkatan keterampilan remaja maupun mitra dalam mendeteksi masalah kesehatan remaja yang dinilai dengan lembar cheklist juga hasilnya terdapat peningkatan (100%) serta terbentuknya komunitas REP2HEL yang telah dikukuhkan oleh Lurah Kelurahan Pilolodaa.Abstract: Cases of early marriage in Pilolodaa Village are quite high, namely 9 cases (25.71%) from 2021 to June 2022. The level of knowledge of teenagers regarding the impact of early marriage and skills in detecting teenage problems are still low. Likewise with youth posyandu cadres and youth organizations as supporting partners. Community service aims to increase the knowledge and attitudes of teenagers, posyandu cadres, and youth organization members regarding the impact of early marriage as well as increasing skills in detecting adolescent health problems. The methods used are lectures, questions and answers, discussions, reflection, and the practice of breast self-examination and early detection of anemia. The youth target partners are 30 people, and the supporting partners are 3 people each. Based on the analysis of the results of the questionnaire before and after, all teenagers experienced an increase in knowledge (100%) and attitudes and increased skills of teenagers and partners in detecting teenage health problems as assessed using a checklist sheet. The results also showed an increase (100%) and the formation of a REP2HEL community, which has been achieved. confirmed by the head of Pilolodaa Village.