Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hubungan Lama Menderita Diabetes Melitus Dengan Kualitas Hidup pada Pasien di Rumah Sakit Royal Prima Medan Irma Yeni Br. Sitorus; Wienaldi Wienaldi; Suhartina Darmadi
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 5 No. 11 (2024): Jurnal Pendidikan Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v5i11.6295

Abstract

Diabetes mellitus merupakan salah satu gangguan pada sistem endokrin. Kualitas hidup yang kurang baik pada pasien diabetes melitus akan menyebabkan terjadinya penurunan dalam selfcare yang merusak kontrol glikemik, meningkatkan risiko komplikasi, dan memperburuk keadaan dari waktu ke waktu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lama menderita diabetes melitus dengan kualitas hidup pada pasien di Rumah Sakit Royal Prima Medan. Jenis penelitian adalah kuantitatif korelasional dengan metode pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh penderita diabetes melitus yang melakukan chek up rutin di Rumah Sakit Royal Prima. Besar sampel sebanyak 50 orang penderita diabetes melitus menggunakan consecutive sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji statistik chi square. Berdasarkan hasil penelitian dapat dinyatakan bahwa ada hubungan usia (p=0,026), jenis kelamin (p=0,005), status pernikahan (p=0,046), pekerjaan (p=0,036), penghasilan (p=0,016), dan lama menderita diabetes melitus (p=0,001) terhadap kualitas hidup pasien yang signifikan di Rumah Sakit Royal Prima Medan. Disarankan pada petugas kesehatan agar melakukan penyuluhan mengenai pentingnya aktivitas fisik untuk mencegah diabetes melitus, dan mengadakan kegiatan untuk mengajak masyarakat aktif beraktivitas fisik seperti senam sehat prolanis di setiap minggu
Hubungan Lama Menderita Diabetes Melitus Dengan Kualitas Hidup pada Pasien di Rumah Sakit Royal Prima Medan Irma Yeni Br. Sitorus; Wienaldi Wienaldi; Suhartina Darmadi
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 5 No. 11 (2024): Jurnal Pendidikan Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v5i11.6295

Abstract

Diabetes mellitus merupakan salah satu gangguan pada sistem endokrin. Kualitas hidup yang kurang baik pada pasien diabetes melitus akan menyebabkan terjadinya penurunan dalam selfcare yang merusak kontrol glikemik, meningkatkan risiko komplikasi, dan memperburuk keadaan dari waktu ke waktu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lama menderita diabetes melitus dengan kualitas hidup pada pasien di Rumah Sakit Royal Prima Medan. Jenis penelitian adalah kuantitatif korelasional dengan metode pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh penderita diabetes melitus yang melakukan chek up rutin di Rumah Sakit Royal Prima. Besar sampel sebanyak 50 orang penderita diabetes melitus menggunakan consecutive sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji statistik chi square. Berdasarkan hasil penelitian dapat dinyatakan bahwa ada hubungan usia (p=0,026), jenis kelamin (p=0,005), status pernikahan (p=0,046), pekerjaan (p=0,036), penghasilan (p=0,016), dan lama menderita diabetes melitus (p=0,001) terhadap kualitas hidup pasien yang signifikan di Rumah Sakit Royal Prima Medan. Disarankan pada petugas kesehatan agar melakukan penyuluhan mengenai pentingnya aktivitas fisik untuk mencegah diabetes melitus, dan mengadakan kegiatan untuk mengajak masyarakat aktif beraktivitas fisik seperti senam sehat prolanis di setiap minggu
Determinan faktor risiko hipertensi: Studi analitis Dai Li; Tri Suci; Wienaldi Wienaldi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.3099

Abstract

Background: Hypertension is a major non-communicable disease and a significant global health problem due to its potential to cause serious complications such as heart disease, stroke, and kidney failure. The increasing prevalence of hypertension is influenced by various demographic, genetic, and behavioral risk factors. Purpose: To analyze the determinants of risk factors associated with the incidence of hypertension among patients. Method: This study used a quantitative approach with a cross-sectional design. The population consisted of patients who visited the Internal Medicine Clinic at Royal Prima Hospital Medan. A total of 153 respondents were selected using purposive sampling. Data were collected through structured questionnaires, interviews, and direct blood pressure measurements using a sphygmomanometer and stethoscope. Data were analyzed using univariate analysis, Chi-square test for bivariate analysis, and binary logistic regression for multivariate analysis. Results: Age (p=0.002), family history of hypertension (p=0.001), and a high-fat diet (p=0.005) were significantly associated with the incidence of hypertension. Meanwhile, gender (p=0.180) and smoking habits (p=0.090) did not show a statistically significant association. Multivariate analysis showed that age was the dominant factor associated with hypertension (OR=4.13; 95% CI: 1.61–10.59). Conclusion: Age, family history, and a high-fat diet are important determinants of hypertension.   Keywords: Age; Diet; Family History; Hypertension; Risk Factors.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular utama dan masalah kesehatan global yang signifikan karena berpotensi menyebabkan komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal. Meningkatnya prevalensi hipertensi dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko demografis, genetik, dan perilaku. Tujuan: Untuk menganalisis faktor-faktor penentu risiko yang terkait dengan kejadian hipertensi pada pasien Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi terdiri dari pasien yang berkunjung ke Poliklinik Penyakit Dalam di Rumah Sakit Royal Prima Medan. Sebanyak 153 responden dipilih menggunakan teknik sampling purposif. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur, wawancara, dan pengukuran tekanan darah langsung menggunakan sphygmomanometer dan stetoskop. Data dianalisis menggunakan analisis univariat, uji Chi-square untuk analisis bivariat, dan regresi logistik biner untuk analisis multivariat. Hasil: Menunjukkan bahwa usia (p=0,002), riwayat keluarga hipertensi (p=0,001), dan pola makan tinggi lemak (p=0,005) secara signifikan terkait dengan insidensi hipertensi. Sementara itu, jenis kelamin (p=0,180) dan kebiasaan merokok (p=0,090) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik. Analisis multivariat menunjukkan bahwa usia merupakan faktor dominan yang terkait dengan hipertensi (OR=4,13; 95% CI: 1,61–10,59). Simpulan: Usia, riwayat keluarga, dan pola makan tinggi lemak merupakan penentu penting terjadinya hipertensi.   Kata Kunci: Faktor Risiko; Hipertensi; Pola Makan; Riwayat Keluarga; Usia.
Faktor klinis dan demografis yang memengaruhi outcome pascaoperasi pada pasien bedah Xiong Cai; Wienaldi Wienaldi; Liena Liena
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.3100

Abstract

Background: Postoperative success is an important indicator of postoperative outcomes used to assess the quality of surgical care in hospitals. Factors related to the surgical procedure also play a role in determining postoperative outcomes. The type of surgery, the complexity of the procedure, and the duration of the surgery can influence the patient's physiological condition during and after surgery. Purpose: To analyze factors influencing postoperative outcomes in hospitalized patients. Method: This study used a quantitative observational approach with an analytical approach. The study was conducted on inpatients at Royal Prima Medan Hospital in 2025. Bivariate and multivariate analyses were applied to assess the relationship between variables. Results: Age, type of surgery, duration of surgery, and comorbidity status were significantly associated with postoperative outcomes (p < 0.05), while gender had no significant effect (p = 0.542). Patients aged ≤45 years and without comorbidities mostly experienced optimal recovery, while patients >45 years with comorbidities or undergoing emergency surgery tended to require further monitoring. Multivariate analysis confirmed comorbidity as the dominant factor increasing the risk of requiring further monitoring (OR = 3.78; 95% CI: 1.59–9.11; p = 0.003). Conclusion: The role of physiological reserve, surgical complexity, and comorbidities influence the postoperative recovery process.   Keywords: Age; Clinical Risk; Comorbid Status; Duration of Surgery; Postoperative Outcomes; Type Of Surgery.   Pendahuluan: Keberhasilan pascaoperasi merupakan salah satu indikator penting dari outcome pascaoperasi yang digunakan untuk menilai mutu pelayanan bedah di rumah sakit. Faktor yang berkaitan dengan tindakan pembedahan juga berperan dalam menentukan outcome pascaoperasi. Jenis operasi, tingkat kompleksitas tindakan, serta lama operasi dapat memengaruhi kondisi fisiologis pasien selama dan setelah pembedahan. Tujuan: Untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi outcome pascaoperasi pada pasien rawat inap. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional kuantitatif dengan pendekatan analitik yang dilakukan kepada pasien rawat inap di RSU Royal Prima Medan tahun 2025. Analisis bivariat dan multivariat diterapkan untuk menilai hubungan antarvariabel. Hasil: Usia, jenis operasi, lama operasi, dan status komorbid berhubungan signifikan dengan outcome pascaoperasi (p < 0.05), sedangkan jenis kelamin tidak berpengaruh signifikan (p = 0.542). Pasien usia ≤45 tahun dan tanpa komorbid mayoritas mengalami pemulihan optimal, sementara pasien >45 tahun dengan komorbid, atau menjalani operasi emergensi cenderung memerlukan pemantauan lanjutan. Analisis multivariat menegaskan status komorbid sebagai faktor dominan yang meningkatkan risiko perlunya pemantauan lanjutan (OR = 3.78; 95% CI: 1.59–9.11; p = 0.003). Simpulan: Peran cadangan fisiologis, kompleksitas operasi, dan kondisi medis penyerta memengaruhi proses pemulihan pascaoperasi.   Kata Kunci: Jenis Operasi; Lama Operasi; Outcome Pascaoperasi; Risiko Klinis; Status Komorbid; Usia.