Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengembangan Sistem Informasi Kampung Berbasis Teknologi Informasi Geospasial di Nagari Anduring Kabupaten Padang Pariaman Azhari Syarief; Febriandi Febriandi
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 6 No 4 (2024): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v6i4.792

Abstract

Kenagarian Anduring, terletak di Sumatera Barat, Indonesia, memiliki potensi wisata dan keindahan alam yang belum tergali sepenuhnya. Namun, kendala utama yang dihadapi adalah kurangnya pengembangan sistem informasi kampung berbasis geospasial. Dengan luas 133,85 km2 dan penduduk 8225 jiwa, nagari ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata. Keterbatasan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi, seperti akses internet, menjadi tantangan utama yang mempengaruhi ketersediaan data penting seperti basis data, data rumah, dan data penduduk. Pengembangan sistem informasi kampung perlu didukung oleh peningkatan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi. Pengabdian masyarakat menggunakan model Participatory Rural Appraisal (PRA) dengan pendekatan Focus Group Discussion (FGD) dan pelatihan aparatur nagari. Berdasarkan hasil kegiatan pelatihan yang telah dilaksanakan diperoleh bahwa terdapat peningkatan signifikan pada pemahaman aparatur pemerintah nagari terkait konsep dan teknis pembuatan sistem informasi kampung. Pelatihan membekali tim pengembang dengan keterampilan geospasial untuk memajukan desa.
Analisis Perubahan Pertanian Lahan Basah Pasca Bencana Banjir Dan Longsor Di Kecamatan Tanjung Raya Alifah Rahmadiyati Wahyuningrum; Azhari Syarief
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.12932

Abstract

Pertanian lahan basah memiliki peranan penting dalam mendukung ketersediaan pangan, keberlanjutan mata pencaharian masyarakat, dan stabilitas lingkungan. Namun, perubahan penggunaan lahan serta kejadian bencana banjir dan longsor dapat memengaruhi luas, kondisi, dan fungsi produksi lahan pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan pertanian lahan basah tahun 2014–2025 serta menganalisis kondisi dan sebaran pertanian lahan basah pascabencana banjir dan longsor di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan keruangan berbasis Sistem Informasi Geografis dan penginderaan jauh. Data penelitian meliputi citra Google Earth tahun 2014, citra Sentinel-2 tahun 2025, citra Google Earth tahun 2026, batas administrasi, observasi lapangan, dokumentasi, dan wawancara dengan Dinas Pertanian Kabupaten Agam. Analisis dilakukan melalui interpretasi citra, digitasi, klasifikasi berbasis GeoAI menggunakan Google Colab, koreksi hasil klasifikasi, perhitungan luas, dan teknik overlay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas pertanian lahan basah mengalami penurunan dari 2.388,24 ha pada tahun 2014 menjadi 2.174,45 ha pada tahun 2025 atau berkurang sebesar 213,79 ha (8,95%). Perubahan tidak terjadi secara merata karena Nagari Koto Kaciak mengalami peningkatan sebesar 18,89 ha, sedangkan nagari lainnya mengalami penurunan. Luas pertanian lahan basah terdampak banjir dan longsor mencapai 215,18 ha yang tersebar di Nagari Bayua, Koto Kaciak, Maninjau, Sungai Batang, dan Tanjung Sani. Dampak terluas terdapat di Nagari Sungai Batang sebesar 99,09 ha atau 46,05% dari total luas terdampak. Setelah dilakukan analisis overlay, luas pertanian lahan basah eksisting pascabencana tercatat sebesar 1.964,38 ha. Program optimalisasi lahan telah mencapai sekitar 75%, sedangkan lahan yang telah dipanen baru sekitar 10% dari lahan yang dipulihkan. Hasil penelitian menunjukkan perlunya rehabilitasi lahan, perbaikan jaringan irigasi, dukungan kegiatan produksi, dan pemantauan spasial secara berkelanjutan.