Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Reformist Muslim Discourse in the Sundanese Commentary of the Qur’ān: E. Abdurrahman’s Commentary on QS. Al-Hujurāt Roni Nugraha; Jajang A Rohmana
Jurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'an dan Hadis Vol. 22 No. 2 (2021): Juli
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/qh.2021.2202-04

Abstract

This article focuses on reformist Muslim discourse in the Sundanese commentary of the Qur’ān or tafsīr, entitle Sababaraha Naséhat Tina Qur’an Surat al-Hudjurot, some advice of sūrah Al-Hujurāt (1971). The book was written by E. Abdurrahman (1912-1983), an activist of a reformist Islamic organization, Islamic Union (Persatuan Islam or Persis). He has been a chairman of Persis from 1962-1983. They have a slogan “back to the Qur’ān and Hadīth” as well as to oppose the taqlīd and heresy. E. Abdurrahman explained Q. 49 or sūrah Al-Hujurāt in the frame of his ideology as an activist of Persis. Following his commentary of Q. 49:1, the prohibition against practicing Islam before find dalīl or textual instructions of the Qur’ān and Hadīth. He also interpreted Q. 49:6 on recheck the news as a form of prohibition taqlīd. Meanwhile, Q. 49:9-10 was interpreted by him to emphasizes the strengthening of reformist followers. Using Fairclough’s critical discourse analysis, this study confirms that E. Abdurrahman’s commentary cannot be separated from his reformist ideology. He used Sundanese Quranic commentary to convey the reformist ideas against traditionalist Muslims in West Java.
BABASAN JEUNG PARIBASA DALAM TAFSIR “SESEMPERAN TINA IBER” KARYA SAYUB SAYIDIN Roni Nugraha
AL-IBANAH Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.528 KB) | DOI: 10.54801/iba.v6i2.72

Abstract

Abstract Persis as an organization centered at the Pasundan level, Persis uses Sundanese as a medium of da'wah, this is evidenced by the publication of the Sundanese language magazine At-Taqwa (1937). This magazine was discontinued during the revolution and was republished in 1949-1954. In 1967 the Bandung Branch together with E. Abdullah published Iber magazine which lasted until 2014. This Sundanese language magazine which lasted for approximately 47 years presented various Islamic studies, ranging from the rubric of interpretation to istifta. This research method uses qualitative methods. According to Bodgan and Taylor, qualitative methodology is a research procedure that produces descriptive data in the form of written or spoken words from people and observable behavior. This study will try to examine the Sundanese interpretation of Sayub Sayidin. The primary data source of this research is Sayub Sayidin's interpretation in Semperan Mutiara Iber. Judging from the source of his interpretation, Sayub Sayidin's commentary published in Iber magazine can be categorized as a biriwayat/bilmatsur interpretation. There are 17 chapters used by Sayub Sayidin to interpret the verses of the Koran. Babasan is deliberately presented as Sayub's criticism of the reality of people's lives, with the hope that through babasan in interpreting the Qur'an there will be a change in people's mindset.   Keywords: Sundanese, Tafsir, Persis.   Abstrak Persis sebagai organisasi yang berpusat di tatar Pasundan, Persis menjadikan bahasa Sunda sebagai media dakwah, hal ini terbukti dengan diterbitkannya majalah berbahasa Sunda At-Taqwa (1937). Majalah ini sempat berhenti pada masa revolusi dan kembali terbit pada tahun 1949-1954. Pada tahun 1967, persis cabang Bandung bersama E. Abdullah mengeluarkan majalah Iber yang bertahan hingga tahun 2014. Majalah bahasa sunda yang bertahan kurang lebih selama 47 tahun ini menyajikan berbagai kajian keislaman, dari rubrik tafsir hingga Istifta. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Menurut Bodgan dan Taylor, metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian ini akan mencoba mengkaji tafsir Sunda dari Sayub Sayidin. Sumber data primer dari penelitian ini adalah tafsir Sayub Sayidin dalam Sesemperan Mutiara Iber. Ditinjau dari perspektif sumber tafsir, tafsir Sayub Sayidin yang dipublikasikan pada majalah Iber bisa dikategorikan sebagai tafsir biriwayat/bilmatsur. Terdapat 17 babasan yang digunakan Sayub Sayidin untuk menafsirkan ayat-ayat al-Quran. Babasan tersebut sengaja didatangkan sebagai kritik Sayub terhadap realitas kehidupan masyarakat yang dengannya ia berharap melalui babasan dalam menafsirkan al-Quran terjadi perubahan pola pikir di kalangan masyarakat.   Kata kunci: bahasa sunda, Tafsir, Persis.  
BABASAN JEUNG PARIBASA DALAM TAFSIR “SESEMPERAN TINA IBER” KARYA SAYUB SAYIDIN Roni Nugraha
AL-IBANAH Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.528 KB) | DOI: 10.54801/iba.v6i2.72

Abstract

Abstract Persis as an organization centered at the Pasundan level, Persis uses Sundanese as a medium of da'wah, this is evidenced by the publication of the Sundanese language magazine At-Taqwa (1937). This magazine was discontinued during the revolution and was republished in 1949-1954. In 1967 the Bandung Branch together with E. Abdullah published Iber magazine which lasted until 2014. This Sundanese language magazine which lasted for approximately 47 years presented various Islamic studies, ranging from the rubric of interpretation to istifta. This research method uses qualitative methods. According to Bodgan and Taylor, qualitative methodology is a research procedure that produces descriptive data in the form of written or spoken words from people and observable behavior. This study will try to examine the Sundanese interpretation of Sayub Sayidin. The primary data source of this research is Sayub Sayidin's interpretation in Semperan Mutiara Iber. Judging from the source of his interpretation, Sayub Sayidin's commentary published in Iber magazine can be categorized as a biriwayat/bilmatsur interpretation. There are 17 chapters used by Sayub Sayidin to interpret the verses of the Koran. Babasan is deliberately presented as Sayub's criticism of the reality of people's lives, with the hope that through babasan in interpreting the Qur'an there will be a change in people's mindset.   Keywords: Sundanese, Tafsir, Persis.   Abstrak Persis sebagai organisasi yang berpusat di tatar Pasundan, Persis menjadikan bahasa Sunda sebagai media dakwah, hal ini terbukti dengan diterbitkannya majalah berbahasa Sunda At-Taqwa (1937). Majalah ini sempat berhenti pada masa revolusi dan kembali terbit pada tahun 1949-1954. Pada tahun 1967, persis cabang Bandung bersama E. Abdullah mengeluarkan majalah Iber yang bertahan hingga tahun 2014. Majalah bahasa sunda yang bertahan kurang lebih selama 47 tahun ini menyajikan berbagai kajian keislaman, dari rubrik tafsir hingga Istifta. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Menurut Bodgan dan Taylor, metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian ini akan mencoba mengkaji tafsir Sunda dari Sayub Sayidin. Sumber data primer dari penelitian ini adalah tafsir Sayub Sayidin dalam Sesemperan Mutiara Iber. Ditinjau dari perspektif sumber tafsir, tafsir Sayub Sayidin yang dipublikasikan pada majalah Iber bisa dikategorikan sebagai tafsir biriwayat/bilmatsur. Terdapat 17 babasan yang digunakan Sayub Sayidin untuk menafsirkan ayat-ayat al-Quran. Babasan tersebut sengaja didatangkan sebagai kritik Sayub terhadap realitas kehidupan masyarakat yang dengannya ia berharap melalui babasan dalam menafsirkan al-Quran terjadi perubahan pola pikir di kalangan masyarakat.   Kata kunci: bahasa sunda, Tafsir, Persis.  
Karakteristik Tafsir Surat Al-Fatihah E. Abdullah Roni Nugraha
Journal of Ulumul Qur'an and Tafsir Studies Vol. 1 No. 1 (2022): JUQUTS: Journal of Ulumul Qur'an and Tafsir Studies
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.715 KB) | DOI: 10.54801/juquts.v1i1.87

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh perkembangan tafsir di Indonesia terutama surat al-Fatihah sebagai sarana (thoriqot) dalam mengenal Allah ﷻ (ma`rifatullah) melalui al-Qur`an. Membaca al-Qur`an yaitu jalan untuk mengenal Allah ﷻ tanda hamba mencintai Allah ﷻ dengan beriman dan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ. Namun, banyak masyarakat yang menyalahartikan karakteristik yang tersirat di dalam surat ini, sehingga hanya terfokus pada surat al-Fatihah sebagai inti do`a. Tujuan peneletian ini mengetahui metode yang dibangun oleh K.H E.Abdullah dalam tafsir ahkamnya surat al-Fatihah.metode yang digunakan yaitu Library Research Dengan metode analisis studi tokoh dan aspek-aspek yang dicantumkan yaitu karakteristik tafsir surat al-Fatihah K.H E.Abdullah. ditemukan bahwa metode penafsiran yang digunakan oleh K.H E. Abdurahman metode tafsir bir-riwayat dengan Pendekatan (ushlub) tahlili dan bercorak fiqih namun arah beliau lebih kepada corak Akhlaq. Langkah penafsirannya melalui metode thuruq isthinbatul ahkam lalu dikumpulkan, diteliti kerajihan, syarat diterimanya tafsir bi al-matsur sanadnya shahih. Beliau memakai akal (ra`yu) memberikan kesimpulan agar masyarakat memilih perbuatan yang lebih utama (ahsan).
PEREDARAN WAKTU SEBAGAI GAMBARAN PERJALANAN HIDUP MANUSIA: ANALISIS METAFORIS TERHADAP TAFSIR SUNDA Q.S. AL-FAJR/89: 1-4 KARYA K.H.E. ABDULLAH Intan Permanik; Roni Nugraha
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 8 No 02 (2023): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v8i02.5330

Abstract

Artikel ini membahas tentang tafsir atau tafsir Al-Qur'an KHE Abdullah (1918 - 1994) tentang waktu dalam Al-Quran Surah al-Fajr/89: 1-4. Ia tidak hanya memaknai fenomena waktu ini secara harafiah, namun ia juga menggambarkannya secara kiasan sebagai perjalanan hidup manusia. Tafsir Al-Qur'an beliau dimuat di majalah Sunda bernama Iber edisi September-Desember 1976 dalam rubrik tafsir Al-Qur'an. E. Abdullah dikenal sebagai aktivis Persatuan Islam (PERSIS) yang merupakan generasi kedua setelah A. Hassan. Melalui pendekatan hermeneutika Gadamer, penelitian ini menunjukkan bahwa tafsir al-Qur’an E. Abdullah tentang makna kiasan waktu dipengaruhi oleh wawasannya sebagai orang Sunda yang mempunyai pandangan tertentu terhadap waktu dalam budaya kesehariannya. Penelitian ini menunjukkan bahwa tafsir Al-Qur'an E. Abdullah tentang waktu menggambarkan perjalanan hidup manusia yang terlihat pada kata al-fajr yang berarti usia muda; layāl 'ashr (sepuluh malam) digambarkan sebagai peralihan usia dari bayi ke penuaan; as-shaf' artinya sebagai usia dewasa genap ketika mencapai puncak usia menuju keganjilan di usia tua sebagai gambaran al-watr; dan berlalunya masa muda menuju usia tua menunjukkan makna wa al-layl idhā yasr (demi malam yang dilaluinya). Hal ini menegaskan bahwa tafsir Al-Qur’an berbahasa Sunda cenderung dipengaruhi oleh latar belakang etnis Sunda yang masuk Islam dan bekerja melalui faktor bahasa Sunda sebagai identitas utama etnisnya.
Islamic Mentoring at Masjid Syamsul Ulum: A Character-Building Strategy for Telkom University Students Based on HEI Values Asdianur Hadi; Roni Nugraha; Nurmawan Nurmawan
Urwatul Wutsqo: Jurnal Studi Kependidikan dan Keislaman Vol. 14 No. 2 (2025): Sociocultural Islamic Education
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) IAI Al Urwatul Wutsqo - Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54437/urwatulwutsqo.v14i2.2305

Abstract

This article examines the mentoring program at Masjid Syamsul Ulum, Telkom University, as a model of Islamic character education based on campus mosques, integrated with the values of Harmony, Excellence, and Integrity (HEI) in a technology-based higher education environment. This study aims to describe the structure, implementation, and evaluation of the mentoring program, including its curriculum and its contribution to students' spiritual, social, and leadership competencies. The research employed a descriptive qualitative approach through document analysis (program proposals, modules, evaluation reports, and organizational statutes), complemented by student perception data collected via a questionnaire. The results indicate that the mentoring program at Masjid Syamsul Ulum is systematically designed with modules, measurable evaluation rubrics, and a sustainable mentor regeneration system, and is well-received by students. This integration has successfully internalized Islamic values while strengthening students' collaboration, soft skills, and social responsibility as digital native learners. In conclusion, the campus mosque mentoring program is proven to be strategic in supporting professional, adaptive Islamic character development and is worthy of replication in other universities.
Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Nilai Keagamaan dalam Membentuk Sikap Religius Anak Usia Dini Sopia Aprilia Ningsih; Achmad Muharram Basyari; Anie Rohaeni; Roni Nugraha
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 3 Agustus (2025): Didaktika Jurnal Kependidikan
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.2860

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi pendidikan karakter berbasis nilai keagamaan dalam membentuk sikap religius anak usia dini dengan mengambil studi kasus di KOBER-RA Tunas Harapan, Baleendah, Kabupaten Bandung. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta analisis data melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman nilai religius, kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab dilakukan melalui strategi pembiasaan, keteladanan, dan integrasi nilai dalam aktivitas harian. Indikator perkembangan sikap religius diukur melalui observasi perilaku, seperti kemampuan sholat lima waktu, bersikap sopan, dan menunjukkan empati. Kendala utama dalam implementasi meliputi perbedaan latar belakang keluarga dan keterbatasan waktu pembelajaran. Keberhasilan program dipengaruhi oleh sinergi sekolah, guru, orang tua, dan lingkungan sekitar. Temuan ini menegaskan bahwa pembentukan karakter religius anak usia dini memerlukan pendekatan holistik yang menghubungkan pendidikan di rumah dan sekolah dengan dukungan pendidik yang kompeten serta kebijakan lembaga yang kondusif.
Strengthening Character Through Comparative Rhetoric and Istifham: A Study on E. Abdurrahman’s Thoughts on Character Education Roni Nugraha; Joyce Bulan Basrawi; Adudin Adudin Alijaya
Khazanah Pendidikan Islam Vol. 6 No. 1 (2024): Khazanah Pendidikan Islam
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/kpi.v6i1.40701

Abstract

This article examines the Strengthening of Character through Comparative Rhetoric and Istifham (Rhetorical Questions): A Study of E. Abdurrahman’s Thoughts on Moral Education. As a second-generation activist of the PERSIS organization, besides being proficient in the field of fiqh, E. Abdurrahman demonstrated significant attention to moral education. He published at least 87 articles on moral education in various Islamic magazines between 1936 and 1983. The findings of this study indicate three key principles of moral education: moral education should be elevated from mere ability (bisa) to habitual practice (biasa); it must culminate in loyalty to God; and it should be student-centered, grounded in the philosophy of ngajeujeuhkeun. The concepts of "giving and sustaining life," "ensuring and promoting safety," and "establishing and maintaining security" are three essential terms used to define the goals of moral education. From the 87 articles, E. Abdurrahman’s core materials on moral education can be categorized into eleven topics: the purpose of life, the profile of the ideal human, the urgency of moral education, heart cultivation, life resources, justice, balance, the inner dimension of worship, food and drink, death, and shame. From the perspective of strengthening moral education, Abdurrahman positioned tawahum (empathy) as a pillar for determining the methods of moral education. At the implementation level, tawahum is associated with the teacher's ability to engage in persuasive communication by employing various rhetorical styles that touch emotions, such as comparative rhetoric and istifham.
Penguatan Pendidikan Islam Melalui Nadhaman Asep Syarifuddin; Nia Daniyatul Magfiroh; Nelis Lestari SM; Roni Nugraha
AL-IBANAH Vol. 10 No. 2 (2025): Journal Al-Ibanah
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/2banah.v10i2.387

Abstract

Dalam tradisi keilmuan Islam, nadham digunakan sebagai metode efektif dalam menyampaikan dan menghafalkan materi keagamaan, seperti ilmu tauhid, fiqih, nahwu, dan akhlak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengertian nadham serta implementasinya dalam konteks pendidikan pesantren dan isu-isu sosial keagamaan. Metode yang digunakan adalah studi pustaka terhadap literatur berbahasa Indonesia yang membahas nadham, termasuk kitab "Aqidatul Awam", "Syifaul Ummah", dan "Mitsaq al-Madinah" karya KH. Taufiqul Hakim. Hasil kajian menunjukkan bahwa nadham tidak hanya memiliki fungsi edukatif dalam pengajaran klasik, tetapi juga adaptif dalam menyampaikan pesan-pesan moral, nasionalisme, dan moderasi beragama di era kontemporer. Dengan gaya penyampaian yang estetis dan mudah diingat, nadham menjadi media dakwah dan pendidikan yang relevan di berbagai kalangan masyarakat.
Adab Berinteraksi dengan Literatur Perspektif Ibnu Jama’ah dalam Kitab Tadzkiratus Saami’ Agus Sopian; Roni Nugraha; Ela Komala
JURNAL SYNTAX IMPERATIF : Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 7 No. 2 (2026): Jurnal Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/syntaximperatif.v7i2.1123

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya problem etika akademik kontemporer, seperti plagiarisme, fabrikasi data, publikasi predator, serta lemahnya penghormatan terhadap karya ilmiah. Dalam tradisi keilmuan Islam, adab memiliki kedudukan penting sebagai dasar pembentukan karakter penuntut ilmu, termasuk ketika berinteraksi dengan literatur. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep adab berinteraksi dengan literatur menurut Ibnu Jama’ah dalam kitab Tadzkiratus Saami’, menganalisis relevansinya dengan problematika akademik kontemporer, serta mengidentifikasi implikasinya terhadap penguatan budaya akademik yang berintegritas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian pustaka dan metode analisis isi. Sumber data primer adalah kitab Tadzkiratus Saami’, sedangkan data sekunder diperoleh dari kitab, buku, dan penelitian terdahulu yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibnu Jama’ah merumuskan adab berinteraksi dengan literatur secara komprehensif, meliputi adab mengoleksi, meminjamkan, merawat, menyalin, mengoreksi, dan menelaah kitab. Konsep tersebut relevan dengan etika akademik modern karena menekankan kejujuran intelektual, ketelitian, penghormatan terhadap karya orang lain, serta tanggung jawab dalam menyebarluaskan ilmu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa adab berliteratur perspektif Ibnu Jama’ah dapat menjadi landasan etis dalam membangun budaya akademik yang jujur, kritis, bertanggung jawab, dan berkarakter mulia