Livia Syafnir
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam Bandung

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Kajian Pustaka Aktivitas Antioksidan Ekstrak Beberapa Kulit Pisang (Musa paradisiaca) Menggunakan Metode DPPH Renata Jilan Azzahra Sonjaya; Livia Syafnir; Kiki Mulkiya
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14834

Abstract

Abstract. Banana is one of Indonesia's native plants that can be utilized for various purposes and is often consumed by the community. Generally, people only utilize the fruit part of the banana and consider the banana peel as waste material. Banana peel which is considered as waste turns out to have potential as an antioxidant because it contains secondary metabolites such as phenols and flavonoids. In this study, a literature search was conducted to collect and analyze research results related to the antioxidant activity of several banana peel extracts using the DPPH method and the IC50 value parameter. Abstrak. Pisang merupakan salah satu tumbuhan asli negara Indonesia dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan dan sering dikonsumsi oleh masyarakat. Umumnya masyarakat hanya memanfaatkan bagian buah pisang saja dan menganggap kulit pisang sebagai bahan buangan atau limbah. Kulit pisang yang dianggap sebagai limbah ternyata berpotensi sebagai antioksidan karena mengandung metabolit sekunder seperti fenol dan flavonoid. Dalam penelitian ini dilakukan penelusuran pustaka ini bertujuan untuk mengumpulkan dan menganalisis hasil-hasil penelitian terkait aktivitas antioksidan dari ekstrak beberapa kulit pisang menggunakan metode DPPH dan parameter nilai IC50.
Pengujian Secara In Vitro Aktivitas Potensi Tabir Surya Ekstrak Kulit Buah Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia (Cristm.) Swingle) Lulu Mumtaz; Thyazen Abdo Hizam Alhakimi; Livia Syafnir
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14900

Abstract

Abstract. Skin is the outermost protective layer of body, so it needs to be protected. Exposure UV rays has been proven to affect the skin, where UV-A rays are cause skin aging, and UV-B is cause redness. One way to protect skin from exposure UV rays is use sunscreen. Lime peel has potential as a sunscreen because it contains flavonoids, tannins and phenols which have conjugated double bonds which can make them absorb UV rays. This research aims to test lime peel extract which has potential as a sunscreen by determining Sun Protection Factor (SPF) value, percent transmission value of erythema (%Te), and percent transmission of pigmentation (%Tp), as well as looking at the effect of different extraction methods on the SPF value, %Te, and %Tp. Based on the research results, it is known that lime peel (Citrus aurantifolia (Critsm) Swingle) has potential as a sunscreen where at a concentration of 600 ppm an SPF value of 39.76, %Te 0.020%, and %Tp 0.857% is obtained for the reflux extraction method, and SPF value was 39.71, %Te 0.021%, and %Tp 0.978% for maceration extraction method. Based on the results obtained, it is known that there are no differences in the categories of SPF values, %Te and %Tp in maceration and reflux extraction method. Abstrak. Kulit merupakan lapisan pelindung terluar pada tubuh, sehingga perlu dilindungi. Paparan sinar UV terbukti dapat mempengaruhi kulit, dimana sinar UV-A berhubungan dengan penuaan kulit, dan UV-B berhubungan dengan kemerahan kulit. Salah satu cara untuk melindungi kulit dari paparan sinar UV ini adalah dengan memakai tabir surya. Kulit buah jeruk nipis memiliki potensi sebagai tabir surya karena mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan fenol yang memiliki ikatan rangkap terkonjugasi yang dapat membuatnya menyerap sinar UV. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengujian terhadap ekstrak kulit buah jeruk nipis yang berpotensi sebagai tabir surya melalui penentuan nilai sun protection factor (SPF), nilai persen transmisi eritema (%Te), dan persen transmisi pigmentasi (%Tp), juga melihat pengaruh perbedaan metode ekstrkasi terhadap nilai SPF, %Te, dan %Tp. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kulit buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia (Critsm) Swingle) memiliki potensi sebagai tabir surya dimana pada konsentrasi 600 ppm diperoleh nilai SPF 39,76, %Te 0,020%, dan %Tp 0,857% untuk metode ekstraksi refluks, dan diperoleh nilai SPF 39,71, %Te 0,021%, dan %Tp 0,978% untuk metode ekstraksi maserasi. Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa tidak ada perbedaan kategori nilai SPF, %Te dan %Tp pada metode ekstraksi maserasi dan refluks.
Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak dan Fraksi Daun Saga (Abrus precatorius L) terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis Salma Sayyidatunnisa; Kiki Mulkiya; Livia Syafnir
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14962

Abstract

Abstract. Saga (Abrus precatorius L) possess antibacterial effects. S.epidermidis is a normal flora present on the skin, respiratory tract, and digestive tract of humans. This study aims to evaluate the antibacterial activity of saga leaf extracts and fractions against S.epidermidis. Extraction was performed using the maceration method with 96% ethanol. Antibacterial activity was tested using the agar diffusion method at concentrations of 1%, 5%, 10%, and 15% for each sample of saga leaf extract and fractions. The results indicate that saga leaf extracts and fractions possess antibacterial activity against S.epidermidis, as evidenced by the formation of inhibition zones. Inhibition zones for the extract and n-hexane fraction were first observed at a concentration of 10%, with inhibition zone diameters of 7.96 mm and 17.2 mm, respectively, and at 15% concentration with diameters of 8.23 mm and 18.1 mm, respectively. The ethyl acetate fraction showed inhibition zones at all tested concentrations 1%, 5%, 10%, and 15% with inhibition zone diameters of 10,76, 19,76, 20.63 , and 28,06 mm, respectively. In contrast, the aqaudest fraction did not show any inhibition zones at all concentrations. Abstrak. Daun saga (Abrus precatorius L) memiliki efek antibakteri. Bakteri S.epidermidis adalah flora normal pada kulit, saluran napas, dan saluran cerna manusia. Tujuan penelitian ini adalah melakukan pengujian aktivitas antibakteri ekstrak dan fraksi daun saga terhadap S.epidermidis. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar pada konsentrasi 1%, 5%, 10%, dan 15% untuk setiap sampel ekstrak dan fraksi daun saga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak dan fraksi daun saga memiliki aktivitas antibakteri terhadap S.epidermidis dengan terbentuknya zona hambat. Zona hambat yang terbentuk pada ekstrak dan fraksi n-heksana mulai pada konsentrasi 10% dengan diameter hambat dari ekstrak daun saga dan fraksi n-heksana berturut-turut sebesar 7,96 mm dan 17,2 mm dan pada konsentrasi 15% dengan diamater hambat 8,23 mm dan 18,1 mm. Pengujian pada fraksi etil asetat memiliki zona hambat pada setiap konsentrasi uji 1%, 5%, 10% dan 15% memiliki daya hambat terhadap S.epidermidis dengan zona hambat berturut-turut sebesar 10,76 , 19,76 , 20,63, dan 28,06 mm. Sedangkan pada fraksi air di semua konsentrasi tidak memiliki zona hambat.
Pengujian Kadar Antosianin Bunga Pagoda (Clerodendrum paniculatum L.) Berdasarkan Variasi Penambahan Asam Meytha Putri Dewanty; Livia Syafnir; Vinda Maharani Patricia
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15515

Abstract

Abstract. Anthocyanin is a natural coloring that belongs to the flavonoid group. Pagoda flowers have anthocyanins which can be separated by choosing an extraction method to find out the right extraction to induce the highest levels of anthocyanins in pagoda flowers because anthocyanins are unstable compounds. This research aims to determine the level of pagoda flowers. Anthocyanin levels were determined using a differential pH strategy with Uv-Vis spectrophotometry. The results of determining the concentration of anthocyanin levels in pagoda flowers in 1% HCl were 8,75 mg/100 g and in potassium acetate they were 1,20 mg/100g. Abstrak. Antosianin merupakan warna alami yang termasuk dalam golongan flavonoid. Bunga pagoda mempunyai antosianin yang dapat dipisahkan dengan memilih metode ekstraksi untuk mengetahui ekstraksi yang tepat untuk menginduksi kadar antosianin tertinggi pada bunga pagoda karena antosianin merupakan senyawa tidak stabil. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar pada bunga pagoda . Kadar antosianin ditentukan menggunakan strategi pH diferensial dengan spektrofotometri Uv-Vis. Hasil penetapan konsenterasi kadar antosianin bunga pagoda pada HCl 1% adalah sebesar 8,75 mg/100 g dan pada kalium asetat adalah sebesar 1,20 mg/ 100g.
Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol dari Kombinasi Kulit Jeruk Siam (Citrus nobilis L.) dan Kulit Jeruk Lemon (Citrus limon L.) dengan Metode DPPH (2,2-Difenil-1 Pikrilhidrazil) Salma Sadilla; Livia Syafnir; Kiki Mulkiya Y
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15579

Abstract

Abstract. Antioxidants are important compounds in our body because their task is to block or inhibit free radical molecules, because they have unpaired electrons on their outer shell, free radicals are very reactive, causing a continuous chain reaction. Siamese orange (Citrus nobilis L.) and lemon (Citrus limon L.) are very good plants for antioxidants because they contain Vitamin C. This study aims to test the antioxidant activity of the combination of both using the DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) method. Maceration method was used in the extraction process of both ingredients with 96% ethanol solvent. Phytochemical screening was conducted to identify the content of phytochemical compounds in simplisia and extracts. Antioxidant activity testing was carried out by measuring the IC50 value using a spectrophotometer at a maximum wavelength of 516 nm, with vitamin C as a comparison. The results of phytochemical screening on simplisia and extracts show that siamese orange peel (KJS) contains alkaloid compounds, polyphenolates, flavonoids, saponins, anthraquinones, and monoterpenes and sesquiterpenes. While in simplisia and lemon peel extract (KJL) contains alkaloid compounds, polyphenolics, flavonoids, anthraquinones, monoterpenes and sesquiterpenes as well as triterpenoids and steroids. Antioxidant activity testing shows that chirpy orange peel extract has an IC50 value = 373.63 ppm while lemon peel extract has an IC50 value = 26.43 ppm. The combination of the two citrus peel extracts showed an IC50 value of 183.52 ppm with a ratio of 1:1. Thus, KJL extract has stronger antioxidant activity potential compared to KJS extract. And the combination of KJS and KJL extracts has a weaker antioxidant activity potential than the single KJL extract. Abstrak. Antioksidan merupakan senyawa penting dalam tubuh kita karena tugasnya memblokir atau menghambat molekul radikal bebas, karena memiliki electron tidak berpasangan pada kulit terluarnya, radikal bebas sangat reaktif sehingga menyebabkan reaksi berantai yang berkelanjutan. Jeruk siam (Citrus nobilis L.) dan jeruk lemon (Citrus limon L.) adalah tanaman yang sangat baik untuk antioksidan karena mengandung vitamin C. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengujian aktivitas antioksidan kombinasi keduanya menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Metode maserasi digunakan dalam proses ekstraksi kedua bahan dengan pelarut etanol 96%. Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengidentifikasi kandungan senyawa-senyawa fitokimia dalam simplisia dan ekstrak. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan mengukur nilai IC50 menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang maksimum 516 nm, dengan vitamin C sebagai pembanding. Hasil skrining fitokimia pada simplisia dan ekstrak menunjukkan bahwa kulit jeruk siam (KJS) mengandung senyawa alkaloid, polifenolat, flavonoid, saponin, antrakuinon, serta monoterpen dan seskuiterpen. Sedangkan pada simplisia dan ekstrak kulit jeruk lemon (KJL) mengandung senyawa alkaloid, polifenolat, flavonoid, antrakuinon, monoterpen dan seskuiterpen serta triterpenoid dan steroid. Pengujian aktivitas antioksidan menunjukkan ekstrak kulit jeruk siam memiliki nilai IC50 = 373,63 ppm sedangkan ekstrak kulit jeruk lemon memiliki nilai IC50 = 26,43 ppm. Kombinasi ekstrak kedua kulit jeruk menunjukkan nilai IC50 = 183,52 ppm dengan perbandingan 1:1. Dengan demikian, ekstrak KJL memiliki potensi aktivitas antioksidan lebih kuat dibandingkan dengan ekstrak KJS. Dan kombinasi ekstrak KJS dan KJL memiliki potensi aktivitas antioksidan lemah dibandingkan ekstrak KJL tunggal.