Suparman Suparman
Sekolah Tinggi Teologi Injili Efrata Sidoarjo

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Tinjauan Teologis Mengenai Konsep Purgatory dan Implikasinya Terhadap Soteriologi [Theological Review of the Concept of Purgatory and Its Implications for Soteriology] Suparman Suparman; Bimo Setyo Utomo; Dahlia Juliadil Veronica Zebua
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol 6, No 1 (2024): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v6i1.7685

Abstract

The concept of purgatory or what is known as purification is one of the concepts that the Catholic Church believes as a truth for those who during their lifetime had a close relationship with God, but were still not pure enough to enter heaven, so a purification process is needed. The Catholic Church provides the basis of Bible verses and Deuterocanonics to support its teachings and the process will take place according to the sins that have been committed while living in this world. This research uses qualitative methods with a library approach. Using the literature method, the researcher will explain the concept of purgatory in the teachings of the Catholic Church from accurate sources, originating from Catholic circles themselves which will be reviewed theologically-critically to find that the concept of purgatory is contrary to the redemptive work of Jesus Christ on the cross. In the end, the concept of purgatory is not in accordance with what God has stated in His Word and has implications for soteriology, namely: Jesus is the only way of salvation, salvation is a grace, and praying for the dead is not Biblical.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Konsep api penyucian atau yang dikenal dengan istilah purifikasi merupakan salah satu konsep yang diyakini Gereja Katolik sebagai sebuah kebenaran bagi mereka yang semasa hidupnya memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan, namun masih belum cukup murni untuk masuk surga, sehingga diperlukan proses pemurnian. Gereja Katolik memberikan dasar ayat-ayat Alkitab dan Deuterokanonika untuk mendukung ajarannya dan prosesnya akan berlangsung sesuai dengan dosa yang telah dilakukan selama hidup di dunia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Dengan menggunakan metode kepustakaan, peneliti akan menjelaskan konsep api penyucian dalam ajaran Gereja Katolik dari sumber-sumber yang akurat, yang berasal dari kalangan Katolik sendiri yang kemudian akan ditinjau secara teologis-kritis untuk menemukan bahwa konsep api penyucian bertentangan dengan karya penebusan Yesus Kristus di kayu salib. Pada akhirnya, konsep api penyucian tidak sesuai dengan apa yang telah Tuhan nyatakan dalam Firman-Nya dan berimplikasi pada soteriologi, yaitu: Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, keselamatan adalah anugerah, dan mendoakan orang mati tidak Alkitabiah.
MENELAAH TRADISI FOOLA JIMATE DALAM MASYARAKAT NIAS: SEBUAH TINJAUAN TEOLOGIS-KRITIS Popi Yanser Iman Jaya Ndruru; Bimo Setyo Utomo; Suparman
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 5 No. 1 (2024): DA'AT Jurnal Teologi Kristen
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v5i1.1528

Abstract

Foola Jimate merupakan salah satu tradisi yang sudah dipraktikan secara turun temurun oleh sebagian besar masyarakat Nias. Tradisi ini tidak terlepas dari kepercayaan kepada roh nenek moyang dan pemujaan kepada roh leluhur dan bertujuan untuk memutus hubungan antara orang yang telah meninggal dengan keluarganya yang masih hidup supaya tidak ada gangguan dari roh orang yang sudah meninggal kepada orang yang masih hidup. Foola Jimate melibatkan serangkaian acara yang dilakukan tiga hari setelah jenazah telah dikuburkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan penelitian deskriptif dengan melibatkan wawancara kepada para tokoh adat setempat. Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti esensi dari praktik foola jimate, kemudian melakukan tinjauan teologis kritis supaya pembaca memiliki pemahaman yang benar berdas arkan prinsip iman Kristen. Dari hasil penelitian, maka dihasilkan tiga hal yang menjadi hasil , yakni: Alkitab melarang spiritisme, Alkitab melarang sinkretisme, dan perlu pemahaman yang benar mengenai kematian dalam perspektif kristen.
Amsal 12:18 sebagai Landasan Teologis dalam Merespons Fenomena Ujaran Kebencian di Ruang Digital Sapto Harsoyo; Suparman Partoredjo; Saefnat Saetban; Setya Hari Purnomo
SERVITA DEI : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 1 No. 1 (2025): Jurnal Servita Dei
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Efrata Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The phenomenon of hate speech in the digital sphere has become one of the most serious challenges in the context of modern social and religious life. This study aims to analyze Proverbs 12:18 as a theological foundation for responding to the dynamics of hate speech, in order to propose principles of digital communication ethics rooted in biblical wisdom. This research employs a qualitative method with hermeneutical approach to the text of Proverbs 12:18 to explore its theological and ethical dimensions for restorative communication practices. The findings reveal that Proverbs 12:18 emphasizes three core principles: the principle of power and integrity in speech, the principle of wisdom as an ethical framework for communication, and the principle of speech as a means of relational restoration. This study offers both theological and practical contributions in shaping digital communication ethics that are relevant to the contemporary church and society.