Alexander Halim Santoso
University of Tarumanagara, Nutrition Department

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KORELASI ANTARA PROFIL LIPID DAN KOMPOSISI TUBUH PADA DEWASA DI JAKARTA BARAT DAN TIMUR DENGAN KONTROL VARIABEL USIA Robert Kosasih; Alexander Halim Santoso; Fernando Nathaniel
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v5i2.35083

Abstract

Profil lipid dan komposisi tubuh merupakan indikator penting status kesehatan, yang keduanya saling berinteraksi dan berkontribusi terhadap risiko penyakit kardiovaskular. Hubungan antara keduanya pada populasi dewasa di Jakarta masih jarang diteliti. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui korelasi antara profil lipid dan komposisi tubuh pada orang dewasa di Jakarta Barat dan Timur, dengan mengendalikan variabel usia. Metode penelitian ini merupakan studi potong lintang pada 218 responden dewasa (≥20 tahun) yang direkrut di tiga lokasi di DKI Jakarta. Komposisi tubuh diukur menggunakan bioelectrical impedance analysis (BIA) dan profil lipid diperoleh dari analisis darah vena. Analisis korelasi Pearson dan korelasi parsial digunakan untuk mengevaluasi hubungan antara parameter lipid (kolesterol total, HDL, LDL, trigliserida) dengan komponen komposisi tubuh (lemak viseral, subkutan, IMT, otot rangka), dengan kontrol terhadap usia. Kadar trigliserida menunjukkan korelasi positif signifikan dengan lemak viseral (r=0,284; p<0,001) dan IMT (r=0,265; p<0,001). Sebaliknya, kadar HDL berkorelasi negatif signifikan dengan lemak viseral (r=−0,382; p<0,001) dan IMT (r=−0,293; p<0,001). Kolesterol total dan HDL juga berkorelasi negatif dengan massa otot, khususnya otot kaki (p<0,05). Korelasi ini tetap signifikan setelah dikendalikan oleh usia. Terdapat korelasi signifikan antara profil lipid dan komposisi tubuh pada populasi dewasa di Jakarta, yang relatif independen dari usia. Temuan ini mendukung pentingnya pengelolaan komposisi tubuh untuk memperbaiki profil lipid dan menurunkan risiko kardiovaskular. Studi longitudinal lebih lanjut disarankan untuk mengklarifikasi hubungan kausal.
Interkorelasi Indikator Sindrom Metabolik pada Dokter Muda: Studi Potong Lintang di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Fenny Yunita; Alexander Halim Santoso; Fiona Valencia Setiawan
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v5i2.35086

Abstract

Pendahuluan: Sindrom metabolik (MetS) merupakan kumpulan kondisi yang mencakup obesitas sentral, dislipidemia, dan gangguan metabolisme glukosa, yang secara kolektif meningkatkan risiko penyakit kardiometabolik. Meskipun dokter muda secara klinis sering dianggap sehat, tingginya stres, pola makan yang tidak teratur, serta kurangnya aktivitas fisik dalam lingkungan pendidikan klinis dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan metabolik. Metode: Studi potong lintang ini dilakukan pada sekelompok dokter muda, dengan pengumpulan data meliputi pengukuran antropometri (lingkar perut dan indeks massa tubuh) serta pemeriksaan biomarker metabolik melalui analisis laboratorium. Uji korelasi digunakan untuk mengevaluasi hubungan antar variabel. Hasil: Ditemukan korelasi signifikan antara lingkar perut dan indeks massa tubuh dengan berbagai biomarker metabolik. Obesitas sentral secara konsisten muncul sebagai faktor dominan yang berasosiasi dengan perubahan metabolik awal. Temuan ini menegaskan bahwa meskipun secara klinis belum menunjukkan gejala, populasi ini telah mengalami pergeseran fisiologis yang mengarah pada risiko metabolik. Kesimpulan: Hasil penelitian ini menekankan pentingnya deteksi dini dan pemantauan berkala terhadap indikator metabolik pada dokter muda. Pemanfaatan pemeriksaan antropometrik sederhana yang dikombinasikan dengan analisis biokimia dasar dapat menjadi alat skrining yang efektif. Intervensi gaya hidup berbasis institusional perlu segera diterapkan untuk mencegah progresivitas MetS di kalangan tenaga medis muda.