Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Organisasi Mahasiswa Kesukuan Dalam Memperkuat Identitas Budaya Mahasiswa: (Studi Pada Organisasi Ikatan Mahasiswa Karo RM FIS Unimed) Nabila Devia Hummaira; M. Iqbal; Angela Eva Nia; Agnes Elizabeth Manalu; Anisa Amelia Purba; Ayu Tri Chahyani; Hanaya Manuela Ambarita; Mikha Valdo T. Tambunan; Nur Cahyu Azizah; Putriana Sinaga; Rima Volyna Munthe; Silvia Mahrani
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.5357

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran organisasi mahasiswa kesukuan dalam memperkuat identitas budaya mahasiswa, dengan studi pada Ikatan Mahasiswa Karo (IMKA) di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada tantangan globalisasi yang berpotensi menggerus identitas budaya lokal, khususnya di kalangan generasi muda. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah mahasiswa Karo yang tergabung dalam organisasi IMKA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IMKA memiliki peran strategis sebagai wadah pelestarian dan penguatan identitas budaya Karo. Organisasi ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpul, tetapi juga sebagai media edukasi budaya melalui berbagai kegiatan seperti diskusi budaya, pelatihan seni tradisional, dan perayaan adat. Keikutsertaan aktif mahasiswa dalam organisasi terbukti meningkatkan pemahaman dan internalisasi nilai-nilai budaya seperti gotong royong, kekeluargaan, dan penghormatan terhadap adat. Proses internalisasi ini terjadi secara efektif melalui pengalaman langsung dalam kegiatan organisasi. Selain itu, terdapat faktor pendukung seperti solidaritas anggota, dukungan senior dan kampus, serta rasa bangga terhadap budaya sendiri. Namun, terdapat pula hambatan seperti pengaruh budaya global, menurunnya minat mahasiswa, dan keterbatasan waktu akibat aktivitas akademik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa organisasi mahasiswa kesukuan berperan penting dalam mentransmisikan dan mempertahankan identitas budaya di lingkungan kampus multikultural. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang inovatif dan adaptif untuk meningkatkan efektivitas organisasi dalam menghadapi tantangan zaman.
PRAKTIK SOSIAL KANTIN SEKOLAH DAN KENDALA PEWUJUDAN KANTIN SEHAT DI SMK D.A.L. Tobing; S. Ekomila; M. Iqbal; R. Selvianti
PENDASI Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia Vol 10 No 1 (2026): Pebruari, PENDASI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jurnal_pendas.v10i1.6886

Abstract

Artikel ini memaparkan analisis tentang permasalahan serta kendala dalam mewujudkan kantin sehat di lingkungan sekolah khususnya di SMK Negeri 8 Medan. Sekolah ini merupakan sekolah menengah kejuruan yang menyelenggarakan kurikulum tata boga. Secara ideal, keberadaan jurusan tataboga di sekolah ini seharusnya akan sejalan dengan praktik pengelolaan kantin yang menyediakan pangan sehat dan begizi di lingkungan sekolah. Akan tetapi, hasil studi memperlihatkan fenomena sebaliknya. Kantin sekolah yang seharusnya mampu berfungsi sebagai ruang pendukung pembentukan kebiasaan makan sehat bagi siswa, justru tidak terlaksana. Artikel ini bertujuan menganalisis kendala pewujudan kantin sehat dari perspektif struktural, ekonomi, dan kultural. Kajian ini disusun berdasarkan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara kualitatif melalui tahapan reduksi, kategorisasi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil kajian menunjukkan bahwa lemahnya regulasi sekolah, orientasi ekonomi pengelolaan kantin, serta preferensi konsumsi siswa menjadi faktor utama yang menghambat penyediaan makanan sehat. Kondisi tersebut mencerminkan adanya kesenjangan antara pendidikan gizi yang diberikan di jurusan tataboga dan praktik pangan di lingkungan sekolah. Artikel ini menegaskan bahwa pewujudan kantin sehat merupakan praktik sosial yang memerlukan dukungan struktural dan kelembagaan sekolah secara berkelanjutan.