Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Resilience of Covid-19 Survival Review from Optimism and Social Support Juliani Prasetyaningrum; Aqilah Larasati Imadanty
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 15th University Research Colloquium 2022: Bidang Sosial Ekonomi dan Psikologi
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.308 KB)

Abstract

Covid-19 survivors are individuals who have been exposed to Covid-19 and managed to recover. Individuals who have been exposed to the Covid 19 virus is not an easy thing to live. Being a Covid-19 survivor does not only have an impact on their physical condition, but also on their mental health and quality of life. Resilience is the key to being able to get through the psychological suffering that has plagued Covid-19 survivors and return to normal life. This study aims to: 1) Determine the relationship between optimism and social support with resilience in covid survivors; 2) Knowing the relationship between optimism and resilience in covid survivors; and 3) Knowing the relationship between social support and resilience in covid survivors. The population of this research is active students of Muhammadiyah University of Surakarta who have contracted the Covid-19 virus and have recovered (survivors), aged 18-25 years. Data collection tools used are resilience scale, optimism scale, and social support scale. The data analysis technique used is Multiple Linear Regression. The results of data analysis show that the major hypothesis is accepted, that is, there is a significant relationship between optimism and social support and resilience. Minor hypotheses are also accepted, namely, (1) There is a positive relationship between optimism and resilience; and (2) There is a positive relationship between social support and resilience. This means that the more optimistic and the better of social support, the higher the resilience ability. The contribution of the independent variable to the dependent variable is 46.1%. The optimism variable contributed 22.5% and the social support variable contributed 23.6% to resilience. Meanwhile, 53.1% is influenced by other variables, such as: intellectual capacity, self-efficacy, self-concept and emotion regulation.
Psychological Wellbeing of Indonesian Teachers Juliani Prasetyaningrum; Nuriah Halleyda; Siti Shalma Fitriah; Ghea Aziza Motik
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 16th University Research Colloquium 2022: Bidang Sosial Ekonomi dan Psikologi
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru merupakan salah satu dari sekian banyak faktor yang berperan strategis dalam menghasilkan manusia yang berkualitas dan berdaya saing. Guru memiliki tanggung jawab yang cukup besar dalam kelancaran proses pembelajaran siswa. Sebagai guru dan pengasuh, guru sering menghadapi tuntutan emosional yang tinggi di tempat kerja. Dengan demikian, kondisi psikologis guru mempengaruhi proses pembelajaran dan berdampak berkelanjutan pada terpeliharanya kebahagiaan dan prestasi akademik siswa. Studi ini merupakan studi tentang pengembangan instrumen kesejahteraanpsikologis guru yang terstruktur di sekitar tiga dimensi kesehatan psikologis, yaitu: kepuasan hidup, hubungan social, dukungan dan otonomi terkait dengan kepemilikan guru di lingkungan sekolah. Validasi item menggunakan validitas isi (content validity)dengan rumus CVI Aiken setelah dinilai oleh expert judgment. Mereka adalah ahli di bidang psikometri dan psikologi. Tujuan penelitian ini adalah menyusun danmengembangkan alat ukur berupa Skala Kesejahteraan Psikologis Guru yang disingkat SKPG. Skala ini bertujuan untuk membuat alat untuk mengukur kesejahteraan psikologis guru di lingkungan sekolah. Responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah 339 orang guru berstatus PNS (208 orang), guru P3K (32 orang), PNS (10orang) dari sekolah swasta atau instansi (53 orang) dan guru honorer sekolah negeri (36 orang). Dari hasil analisis data yang diperoleh, item dengan nilai CVI > 0,74 disebut item dengan nilai sedang, sebanyak 52 item dan item dengan nilai CVI < 0.74 tergolong tidak valid sampai dengan 23 item. Hasil uji reliabilitas menggunakan Cronbach Alpha diperoleh skor = 0,928. Hasil penelitian ini membantu menentukan tingkat kesejahteraan psikologis guru dan memberikan pedoman penggunaan alat ukur SKPG.
Enhancing Self-Compassion Program (ESP) untuk Meningkatkan Self-Compassion pada Mahasiswa Fitri Fazrika Sari; Juliani Prasetyaningrum
Jurnal Online Psikogenesis Vol 10, No 2 (2022): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v10i2.2845

Abstract

Dalam menghadapi masalah, seringkali individu terjebak pada perilaku untuk menyalahkan serta menghukum diri sendiri. Perilaku tersebut dapat mengarahkan individu untuk berpandangan sempit terhadap kehidupan yang dijalani sehingga menarik diri dari lingkungan. Perilaku membesar-besarkan masalah dan merasa dirinya paling menderita berkaitan dengan rendahnya rasa welas asih yang dimiliki seseorang. Oleh sebab itu, perlu adanya program untuk meningkatkan rasa welas asih yang dapat digunakan secara praktis. Enhancing Self-Compassion Program (ESP) merupakan salah satu metode intervensi yang efektif untuk meningkatkan rasa welas asih. Prosedur intervensi diawalai dengan meminta individu untuk mengisi skala welas asih sebagai dasar pengukuran sebelum dan sesudah intervensi dilaksanakan. Intervensi dilakukan sebanyak 6 sesi dalam satu hari pelaksanaan dengan memberikan loving-kindness meditation, compassionate letter writing, time management training, dan mindfulness practice. Hasil intervensi menunjukkan adanya peningkatan rasa welas asih yang dimiliki individu secara kuantitatif, serta perubahan perilaku secara kualitatif yang mengarah pada penyelesaian masalah yang dihadapinya saat itu. Modifikasi ESP yang telah disesuaikan dengan latar belakang sosial-budaya serta karakteristik individu merupakan suatu hal yang perlu ditelisik lebih lanjut. Adanya program intervensi yang dilakukan dalam waktu singkat dapat membantu para praktisi untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis secara lebih luas dan efektif.
Pelatihan Self Management untuk Mengurangi Kejenuhan Belajar di Masa Pandemi Covid-19 Suryanti, Ary Tria; Wiwien Dinar Pratisti; Juliani Prasetyaningrum
Abdi Psikonomi Vol 3, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/psikonomi.vi.1096

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektifitas pelatihan teknik self management untuk mengurangi tingkat kejenuhan belajar siswa selama pembelajaran daring di masa pandemi COVID-19. Sebuah penelitian eksperimen one-group pretest-posttest design dengan rumusan hipotesis bahwa teknik self management efektif untuk mengurangi tingkat kejenuhan belajar siswa selama pembelajaran daring. Subjek penelitian ini yaitu 14 siswa SMP Swasta di Kartasura yang mengalami kejenuhan belajar tergolong tinggi. Alat ukur yang digunakan untuk menentukan tingkat kejenuhan belajar siswa yaitu skala College Student Survey (CSS). Analisis data menggunakan program Statistical Product and Service Solution (SPSS) dengan teknik paired sample t-test. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pelatihan self management secara efektif mampu mengurangi tingkat kejenuhan belajar siswa selama pembelajaran daring dengan perolehan sig (2-tailed) sebesar 0,000 < 0,05.