Perkembangan teknologi informasi dan media sosial telah mengubah pola konsumsi informasi masyarakat, khususnya pada Generasi Z yang dikenal sebagai digital native. Kemudahan akses informasi tidak selalu diikuti oleh kemampuan literasi digital yang memadai, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap hoaks, disinformasi, dan berbagai bentuk manipulasi informasi. Kondisi tersebut mendorong munculnya fenomena post-truth, yaitu situasi ketika opini publik lebih dipengaruhi oleh emosi dan keyakinan pribadi dibandingkan fakta objektif. Fenomena ini menimbulkan kegelisahan akademik karena berpotensi memengaruhi proses internalisasi nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi negara pada Generasi Z. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik fenomena post-truth, mengidentifikasi tantangan penguatan ideologi Pancasila, serta merumuskan strategi yang relevan untuk memperkuat nilai-nilai Pancasila pada Generasi Z di era digital. Penelitian menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengkaji berbagai artikel ilmiah yang relevan mengenai post-truth, media sosial, Generasi Z, dan Pancasila yang diperoleh dari berbagai basis data akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena post-truth pada Generasi Z ditandai oleh tingginya ketergantungan terhadap media sosial, kecenderungan mempercayai informasi viral, munculnya echo chamber, dan rendahnya verifikasi informasi. Tantangan penguatan ideologi Pancasila meliputi rendahnya pemahaman nilai Pancasila, menurunnya nasionalisme, hoaks dan disinformasi, radikalisme digital, polarisasi politik, serta pengaruh budaya global. Adapun strategi yang dapat dilakukan meliputi penguatan literasi digital, transformasi pendidikan Pancasila, pemanfaatan media digital edukatif, dan peningkatan civic engagement. Dengan demikian, penguatan ideologi Pancasila perlu dilakukan secara adaptif dan kontekstual agar mampu membangun ketahanan ideologis Generasi Z dalam menghadapi dinamika era post-truth.