Yacobus Ari Respati
Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, Indonesia.

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Evolusi Konstruksi Agama di Indonesia: Sinkretisme dan Koeksistensi dalam Lanskap Keagamaan: Integrasi Tradisi Lokal, Pengaruh Kolonial, dan Modernisasi Latief Hilmy, Abdul; Yacobus Ari Respati
Integritas Terbuka: Peace and Interfaith Studies Vol. 3 No. 1 (2024): Integritas Terbuka: Peace and Interfaith Studies
Publisher : Kongregasi Hati Kudus Yesus (RSCJ) Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59029/int.v3i1.33

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana arsitektur keagamaan di Indonesia telah berkembang dari periode prasejarah hingga era modern, dengan memperhatikan pengaruh berbagai budaya dan tradisi agama. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi literatur. Temuan penelitian menunjukkan bahwa arsitektur keagamaan di Indonesia mengalami transformasi signifikan pada setiap periode sejarah. Pada masa prasejarah, arsitektur erat kaitannya dengan alam dan animisme. Pengaruh Hindu-Buddha dari Asia Selatan membawa perubahan estetika dan struktur monumental seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Dengan kedatangan Islam, terjadi integrasi nilai-nilai Islam dengan tradisi lokal yang terlihat pada Masjid Agung Demak dan Masjid Menara Kudus. Pada era kolonial, gaya arsitektur Eropa berasimilasi dengan tradisi lokal, menghasilkan bangunan dengan identitas hibrida. Modernisasi kemudian menekankan efisiensi dan keberlanjutan dalam desain arsitektur kontemporer. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa keseluruhan perjalanan arsitektur keagamaan di Indonesia mencerminkan interaksi yang kompleks dan dinamis antara tradisi lokal, pengaruh asing, dan tuntutan zaman. Transformasi ini memperkaya identitas budaya dan arsitektur Indonesia, serta mencerminkan sejarah panjang dan keberagaman masyarakatnya. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya promosi moderasi dan toleransi agama melalui kebijakan sosial dan pendidikan dalam konteks pluralisme agama dan budaya di Indonesia.
Islamic Art at the Crossroads of Modernity: Aesthetic and Spiritual Interpretations in the Works of Ahmad Sadali and A.D. Pirous in Indonesia Renatha Aisya Nazwanindya; Mochamad Ziaul Haq; Yacobus Ari Respati; Henrycus Napitsunargo
FOCUS Vol. 6 No. 2 (2025): Focus
Publisher : Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/pzpxe735

Abstract

This study examines how contemporary Indonesian Islamic painting functions as a medium of spiritual reflection and as an intellectual project that negotiates Islamic tradition with global modernity. Focusing on the works of Ahmad Sadali and A.D. Pirous, the study responds to an academic concern regarding the persistent fragmentation in Islamic art scholarship among aesthetic, symbolic, and philosophical approaches, as well as the limited comparative readings of Indonesian Muslim artists within the global discourse of Islamic art. Employing a qualitative approach with an interpretive-analytical research design, the study collects data through direct observation of artworks at the exhibition Seabad Sadali: Menjejak Bumi Menembus Langit at Selasar Sunaryo Art Gallery and through visits to Studio Galeri Serambi Pirous, complemented by a literature review of theoretical works and previous studies on Islamic art, abstraction, calligraphy, and visual theology. The findings demonstrate that Ahmad Sadali and A.D. Pirous represent two distinct yet complementary aesthetic strategies within modern Indonesian Islamic painting. Sadali articulates tawḥīd through a quiet and contemplative mode of symbolic abstraction, whereas Pirous advances the deconstruction of calligraphy and heightened visual intensity as a dialogical expression of spiritual anxiety and faith. Together, their works affirm that Islamic painting does not operate merely as decorative art, but functions as a practice of visual theology—a mode of Islamic thinking enacted through symbols, color, and spatial composition. The implications of this study underscore the importance of visual art as an integral part of contemporary Islamic intellectual tradition, while also opening pathways for the development of more inclusive approaches to Islamic art education, curatorial practice, and public dialogue. The originality of this research lies in its comparative reading of Sadali and Pirous as an intellectual project of Indonesian Islamic art, positioning Indonesia not as a peripheral case but as a reflective and active contributor to the global discourse on Islamic art.