Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Hukum Islam Tentang Keabsahan Perceraian Dalam Peraturan Perundang-undangan Di Indonesia Dwi Arini Zubaidah
Legitima : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 4 No. 2 (2022): Legitima : Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/legitima.v4i2.2541

Abstract

Prinsip peraturan perundang-undangan di Indonesia adalah mempersukar terjadinya perceraian. Perceraian adalah pintu darurat dan pelaksanaannya harus berdasarkan alasan yang logis. Faktanya perceraian semakin meningkat setiap tahun, di samping itu, masyarakat masih banyak yang enggan mendaftarkan perceraian di pengadilan agama dan justru melakukan praktek perceraian di bawah tangan, faktor yang melatarbelakangi adalah agama, lokasi pengadilan yang jauh, prosedur pengadilan yang Panjang, ekonomi menengah ke bawah serta informasi yang tidak sampai kepada seluruh lapisan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menyebutkan data-data primer berupa peraturan perundang-undangan dengan kajian al-maṣlaḥah dalam hukum Islam. Berdasarkan hasil penelitian, perceraian hanya dianggap sah apabila dilaksanakan sesuai prosedur pengadilan. Aturan keabsahan perceraian tidak bertentangan dengan prinsip hukum Islam. Aturan keabsahan perceraian memiliki kesesuaian dengan prinsip hukum Islam dalam ranah al-maṣlaḥah yang terkandung dalam aturan tersebut. Aturan tersebut semata-mata hanya untuk mempertahankan perlindungan hukum untuk masyarakat Indonesia. Pelaksanaan aturan hukum tentang keabsahan perceraian menempati tingkatan al-maṣlaḥah aḍ-ḍarûriyyâh, apabila aturan tersebut tidak dilaksanakan oleh masyarakat, maka lima unsur dasar manusia pada diri setiap masyarakat akan terancam eksistensinya
Urgensitas Tindakan Resiprokal dalam Pemahaman Love Language Pasangan; Upaya Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga (Perspektif Hukum Islam) Dwi Arini Zubaidah
Legitima : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 5 No. 01 (2022): Legitima : Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/legitima.v5i01.3578

Abstract

The purpose an essential point of view, domestic life should be decorated with happiness and love that are sought and felt by husband and wife. However, according to the reality, the rift in the household is a signal that disharmony has taken root in it, so there needs to be a solution that is representative and solutionable. The type of research used by the author is normative legal research with a conceptual approach that collects library data in the form of research sector data on family disharmony, theories about the love language of couples and theories in the realm of Islamic law. The results of this study are love language is an act or expression of a husband and wife towards their partner which can grow their love. There are five love languages, namely affirmation words (sentences from partners), quality time (providing time by partners), receiving gifts (gifts by partners associated with certain moments), acts of service (service needs). from a partner) and physical touch (any physical expression of affection). Preventive efforts against household disharmony by applying the principle of reciprocal relations between husband and wife in Islamic law, namely mu'asyarah bil ma'ruf (doing good to each other) and taradhin minhuma (mutually willing to each other).
Fenomena Tren Marriage Is Scary Di Kalangan Generasi Z: Perspektif Hukum Positif di Indonesia Dwi Arini Zubaidah
Maqasid: Jurnal Studi Hukum Islam Vol. 14 No. 3 (2025): Maqasid Jurnal Studi Hukum Islam
Publisher : Muhammadiyah University of Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/mqsd.v14i3.28779

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena tren marriage is scary dalam sudut pandang hukum positif di Indonesia. di dalamnya digambarkan perkawinan yang menakutkan, belakangan banyak dibicarakan dan dinikmati oleh masyarakat Indonesia di media sosial. Orang yang cukup berumur dewasa pun tidak lepas dari dampak penyebaran konten ketakutan tersebut. Adanya isu ini selaras dengan penurunan angka perkawinan yang menimbulkan banyak hal.  Jenis penelitian ini adalah hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Bahan hukum yang digunakan adalah peraturan perundang-undangan, jurnal hukum, pendapat/doktrin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa  ketakutan/kekhawatiran tentang perkawinan disebabkan oleh paparan media sosial, ekonomi, dan Fear of Missing out (FOMO). Adapun dari faktor hukum, antara lain proses perceraian yang rumit, masalah harta bersama hingga korban KDRT yang memilih diam. Tujuan perkawinan belum selaras dengan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga seseorang. Aturan hukum positif di Indonesia belum bisa menjadi payung hukum yang solutif bagi seseorang yang takut dengan perkawinan atau terdampak atas pandangan marriage is scary. Isu ini sebagai dorongan untuk reformasi hukum perkawinan yang lebih mencerminkan pengayoman kepada setiap orang. Kata Kunci: Asas Perkawinan, Tren Marriage is Scary, Faktor Hukum.