Royke M. Rampengan
Universitas Sam Ratulangi

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS

KOMPOSISI FORAMINIFERA BENTIK BESAR PADA SEDIMEN MANGROVE Gabriel F. Tulung; Jane M. Mamuaja; Royke M. Rampengan; Hermanto W. K. Manengkey; Rignolda Djamaluddin; Rene C. Kepel
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 1 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.1.2023.53332

Abstract

Large benthic foraminifera are unicellular organisms that live at the surface of the sediments and have the ability to form shells of calcium carbonate (CaCO3). This research was conducted with the aim of describing and analyzing the composition of the large benthic foraminifera found in the coastal mangrove areas of Tasik Ria and Tongkeina. Sampling activities were carried out by taking sediment samples from mangrove areasTasik Ria and Tongkeina. The large benthic foraminifera identified were 3,680 specimens. Foraminifera species and genera obtained were 28 species from 15 genera in the mangrove sediments of Tasik Ria Beach and 23 species from 11 genera in the mangrove sediments of Tongkeina Beach. The dominant foraminifera genera with a proportion of more than 5% at both study sites were Ammonia, Amphistegina, Calcarina, Elphidium and Neorotalia. Based on the type of shells, foraminifera with light shells were more commonly found in the mangrove area of Tasik Ria than in Tongkeina. In contrast, more sandy-shelled foraminifera were found in the mangrove area of Tongkeina than in Tasik Ria. Furthermore, the Diversity Index for large benthic foraminifera obtained at both locations was in the medium category with values indicating the diversity of foraminifera species obtained in the mangrove area of the Tasik Ria coast was higher than the foraminifera obtained in the mangrove area of the Tongkeina coast. Keywords: Large Benthic Foraminifera, Mangrove Area, Tasik Ria Beach, Tongkeina BeachABSTRAKForaminifera bentik besar merupakan organisme uniseluler yang hidup di dasar perairan dan memiliki kemampuan membentuk cangkang dari zat kapur kalsium karbonat (CaCO3). Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis komposisi foraminifera bentik besar yang terdapat pada area mangrove pantai Tasik Ria dan Tongkeina. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi kegiatan pengambilan sampel hingga tahap identifikasi foraminifera bentik berukuran besar yang ditemukan pada sedimen mangrove pantai Tasik Ria dan pantai Tongkeina. Foraminifera bentik berukuran besar yang teridentifikasi adalah sebanyak 3.680 spesimen. Sejumlah 28 spesies dari 15 genus ditemukan pada sedimen mangrove Pantai Tasik Ria dan 23 spesies dari 11 genus pada sedimen mangrove Pantai Tongkeina. Genus foraminifera yang dominan dengan proporsi lebih dari 5% yang diperoleh pada lokasi penelitian adalahAmmonia, Amphistegina, Calcarina, Elphidium dan Neorotalia. Berdasarkan tipe cangkang, foraminifera bercangkang gampingan lebih banyak ditemukan di kawasan mangrove pantai Tasik Ria daripada di Tongkeina. Sebaliknya, foraminifera bercangkang pasiran lebih banyak ditemukan di kawasan mangrove pantai Tongkeina daripada Tasik Ria. Selanjutnya Indeks Keanekaragaman foraminifera bentik berukuran besar yang diperoleh pada kedua lokasi dikategorikan sedang dengan nilai yang diperoleh pada kawasan mangrove pantai Tasik Ria lebih tinggi dibandingkan kawasan mangrove pantai Tongkeina.Kata Kunci: Foraminifera Bentik Besar, Kawasan Mangrove, Pantai Tasik Ria, Pantai Tongkeina
AKUISISI DATA SURVEI PARAMETER TINGGI POHON DAN LUASAN VEGETASI MANGROVE MENGGUNAKAN WAHANA UDARA NIR-AWAK (DRONE) Noviantika Rumengan; Ping Astony Angmalisang; Antonius P. Rumengan; Royke M. Rampengan; Hermanto W.K. Manengkey; Nurdin Jusuf
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 2 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.2.2022.54993

Abstract

The image of an unmanned vehicle (Drone) is an image/photo obtained from an aerial survey using an unmanned aerial vehicle above the earth's surface at a low altitude and the resolution of the photo obtained is very detailed. The use of drones is a mapping solution for a high level of detail because drone images include high resolution images that can provide more detailed information about the mangrove ecosystem, including the height of mangrove trees and their area. The purpose of this study was to compare the area and height of mangrove trees using a drone with in- situ measurements. The method used is measuring tree height using in- situ data and drone data. Remote sensing survey research using drones can be concluded as a solution to acquire mangrove biophysical parameters. Especially the height and area of mangrove trees, measuring the height of mangroves using drones also needs to be studied more deeply in further research. Based on the results of the analysis carried out at this stage by comparing tree height data in DSM from aerial photographs and tree height data in the field, the difference is in the range of 0.21m to 1.95m, with an average of 0.78 meters. And the area is a fairly significant area with the data obtained. Keywords: Survey, drone, mapping, mangrove. ABSTRAK Citra wahana nir-awak (Drone) merupakan citra/foto yang diperoleh dari survei udara menggunakan pesawat nir-awak yang mengudara di atas permukaan bumi pada ketinggian yang rendah dan resolusi foto yang diperoleh sangat detail. Penggunaan drone menjadi solusi pemetaan untuk tingkat detail tinggi karena citra drone termasuk citra resolusi tinggi yang dapat memberikan informasi lebih detail mengenai ekosistem mangrove termasuk tinggi pohon mangrove dan luasannya. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan luasan dan tinggi pohon mangrove menggunakan wahana nir-awak (drone) dengan pengukuran in-situ. Metode yang digunakan pengukuran tinggi pohon menggunakan data in-situ dan data drone. Penelitian survei penginderaan jauh dengan menggunakan nir-awak (drone) dapat disimpulkan sebagai solusi untuk mengakuisisi parameter biofisik mangrove. Terutama tinggi dan luasan pohon mangrove, mengukur ketinggian mangrove menggunakan drone juga perlu dilakukan kajian lebih mendalam pada penelitian selanjutnya. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan pada tahap ini dengan membandingkan data tinggi pohon pada DSM dari foto udara dan data tinggi pohon di lapangan memiliki selisih dengan kisaran 0.21m sampai dengan 1.95m, dengan rata- rata sebesar 0.78 meter. Dan luasannya merupakan luasan cukup siknifikan dengan data yang diperoleh. Kata kunci : Survey, drone, pemetaan, hutan bakau.
INTERPRETASI PEUBAH UKURAN BUTIR SEDIMEN Royke M. Rampengan
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 1 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.12.1.2024.55950

Abstract

Sediment characteristics are described through grain size variables so that an understanding of sediment is built based on the interpretation of these variables. The distribution of sediment grain sizes reflects the viscosity and strength of factors acting on the depositional environment. That is why, knowledge of the grain size characteristics of sediments in certain depositional environments is very necessary in relation to the management of that area. This research was conducted to determine the extent to which sediment grain size variables describe sediment character. To reveal this, sediment samples were taken from two visually different depositional environments on the beach. The sediment collection location is in the beach around the Unsrat Marine Field Station in Likupang. Sediment collection was carried out at Station 1 and Station 2, where the two stations were separated by a pier. The two sediment samples were then processed according to sediment handling procedures starting from washing to obtaining the sediment weight according to the sieve diameter. Through graphic procedures, sediment weight data is used to produce a number of values used in calculating sediment granulometric variables. The parameters of sediment granulometric variables that are calculated are mean, sorting, skewness and kurtosis. Based on the studies carried out, it was concluded that the characteristics of sediment taken from different depositional environments on the beach can be clearly differentiated through the classification values of grain size variables.. Keywords: sediment grain-size, sorting, skewness, kurtosis ABSTRAK Karakteristik sedimen dideskripsikan melalui peubah ukuran butirnya sehingga pemahaman tentang sedimen dibangun berdasarkan interpretasi terhadap peubah tersebut. Sebaran ukuran butir sedimen merefleksikan ketidakstabilan dan kekuatan faktor-faktor yang bekerja pada lingkungan deposisional. Itulah sebabnya, pengetahuan terhadap karakteristik ukuran butir sedimen pada lingkungan pengendapan tertentu, sangat dibutuhkan dalam kaitannya dengan pengelolaan ruang tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana peubah ukuran butir sedimen menggambarkan karakter sedimen. Untuk mengungkap hal tersebut, sampel sedimen diambil dari dua lingkungan pengendapan yang secara visual berbeda pada lahan gisik. Lokasi pengambilan sedimen berada di kawasan gisik sekitar Marine Field Station Unsrat di Likupang. Pengambilan sedimen dilakukan pada Stasiun 1 dan Stasiun 2, di mana kedua stasiun ini dipisahkan oleh adanya struktur bangunan berupa dermaga. Kedua sampel sedimen selanjutnya diproses sesuai prosedur penanganan sedimen mulai dari pencucian sampai memperoleh berat sedimen menurut ukuran diameter ayakan. Melalui prosedur grafik, data berat sedimen digunakan untuk menghasilkan sejumlah nilai yang digunakan dalam perhitungan peubah granulometri sedimen. Parameter-parameter peubah granulometri sedimen yang dihitung adalah rataan empirik, penyortiran, kemencengan, dan peruncingannya. Berdasarkan kajian yang dilakukan, disimpulkan bahwa karakteristik sedimen yang diambil dari lingkungan pengendapan yang berbeda pada lahan gisik dapat dibedakan secara jelas melalui nilai klasifikasi peubah ukuran butir. Kata Kunci: ukuran butir sedimen, pemilahan, kemencengan, peruncingan
KOMPOSISI FORAMINIFERA GENUS CALCARINA DI PERAIRAN DESA WINERU, KECAMATAN LIKUPANG TIMUR, SULAWESI UTARA Roosa C. Kalebos; Jane M. Mamuaja; Markus T. Lasut; Medy Ompi; Royke M. Rampengan; Kurniati Kemer
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 2 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.12.2.2024.57804

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi spesies dan mendeskripsikan morfologi foraminifera genus Calcarina di tiga habitat berbeda di Perairan Desa Wineru, Kecamatan Likupang Timur, Sulawesi Utara. Metode yang digunakan mencakup pengambilan sampel secara purposive sampling di tiga habitat: Daerah Terumbu Karang (DTK), Daerah Terumbu Karang Rubble (DTKR), dan Daerah Berpasir (DBP), pada kedalaman 1-2 meter. Sampel kemudian diproses di laboratorium melalui tahap pencucian, pengeringan, penjentikan, identifikasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Calcarina spengleri adalah spesies dominan di semua lokasi, dengan jumlah individu tertinggi dibandingkan spesies lain seperti Calcarina defrancei, Calcarina gaudichaudii, Calcarina hispida, dan Calcarina sp. Pola distribusi spesies ini mencerminkan variasi kondisi lingkungan dan faktor ekologi di masing-masing lokasi penelitian. Meskipun Calcarina memiliki kontribusi yang relatif kecil dalam komunitas foraminifera yang masuk dalam kelompok yang memiliki simbion (foraminifera bentik besar), dengan persentase 38,5% dari total individu, penelitian ini berhasil mendeskripsikan morfologi spesies dengan baik, termasuk bentuk, ciri, dan struktur cangkang yang unik. Distribusi geografis spesies ini luas di berbagai ekosistem perairan, termasuk di Perairan Desa Wineru, sebagaimana tercatat dalam World Foraminifera Database dan WoRMS. Kata kunci: Foraminifera Calcarina, Komposisi Spesies, Morfologi Spesies, Likupang
KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI GRANULOMETRI SEDIMEN PADA BEBERAPA KAWASAN WISATA PANTAI KECAMATAN LEMBEAN TIMUR KABUPATEN MINAHASA Evilin Papoiwo; Royke M. Rampengan; Agung B. Windarto; Grevo S. Gerung; Indri S. Manembu; Jane M. Mamuaja
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 1 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.1.2025.61284

Abstract

Kecamatan Lembean Timur di Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara merupakan kecamatan  sedang berkembang aktivitas wisata pantainya, memanfaatkan keberadaan lahan gisik sebagai objek utamanya.  Oleh karena itu telah dilaksanakan penelitian bertujuan mendeskripsi komposisi dan menganalisis distribusi granulometri sedimen yang menghampari permukaan gisik beberapa kawasan wisata pantai di Kecamatan Lembean Timur. Pengambilan sampel sedimen dilaksanakan tanggal 6 Juni 2024 di gisik kawasan wisata Kamenti Beach, Kora-Kora Beach, dan BW Beach.  Pengambilan sedimen dilakukan pada permukaan lahan gisik dengan ketebalan 1 cm.  Hasil penelitian menunjukkan komposisi sedimen permukaan lahan gisik terdiri dari sedimen berukuran debu sampai dengan kerakal.  Sedimen pada permukaan gisik lebih dari 90 % berupa pasir dari berbagai ukuran (pasir sangat halus sampai pasir sangat kasar) di mana kondisi ini sangat menunjang berkaitan dengan penggunaan lahan untuk wisata pantai. Peubah rataan empirik  menunjukkan kecenderungan peningkatan ukuran butir sedimen untuk kawasan pantai yang berada di bagian Selatan kecamatan ini.  Kriteria penyortiran umumnya tersortir sedang, kemencengan umumnya berada pada kriteria simetris granulometri sampai asimetris kuat ke ukuran kecil. Peruncingan berada pada kriteria leptokurtik sampai platikurtik di mana pada lahan gisik di kawasan wisata yang terletak semakin ke arah Selatan terjadi peningkatan proporsi kriteria platikurtik. Kata kunci: sedimen gisik, komposisi sedimen, distribusi granulometri, Lembean Timur
Benthic Foraminifera in Intertidal Sediments Around UNSRAT Marine Station in Likupang, North Minahasa Jane M. Mamuaja; Markus T. Lasut; Royke M. Rampengan
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.62196

Abstract

Despite their biological and ecological importance, research on foraminifera is still very limited. In recent years (from 2018 to present), interest in foraminifera studies has begun to emerge and it was shown by publication of several research articles. The study was aimed to obtain basic information on the presence of foraminifera in intertidal area around UNSRAT Marine Station in Likupang, North Minahasa. Sampling for foraminifera was conducted in five stations in front of the marine station. Sediments were collected from the upper 2 cm of sediments, brought to the laboratory, washed through 63µm sieve, and air-dried. A number of > 300 foraminifera tests were picked for identification and photographed. A total of 16 genera were found and they were grouped into three functional groups: symbiont-bearing, opportunistic, and heterotrophic foraminifera. In symbiont-bearing group, Calcarina was found present in all stations and it was followed by Baculogypsina and Amphistegina. Genus Elphidium was found to be dominant in the opportunistic group, while Quinqueloculina was the only opportunistic foraminifera that was found in all stations. The study also revealed that most of the foraminifera tests were categorized intact, meaning that their morphological features were still well preserved. Keywords: benthic foraminifera, sediments, UNSRAT, Likupang
Microplastic Identification and Density In Coastal Sediments of Manado Bay Angelyca P. Novadah Novadah; , Natalie D.C. Rumampuk; Nickson J. Kawung; Royke M. Rampengan; James J. H. Paulus; Darus S. J. Paransa
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.3.2025.64777

Abstract

  Most plastics originating from anthropogenic activities generate plastic waste in aquatic environments, which is difficult to degrade even when floating on the surface, suspended in the water column, or deposited in sediment. The increasing volume of plastic waste in marine waters requires global attention to develop rapid and effective solutions for managing plastic pollution. Microplastics are small plastic particles measuring less than 5 mm, and due to their small size, they are difficult to detect. Microplastics are categorized into two types: secondary microplastics and primary microplastics. This study aims to identify the types and quantify the density of microplastics based on their types and colors. Sediment samples were collected at two stations: station 1, located at the Tondano River estuary, and station 2, located on the coast of Mandolang Beach. The characteristics and density of microplastics were determined through sampling using a 50 meter transect line. The identification of shapes and colors and the counting of microplastics were conducted using a microscope. The results of this study show that Manado Bay is accumulated with microplastics characterized by three types fragments, fibers, and films and exhibiting colors such as black, blue, red, green, and white. The average microplastic density at station 1 was 73.33 particles/kg, and at station 2 was 44.67 particles/kg, indicating the average number of microplastics found in each kilogram of sediment sample from both stations. This finding indicates that the coastal area of Manado Bay has a considerable accumulation of microplastics. Keywords: microplastic, sediment, density, coast of Manado Bay, types of microplastic   Abstrak Sebagian besar plastik dari aktivitas antropogenik menghasilkan sampah plastik di lingkungan perairan, yang sulit terurai meskipun berada di permukaan, tersuspensi di kolom air, maupun mengendap di sedimen. Bertambahnya volume sampah plastik di perairan laut memerlukan perhatian global untuk mendapatkan solusi cepat dan efektif untuk penanganan pencemaran sampah plastik. Mikroplastik merupakan partikel plastik kecil yang berukuran <5 mm, dengan ukuran yang kecil mikroplastik sulit dideteksi. Mikroplastik terbagi menjadi dua yaitu mikroplastik sekunder dan mikroplastik primer. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan menghitung kepadatan mikroplastik, dengan mengidentifikasi berdasarkan jenis dan warna. Sampel sedimen diambil di 2 stasiun, stasiun 1 terletak di muara Sungai Tondano, stasiun 2 terletak di pesisir Pantai Mandolang. Karakteristik dan kepadatan mikroplastik ditentukan melalui pengambilan sampel yang dilakukan dengan metode garis transek sepanjang 50 meter. Identifikasi bentuk dan warna serta perhitungan jumlah mikroplastik dilakukan menggunakan mikroskop. Berdasarkan hasil dari penelitian ini diketahui Teluk Manado terakumulasi mikroplastik dengan karakteristik berdasarkan jenis berupa fragmen, fiber, dan film serta mikroplastik yang ditemukan memiliki warna hitam, biru, merah, hijau, dan putih. Kepadatan mikroplastik rata-rata pada Stasiun 1 sebesar 73,33 partikel/kg dan pada Stasiun 2 sebesar 44,67 partikel/kg, yang menunjukkan jumlah rata-rata mikroplastik dalam setiap 1 kilogram sampel sedimen di masing-masing stasiun. Temuan ini menunjukkan bahwa kawasan pesisir Teluk Manado terdapat akumulasi mikroplastik yang cukup signifikan. Kata kunci: mikroplastik, sedimen, kepadatan, pesisir Teluk Manado, jenis mikroplastik