Markus T. Lasut
Universitas Sam Ratulangi

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS

KOMPOSISI FORAMINIFERA GENUS CALCARINA DI PERAIRAN DESA WINERU, KECAMATAN LIKUPANG TIMUR, SULAWESI UTARA Roosa C. Kalebos; Jane M. Mamuaja; Markus T. Lasut; Medy Ompi; Royke M. Rampengan; Kurniati Kemer
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 2 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.12.2.2024.57804

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi spesies dan mendeskripsikan morfologi foraminifera genus Calcarina di tiga habitat berbeda di Perairan Desa Wineru, Kecamatan Likupang Timur, Sulawesi Utara. Metode yang digunakan mencakup pengambilan sampel secara purposive sampling di tiga habitat: Daerah Terumbu Karang (DTK), Daerah Terumbu Karang Rubble (DTKR), dan Daerah Berpasir (DBP), pada kedalaman 1-2 meter. Sampel kemudian diproses di laboratorium melalui tahap pencucian, pengeringan, penjentikan, identifikasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Calcarina spengleri adalah spesies dominan di semua lokasi, dengan jumlah individu tertinggi dibandingkan spesies lain seperti Calcarina defrancei, Calcarina gaudichaudii, Calcarina hispida, dan Calcarina sp. Pola distribusi spesies ini mencerminkan variasi kondisi lingkungan dan faktor ekologi di masing-masing lokasi penelitian. Meskipun Calcarina memiliki kontribusi yang relatif kecil dalam komunitas foraminifera yang masuk dalam kelompok yang memiliki simbion (foraminifera bentik besar), dengan persentase 38,5% dari total individu, penelitian ini berhasil mendeskripsikan morfologi spesies dengan baik, termasuk bentuk, ciri, dan struktur cangkang yang unik. Distribusi geografis spesies ini luas di berbagai ekosistem perairan, termasuk di Perairan Desa Wineru, sebagaimana tercatat dalam World Foraminifera Database dan WoRMS. Kata kunci: Foraminifera Calcarina, Komposisi Spesies, Morfologi Spesies, Likupang
KARAKTERISTIK SAMPAH LAUT DI PERAIRAN PANTAI TIWUDE PULAU BEENG DARAT KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE PROVINSI SULAWESI UTARA Andrew M. Sadue; Natalie D.C. Rumampuk; Markus T. Lasut; Rosita A.J. Lintang; Erly Y. Kaligis; Jane M. Mamuaja
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 1 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.1.2025.59141

Abstract

Sampah laut adalah sampah yang berasal dari daratan, badan air, dan pesisir yang mengalir ke laut, atau sampah yang berasal dari kegiatan di laut. Sampah laut terdapat di seluruh bagian di laut, mulai dari kawasan-kawasan padat penduduk hingga lokasi-lokasi terpencil yang tak terjamah manusia dari pesisir dan kawasan air dangkal hingga palung-palung laut dalam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkuantifikasi ukuran (berat dan jumlah), komposisi, dan kepadatan sampah laut di Pantai Tiwude, Pulau Beeng Darat, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara. Dalam penelitian ini, digunakan metode pemantauan sampah pantai (beach litter). Pengambilannya menggunakan metode line transek mengikuti panduan/pedoman tentang pemantauan sampah pantai oleh Kementrian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan RI. Cara pengambilannya, secara singkat, dilakukan dengan menarik line transek sepanjang 100 m sejajar garis pantai, dan membagi menjadi 5 bagian dengan jarak 20 m, yang di dalamnya terdapat sub traksek dengan ukuran 5 x 5 m, yang kemudian dibagi menjadi 25 kotak dengan ukuran 1 x 1 m. Hasil penelitian menunjukkan, terdapat jenis sampah makro dan sampah meso pada transek, yang berjumlah sebanyak 83 item dengan berat total 485,8 gram. Sampah plastik ditemukan dengan jumlah terbanyak, yang diikuti oleh sampah logam, kain, dan bahan lainnya. Faktor penyebab banyaknya sampah laut di Perairan Pantai Tiwude Pulau Beeng Darat diduga disebabkan oleh sampah yang berasal dari aktivitas masyarakat di darat yang masuk kelingkungan laut/perairan melalui sungai dan runoff kemudian terdampar di pantai. Kesimpulan penelitian ini adalah jenis sampah laut yang ditemukan di lokasi penelitian umumnya berupa sampah plastik, busa plastik, logam ,kain, kaca dan keramik, juga bahan lainnya.
Benthic Foraminifera in Intertidal Sediments Around UNSRAT Marine Station in Likupang, North Minahasa Jane M. Mamuaja; Markus T. Lasut; Royke M. Rampengan
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.62196

Abstract

Despite their biological and ecological importance, research on foraminifera is still very limited. In recent years (from 2018 to present), interest in foraminifera studies has begun to emerge and it was shown by publication of several research articles. The study was aimed to obtain basic information on the presence of foraminifera in intertidal area around UNSRAT Marine Station in Likupang, North Minahasa. Sampling for foraminifera was conducted in five stations in front of the marine station. Sediments were collected from the upper 2 cm of sediments, brought to the laboratory, washed through 63µm sieve, and air-dried. A number of > 300 foraminifera tests were picked for identification and photographed. A total of 16 genera were found and they were grouped into three functional groups: symbiont-bearing, opportunistic, and heterotrophic foraminifera. In symbiont-bearing group, Calcarina was found present in all stations and it was followed by Baculogypsina and Amphistegina. Genus Elphidium was found to be dominant in the opportunistic group, while Quinqueloculina was the only opportunistic foraminifera that was found in all stations. The study also revealed that most of the foraminifera tests were categorized intact, meaning that their morphological features were still well preserved. Keywords: benthic foraminifera, sediments, UNSRAT, Likupang
Ethanol Extraction from Fresh Algae (Gracilaria sp) Using Various Concentrations of Hydrochloric Acid Solution in The Hydrolysis Process Putri E. Malinti; Grevo S. Gerung; Natalia D.C. Rumampuk; Markus T. Lasut; Nickson J. Kawung; Esther D. Angkouw
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.3.2025.64852

Abstract

Bioethanol is ethanol obtained through the fermentation of biomass rich in starch or cellulose from plant materials. Gracilaria sp. algae is one potential biomass source because it contains 54.4% galactan and 19.7% cellulose. This content makes it a promising alternative raw material for bioethanol production. Until now, there has been no scientific report related to ethanol extraction from Gracilaria sp. originating from the waters of Gunung Kidul, Yogyakarta. This study aims to: (1) determine the presence of ethanol in Gracilaria sp.; (2) measure the volume of ethanol from distillation; and (3) test ethanol qualitatively using potassium dichromate and sulfuric acid reagents. The research procedures include sample preparation, hydrolysis with HCl of various concentrations (0.5–2 M), fermentation using Fermipan yeast, urea, EM4, and NaOH (pH 4), and fermentation for 5 days. Distillation was carried out at a temperature of 78–80°C and the results were tested qualitatively by a color change from orange to blue as an indicator of ethanol. The results showed that Gracilaria sp. can produce ethanol, and the qualitative test method used has proven effective, simple, and economical. Further research is recommended to improve the purity and efficiency of bioethanol production from Gracilaria sp. Keywords: algae, bioethanol, Gracilaria sp., ethanol, qualitative ethanol analysis.   Abstrak Bioetanol adalah etanol yang diperoleh melalui fermentasi biomassa yang kaya akan pati atau selulosa dari bahan nabati. Alga Gracilaria sp. merupakan salah satu sumber biomassa potensial karena mengandung 54,4% galaktan dan 19,7% selulosa. Kandungan ini menjadikannya bahan baku alternatif yang menjanjikan untuk produksi bioetanol. Hingga kini, belum ada laporan ilmiah terkait ekstraksi etanol dari Gracilaria sp. yang berasal dari perairan Gunung Kidul, Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan etanol dalam Gracilaria sp. mengukur volume etanol hasil distilasi,dan menguji etanol secara kualitatif menggunakan pereaksi kalium dikromat dan asam sulfat. Prosedur penelitian meliputi persiapan sampel, hidrolisis dengan HCl berbagai konsentrasi (0,5–2 M), fermentasi menggunakan ragi Fermipan, urea, EM4, dan NaOH (pH 4), serta fermentasi selama 5 hari. Distilasi dilakukan pada suhu 78–80°C dan hasilnya diuji kualitatif dengan perubahan warna dari oranye ke biru sebagai indikator etanol. Hasil menunjukkan bahwa Gracilaria sp. dapat menghasilkan etanol dan metode uji kualitatif yang digunakan terbukti efektif, sederhana, dan ekonomis. Penelitian lanjutan disarankan untuk meningkatkan kemurnian dan efisiensi produksi bioetanol dari Gracilaria sp Kata kunci: alga, bioetanol, Gracilaria sp, Etanol, analisis kualitatif etanol