Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

A study on the cytotoxic activity of marine sponges on the embryo development of sea urchin Diadema savigny Angkouw, Esther D; Mangindaan, Remy E. P
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 1 (2013): Mei
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2013.2287

Abstract

A study on the cytotoxic activity of five sponges has been conducted. The samples were collected from Malalayang beach, extraced with ethanol to give ethanolic extract. The ethanolic extratc then partitioned with hexane, ethyl acetate, buthanol to yield three fractions. Crude extracts, hexane and chloroform fractions were subjected to cytotoxic assay using fertilized Sea urchin eggs. The results showed that sponge Theonalla sp. contained a potential cytotoxic compound(s). After partitioned lay open that  dissolve fraction ethyl acetate showed activity of highest cytotoxic. The study gives a high probability in discovering many novel cytotoxic compounds from the sea© Suatu penelitian tentang pengujian aktivitas sitotoksik dari lima jenis spons (Petrosia nigricans, Plakinolophia mirabilis, Axinella corrugata, Ianthella basta, Theonella sp.) telah dilakukan. Spons yang diambil dari perairan Malalayang diekstrak dengan etanol. Ekstrak etanolik dipartisi dengan  pelarut heksan, etil asetat dan butanol. Ekstrak etanolik dan fraksi-fraksi diujikan pada sel telur bulu babi Diadema savigny yang telah dibuahi. Pengamatan dilakukan selama 48 jam. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kontrol mencapai tahap pluteus sedangkan pengujian ekstrak etanolik dari kelima jenis spons diperoleh hasil Theonella sp. mempunyai aktivitas tertinggi. Sampel spons Theonella sp. mampu menghambat/memperlambat pembelahan sel bulu babi sampai pengamatan 48 jam hanya sampai pada pembelahan 4. Dari pengujian ketiga fraksi menunjukkan  bahwa fraksi etil asetat memiliki aktivitas sitotoksik yang tinggi dibanding fraksi heksan dan fraksi butanol. Hasil penelitian ini membuka peluang besar penemuan berbagai senyawa aktif sitotoksik dari organisme laut khususnya spons yang berasal dari perairan Sulawesi Utara©
Uji aktivitas antibakteri spons Plakortis sp. yang dikoleksi dari perairan Bunaken Pasodung, Aditya; Losung, Fitje; Angkouw, Esther; Lintang, Rosita; Mantiri, Desy; Sumilat, Deiske
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 6, No 1 (2018): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.6.1.2018.20192

Abstract

Spons merupakan hewan yang termasuk dalam filum Porifera dan salah satu hewan yang hidup pada ekosistem terumbu karang. Biota laut ini diketahui sebagai sumber senyawa-senyawa yang berpotensi dalam bidang farmasetika, diantaranya sebagai antibakteri. Sampel spons Plakortis sp. yang diperoleh dari perairan Pulau Bunaken diambil ekstrak kasarnya melalui proses evaporasi lalu difraksinasi dengan teknik reversed phase kromatografi kolom, menggunakan kombinasi pelarut dH2O: metanol menjadi 6 fraksi. aktivitas antibakteri dari sampel spons Plakortis sp. terhadap E. coli dan S. aureus dianalisis dengan metode difusi agar. Hasil akhir dari penelitian ini yaitu fraksi 1,2,3,4, dan 6 memiliki aktivitas antibakteri terhadap E. coli dan S. aureus dan fraksi 5 tidak memiliki aktivitas. Dua fraksi diantaranya memiliki aktivitas tertinggi dengan diameter rata-rata zona hambat yaitu fraksi 1 dengan diameter zona hambat (16,6 mm), fraksi 2 diameter zona hambat (17,3 mm) terhadap S. aureus, dan untuk E. coli diameter zona hambat fraksi 1 yaitu (17,6 mm) dan fraksi 2 (16,6 mm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa bioaktivitas fraksi ODS spons Plakortis sp. memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai obat antibakteri.
Antibacterial Potential of Soft Coral Lobophytum sp. From Pangalisang Waters of Bunaken Island to Pseudomonas aeruginosa and Staphylococcus aure Abraham L. Kowal; Esther D. Angkouw; Nickson J. Kawung; Kurniati Khemer; Henky Manoppo; Deiske A. Sumilat
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 6 No. 2 (2018): ISSUE JULY-DECEMBER 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.2.2018.20638

Abstract

Soft corals ar known to have a variety of bioactivity capabilities, one of them is antibacterial. Antibacterial is a compound that can interfere with the growth of bacteria or even kill the bacteria. The soft coral samples, Lobophytum sp., obtained from  Pangalisang, Bunaken Island, wer extracted by evaporative process, then fractionated into three fractions by aqueous partitioning technique with aqueous solvents, ethyl acetate, methanol and n-hexane. Antibacterial testing, with bacterial samples of Pseudomonas aeruginaso and Staphylococcus aureus were analyzed by agar diffusion / Kirby Bauer method. The results of the experiment showed that every fraction had antibacterial activity, where the largest activity was produce at concentration of 50 disc paper sampes with  7 mm (water fraction), 8 mm ( metanol fraction), 7,2 mm (n-hexane fraction) in Pseudomonas aeruginosa and 7 mm (water fraction), 8,7 mm ( metanol fraction) in Staphylcoccus aureus. It can be concluded that the  inhibition zone from soft corals, Lobophytum sp., is classified as a weak activity, so it does not potential to be developed into an antibacterial drug.Keywords: Antibacterial, Lobophytum sp., Pseudomonas aeruginosa, Staphylcoccus aureus.ABSTRAKKarang lunak diketahui mempunyai berbagai bioaktivitas salah satunya antibakteri. Antibakteri merupakan senyawa yang dapat mengganggu pertumbuhan atau bahkan dapat mematikan bakteri. Sampel karang lunak Lobophytum sp. yang diperoleh dari perairan Pangalisang Pulau Bunaken diambil ekstrak kentalnya melalui proses evaporasi, selanjutnya difraksinasi menjadi tiga fraksi dengan teknik partisi cair dengan pelarut aquades, etil asetat, metanol dan n-heksan. Pengujian antibakteri terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa  dan Staphylococcus aureus dianalisis dengan metode difusi agar (disc diffusion Kirby and Bauer). Hasil penelitian menunjukan ketiga fraksi memiliki aktivitas antibakteri, dimana aktivitas terbesar dihasilkan pada konsentrasi sampel dalam kertas cakram 50 μl dengan zona hambat 7mm (fraksi air), 8 mm (fraksi metanol), 7,2 mm (fraksi n-heksan) pada Pseudomonas aeruginosa dan 7 mm (fraksi air), 8,7 mm (fraksi metanol) pada Staphylococcuss aureus. Dapat disimpulkan bahwa zona hambat yang dihasilkan karang lunak Lobophytum sp. tergolong lemah sehingga tidak berpotensi untuk dikembangkan sebagai obat antibakteri.Kata kunci: Antibakteri, Lobophytum sp., Pseudomonas aeruginosa, Staphylcoccus aureus.
Analysis of Bacteria Community in the sediment from Bangka Island, North Sulawesi Meivyarni Wangka; Stenly Wullur; Esther Angkouw; Jane Mamuaja; Reiny Tumbol; Elvy Like Ginting
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 8 No. 2 (2020): ISSUE JULY-DECEMBER 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.8.2.2020.29887

Abstract

Marine sediments are nutrient-rich and is a suitable habitat of bacteria. This research is a preliminary study of molecular analysis to identify the bacteria in the sediments from the littoral area that covered by mangroves in Bangka Island, North Sulawesi. The purposes of this study are to obtain the uncultivated bacterial DNA genome  which is used to identify the bacteria  and  bacterial community  in the sediments. Isolation of DNA genome from uncultured bacterial was carried out by following the genomic DNA extraction procedure using the DNeasy® PowerSoil Extraction Kit. Before isolating the bacterial DNA, sample were went through freezing and thawing processes. The DNA isolation result was subsequently tested using electrophoresis and UV-Vis spectrophotometers. Subsequently the genomic DNA was amplified using Polymerase Chain Reaction and the bacteria were identified using Next Generation Sequencing (NGS) analysis. The results of this study showed that the DNA of uncultured bacteria from sediment have the purity of 1.05 and the DNA amplification band was detected at 1300-1600bp. The bacteria in Bangka Island, North Sulawesi sediments were consisted of Gemmatimonadetes, Acidobacteria, Chioroflexi, Firmicutes, Bacteroidetes, Actinobacteria, Cyanobacteria and Proteobacteria respectively. Phylum Proteobacteria was found has the highest relative abundance  in the sediment.Keywords : Bacteria, Deoxyribo Nucleic Acid, Sediment, Uncultured. ABSTRAKSedimen laut merupakan suatu habitat yang kaya akan nutrient dan merupakan habitat dari bakteri. Penelitian ini merupakan tahapan awal dalam rangkaian analisis molekuler bakteri yang hidup di sedimen dari daerah litoral yang ditumbuhi oleh mangrove pada Pulau Bangka Sulawesi Utara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan DNA genom bakteri tanpa kultivasi yang digunakan dalam analisis jenis dan komunitas bakteri pada sedimen. Isolasi DNA genom bakteri tanpa kultivasi dilakukan dengan mengikuti prosedur Kit ekstraksi DNA DNeasy® PowerSoil. Sebelum tahap isolasi DNA bakteri, sampel diperlakukan proses freezing and thawing. Hasil isolasi DNA diuji menggunakan elektroforesis dan spektrofotometer UV-Vis. DNA genom diamplifikasi menggunakan Polymerase Chain Reaction dan ditentukan jenis bakteri dengan menggunakan Next Generation Sequencing analysis. Hasil penelitian menujukkan bahwa DNA bakteri tanpa kultivasi  memiliki kemurnian 1,05. DNA amplifikasi terdeteksi pada posisi 1300-1600bp. Dan jenis bakteri yang hidup pada sedimen di Pulau Bangka Sulawesi Utara, terdiri dari filum Gemmatimonadetes, Acidobacteria, Chioroflexi, Firmicutes, Bacteroidetes, Actinobacteria, Cyanobacteria dan Proteobacteria. Kelimpahan tertinggi bakteri yang hidup pada sedimen tersebut adalah  filum Proteobacteria.Kata kunci : Bakteri, Deoxyribo Nucleic Acid, Sedimen, Tanpa kultivasi.
POTENSI ANTIBAKTERI BINTANG LAUT DARI PERAIRAN PANTAI KELURAHAN TONGKAINA MANADO Delpris Piter; Esther D Angkouw; Fitje Losung
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 3 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.7.3.2019.24431

Abstract

Starfish is one of the species of the asteroidean class, and is grouped into phylum echinoderms. Echinoderms consist of approximately 6000 species and all live in sea water. Starfish is one source bioactive compounds. Active compounds from starfish have been known to have activities antioxidant, antibacterial, anti-inflammatory, antifungal and immunostimulatory, there are also blue starfish that are potential as antitumor and antibacterial agents. This study aims to obtain crude extracts from several types of starfish, and testing the antibacterial activity of crude starfish extracts against bacteria Streptococcus agalactiae, Escherichia coli and  Staphylococcus aureus. Test the antibacterial activity of crude starfish extracs Protoreaster nodosus, Achaster tipycus, dan Linckia laevigata against bacteria E. coli, S. aureus, dan S. agalactiae use the agar diffusion method by means of a well.  L. l extract  can inhibit bacteria e. coli at an extract concentration of 1000 mg/ml with a diameter of inhibitory zone 11.0 mm, whereas at a concentration of 750 mg/ml the test bacteria can still grow on the bacteria S. agalactiae and S. aureus can still grow even though the extract has be given  L. l Keywords: Potential Starfish, Antibacterial Activity, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, and Streptococcus agalactiae Bintang laut merupakan salah satu spesies dari kelas Asteroidea, dan dikelompokkan kedalam filum Echinodermata. Filum Echinodermata  terdiri atas kurang lebih 6000 spesies dan semuanya hidup di air laut. Bintang laut  merupakan salah satu sumber penghasil senyawa bioaktif. Senyawa aktif dari bintang laut telah diketahui memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, antifungi dan imunostimulator, ada juga bintang laut biru yang potensial sebagai antitumor dan agen antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan ekstrak kasar dari beberapa jenis bintang laut, dan menguji aktivitas antibakteri ekstrak kasar bintang laut terhadap bakteri Streptococcus agalactiae, Escherichia coli dan  Staphylococcus aureus. Uji aktivitas antibakteri dari ekstrak kasar bintang laut Protoreaster nodosus, Achaster tipycus, dan Linckia laevigata terhadap bakteri E. coli, S. aureus, dan S. agalactiae mengggunakan metode difusi agar dengan cara sumur. Ekstrak L. l mampu menghambat bakteri E.coli pada konsentrasi ekstrak 1.000 mg/ml dengan diameter zona hambat 11.0 mm, sedangkan pada konsentrasi 750 mg/ml bakteri uji masih bisa bertumbuh pada bakteri S. agalactiae dan S. aureus masih dapat bertumbuh walaupun telah diberikan ekstrak L. l.Kata Kunci : Potensi Bintang Laut, Aktivitas Antibakteri, Streptococcus agalactiae, Escherichia coli and  Staphylococcus aureus
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN ANTI-UV Phyllidiella nigra DAN BAKTERI SIMBIOTIKNYA DARI PERAIRAN TANJUNG MANDOLANG Tessalonica Dajoh; Robert A Bara; Esther Angkouw; Medy Ompi; Rosita A Lintang; Cykca Lumenta
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 8 No. 2 (2020): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.8.2.2020.29768

Abstract

Phyllidiella nigra is an organism that is suspected to have secondary metabolites because their ability to develop its self defense system by camouflage and using chemical compounds derived from their nature diet as deterrent against their predators. The purpose of this study was to isolate symbiotic bacterial derived from P. nigra, extracted and followed by, the antibacterial assays against Escherichia coli and Bacillus megaterium as well as the anti-UV assay. The results showed that the five isolates tested had an antibacterial activity with the highest average inhibition zone against E. coli DSM 498 bacteria, isolate 1 (14.67 mm), isolate 5 (14 mm), and against B. Megaterium DSM 32T bacteria, isolate 3 (13.33 mm). The three isolates which had the highest inhibition zone and P. nigra extract were tested for anti-UV assay using a UV-Vis Spectrophotometer. The results obtained isolate 3 has absorption of UV-A with the UV absorbtion maximum at λ 340 nm and P. nigra extract has absorption on UV-B radiation with UV absorption maximum at λ 290 nm. Key words: Nudibranchia, Bacteria, Anti-bacteial, Anti-UV Phyllidiella nigra merupakan organisme yang diduga memiliki metabolit sekunder karena mampu mengembangkan sistem pertahanan dirinya dengan cara kamuflase dan menggunakan senyawa kimia sebagai racun yang didapat dari makanannya. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendapatkan isolat bakteri yang bersimbiosis dengan P. nigra, mendapatkan ekstrak dari baktri simbion, dan menguji antibakteri dan anti-UV ekstrak etil aseta bakteri simbion dengan metode difusi agar terhadap bakteri Escherichia coli dan Bacillus megaterium. Hasil penelitian didapatkan kelima isolat yang diuji memiliki aktivitas antibakteri dengan rerata zona hambat tertinggi terhadap bakteri E. coli DSM 498 yaitu isolat 1 (14,67 mm), isolat 5 (14 mm), dan terhadap baktri B. megaterium DSM 32T yaitu isolat 3 (13,33 mm). Ketiga isolat yang memiliki zona hambat tertinggi dan ekstrak P. nigra diujikan anti-UV menggunakan alat UV-Vis Spektrofotometer. Hasil yang didapat isolat 3 memiliki serapan terhadap radiasi sinar UV-A dengan puncak tertinggi pada λ 340 nm dan ekstrak P. nigra memiliki serapan terhadap radiasi sinar UV-B dengan puncak tertinggi berada pada λ 290 nm. Kata kunci: Nudibranchia, Bacteria, Anti-bacteial, Anti-UV
POTENSI BIOAKTIVITAS ANTI JAMUR DAN ANTI-UV DARI ISOLAT JAMUR SIMBION PADA ASCIDIA Eudistoma sp Enjelika Polimba Sahuma; Deiske A Sumilat; Veibe Warow; Fitje Losung; Esther D Angkouw; Okstan Kalesaran
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 9 No. 3 (2021): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.9.3.2021.36661

Abstract

Ascidia Eudistoma sp. produce bioactive compounds that can inhibit the growth of microorganisms. Ascidians are also known for their potential secondary metabolites in the biomedical world. This study aimed to obtain isolates of the ascidia symbiont Eudistoma sp., determine the antifungal activity against the test fungus Candida albicans, and determine the anti-UV activity of the symbiont Eudistoma sp. The ascidia symbiont fungus was extracted using maceration method with ethyl acetate solvent and tested for antifungal activity using the test fungus Candida albicans. The antifungal activity test results showed that the diameter of the AFBN 5b inhibition zone of 9 mm. The symbiont fungus can be said to have potential as an antifungal drug.  Testing the anti-UV activity of fungi in symbiosis with ascidia Eudistoma sp. using a spectrophotometer showed that the extract sample of the ascida symbiont fungus could produce an absorption at UV-B (λ 290–320 nm) of 3.8 absorbance and when compared to UV-A (λ 370–400 nm) an absorption value of 0.38 was obtained and is still classified as moderate Keywords: Ascidia, Eudistoma sp., symbionts, Antifungal and Anti-UV
KEANEKARAGAMAN SPONS DI KAWASAN PANTAI KINAMANG KECAMATAN MALALAYANG KOTA MANADO Putra Musak; Deiske A. Sumilat; Joshian N. W. Schaduw; Antonius P. Rumengan; Esther D. Angkouw; Suzanne L. Undap
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 1 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.1.2023.53334

Abstract

Spons are primitive living settled animals that are filter feeder. These animals are commonly found in tropical and sub-tropical waters, ranging from the intertidal zone to the subtidal. The aim of this study is to know the diversity of species and the content of bioactive sponges. Sponge data collection: ecological index, species composition and density of sponge as well as knowledge of the study of bioactive sponge using the library study of the research carried out and using the scientific articles of the last 10 years, from 2013 to 2023. The study used the transec belt method that has been modified. From the use of the method, 17 Families were obtained, 48 individuals at a depth of 7 m and 118 individuals at 14 m. Based on the results of this study showed that the index of diversity obtained from the analysis results belonged to the average in 7 m and 14 m. Distribution patterns obtained from data analysis results obtain the distribution pattern at a depth of 7 m grouping 5 families, uniform 5 families and random 1 family. At a depth of 14 m, the most spread pattern is the uniform spread of 10 families, and the spread model groups 4 families. The index of diversity obtained from the results of data analysis is high (stable). The composition of the species obtained from the results of the analysis showed the highest species of the clionaidae family and the lowest sponge species composition is 7 m depth is 0%, the lower species in 14m depths is 11.86%. The highest value of spongy density at a depth of 7 meters is 2.44 ind/m² and the lowest is 0.15 ind/m², whereas at depths of 14 meters with the highest values are 3.16 ind/m² and lower is 0.08 ind/m² and a library study of the bioactive content received 27 articles related to the family obtaining at the research site and in teluk manado.Keywords: Diversity, Sponge, Kinamang Beach, Bioactive ContentABSTRAKSpons merupakan hewan primitif yang hidup menetap yang bersifat filter feeder (menyaring). Hewan ini sangat umum dijumpai di perairan tropis dan sub tropis, sebarannya mulai dari zona intertidal hingga zona subtidal. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui keanekaragaman jenis dan kandungan bioaktif spons. Pengambilan data spons : indeks ekologi, komposisi jenis dan kepadatan spons serta mengetahui kajian mengenai bioaktif spons dengan menggunakan studi pustaka dari penelitian yang telah dilakukan dan menggunakan artikel ilmiah 10 tahun terakhir tahun 2013 sampai 2023. Penelitian ini menggunakan metode belt transek yang telah dimodifikasi. Dari pengunaan metode tersebut diperoleh 17 Famili, 48 individu pada kedalaman 7 m dan 118 individu pada kedalaman 14 m. Berdasarkan hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman yang diperoleh dari hasil analisis tergolong sedang pada kedalam 7 m dan 14 m. Pola Sebaran yang diperoleh dari hasil analisis data didapatkan pola sebaran pada kedalaman 7 m pola sebaran mengelompok 5 famili, pola sebaran seragam 5 famili,dan pola sebaran acak 1 famili. Sedangkan pada kedalaman 14 m pola sebaran terbanyak yaitu, pola sebaran seragam 10 famili, dan pola sebaran mengelompok 4 famili. Indeks keseragaman yang diperoleh dari hasil analisis data yaitu tergolong tinggi (stabil). Komposisi jenis yang diperoleh dari hasil analisis menunjukkan jenis spons tertinggi yaitu dari famili clionaidae dan komposisi jenis spons terendah kedalaman 7 m yaitu 0%, jenis spons terendah pada kedalaman 14 m yaitu 11,86 %. Nilai kepadatan spons tertinggi pada kedalaman 7 m yaitu 2,44 ind/m² dan terendah yaitu 0,15 ind/m², sedangkan pada kedalaman 14 meter dengan nilai tertinggi yaitu 3,16 ind/m² dan terendah yaitu 0,08 ind/m² dan studi pustaka mengenai kandungan bioaktif yang didapatkan 27 artikel yang berkaitan dengan famili yang didapatkan di lokasi penelitian dan di teluk manado.Kata Kunci: Keanekaragaman, Spons, Pantai Kinamang, Kandungan Bioaktif
PERBANDINGAN KARAKTERISTIK FISIKA KIMIA KARAGENAN YANG DIEKSTRAKSI DARI RUMPUT LAUT Eucheuma spinosum DAN Kappaphycus alvarezii SEBAGAI BAHAN BAKU MASKER WAJAH Adinda N. Dunggio; Billy Th. Wagey; Inneke F.H. Rumengan; Deiske A. Sumilat; Agung B. Windarto; Esther Angkouw
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 2 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.2.2023.53359

Abstract

The aim of this study was to compare the physicochemical characteristics of carrageenanextraction from seaweeds E. spinosum and K. alvarezii, and the facial mask preparations produced.This study was conducted from February to May 2023, starting from sampling in Nain Village, WoriDistrict, North Minahasa Regency and continued at the Marine Biotechnology and PharmaceuticalLaboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Sam Ratulangi University. This study was carriedout in several stages, namely extraction with NaOH at three different temperatures, and carrageenancharacterization by measuring yield, moisture content and gel strength, as well as mask preparationfrom carrageenan raw material using a mask maker machine and waterbath. Furthermore, irritation testwas performed by applying the mask preparation on human skin. The results of this study showed thatthe yield of carrageenan extracted from seaweeds K. alvarezii and E. spinosum were 22.36% and13.86%, respectively. The moisture content of carrageenan K. alvarezii (16.25%) was lower than E.spinosum (19.00%). Similarly, the gel strength of carrageenan K. alvarezii was 69.12 g/cm2 lower thanE. spinosum (80.20 g/cm2). Mask made from carrageenan from E. spinosum using a machine took 29hours and resulted in a film-like shape that was slightly flexible, while mask processing fromcarrageenan from K. alvarezii only took 10 minutes resulting in a compact jelly-like texture. Withwaterbath for 30 minutes, mask made from carrageenan from E. spinosum formed a solid gel, whilemask from carrageenan from K. alvarezii formed a thinner gel. It can be concluded that differentphysicochemical characteristics of carrageenan extracts cause different textures of the masksproduced. Irritation test of mask made from carrageenan from both types of seaweed did not causeirritation on the skin.Keywords: Seaweed, Eucheuma spinosum, Kappapychus alvarezii, Carrageenan, Facial Mask ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan karakteristik fisika kimia ekstraksikaragenan dari rumput laut E. spinosum dan K. alvarezii, dan sediaan masker wajah yang dihasilkan.Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari - Mei 2023 yang dimulai dari pengambilan sampel diDesa Nain, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara dan dilanjutkan di Laboratorium Bioteknologidan Farmaseutika Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Sam Ratulangi.Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu ekstraksi dengan NaOH pada tiga suhu yangberbeda, dan karakterisasi karagenan dengan mengukur rendemen, kadar air dan kekuatan gel, sertapreparasi masker berbahan baku karagenandengan mesin pembuat masker dan waterbath.Selanjutnya uji iritasi dilakukan dengan mengoleskan sediaan masker pada kulit manusia. Hasilpenelitian ini menunjukkan bahwa rendemen karagenan yang diekstraksi dari rumput laut K. alvareziidan E. spinosum, masing-masing 22,36% dan 13,86%. Kadar air dari karagenan K. alvarezii (16,25%),lebih rendah dari E. spinosum (19,00%). Demikian pula, kekuatan gel karagenan K. alvarezii sebesar69,12 g/cm2lebih rendah dari E. spinosum (80,20 g/cm2). Masker berbahan baku karagenan dari E.spinosum dengan menggunakan mesin membutuhkan waktu 29 jam dan hasilnya berbentuk film yangagak lentur, sedangkan pemrosesan masker dari karagenan dari K. alvarezii hanya butuh waktu 10menit menghasilkan bertekstur jeli yang kompak. Dengan waterbath selama 30 menit, maskerberbahan baku karagenan dari E. spinosum berbentuk gel yang padat, sedangkan masker darikaragenan dari K. alvarezii berbentuk gel yang lebih encer. Dapat disimpulkan bahwa karakteristik fisikakimia ekstrak karagenan yang berbeda menyebabkan tekstur dari masker yang dihasilkan jugaberbeda. Uji iritasi masker berbahan baku karagenan dari kedua jenis rumput laut tersebut, tidakmenimbulkan iritasi pada kulit. Kata kunci: Rumput Laut, Eucheuma spinosum, Kappapychus alvarezii, Karagenan, Masker Wajah
UJI AKTIVITAS ANTI ULTRAVIOLET EKSTRAK TERIPANG Holothuria atra, Holothuria scabra SERTA Synapta maculata DARI PANTAI TONGKAINA KECAMATAN BUNAKEN KOTA MANADO Rian S. Lalawi; Esther D. Angkouw; Remy E.P. Mangindaan; Robert Bara; Inneke F. Rumengan; Frans Lumuindong
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 3 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.3.2023.53659

Abstract

Anti-UV compounds are compounds used for making sunscreen or sunscreen/sunblock that can absorb sunlight. Several classes of antioxidant active compounds such as cinnamates, flavonoids, tannins, quinones, and others have been studied to have the ability to protect the skin from UV rays. The purpose of this study was to determine the anti-UV substance of extracts of three types of sea cucumbers H. atra, H. scabra and S. maculata. This test was conducted using spectrophotometric analysis method using UV-Vis spectrophotometer. Spectrophotometer is a tool used to measure energy relatively if the energy is transmitted, reflected or emitted as a function of wavelength. The results of the anti-UV activity test showed that the three sea cucumbers were able to absorb UV A at 320-400 nm. From this study it can be concluded that sea cucumbers have the potential as anti-UV. It is suggested that it can be further researched with the purification stage. Keywords: Sea cucumber, Holothuria atra, Holothuria scabra, Synapta maculata, anti-UV ABSTRAK Senyawa anti UV adalah senyawa yang dipakai untuk bahan pembuatan tabir surya atau sunscreen/sunblock yang memiliki kemampuan untuk menyerap sinar matahari. Adapun beberapa golongan senyawa aktif antioksidan seperti sinamat, flavonoid, tanin, kuinon, dan lain-lain telah diteliti memiliki kemampuan untuk melindungi kulit dari sinar UV.Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan substansi anti UV ekstrak ketiga jenis teripang H. atra, H. scabra dan S. maculata. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis spektrofotometri dengan memakai alat spektrofotometer UV-Vis. Spektrofotometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. Hasil penelitian uji aktivitas anti UV menunjukan bahwa ketiga teripang mampu menyerap UV A pada 320-400 nm. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa teripang laut berpotensi sebagai anti-UV. Disarankan agar dapat diteliti lebih lanjut dangan tahap pemurnian. Kata kunci : Teripang laut, Holothuria atra, Holothuria scabra, Synapta maculata, anti-UV
Co-Authors Abraham L. Kowal Adinda N. Dunggio Agung B. Windarto Anisa Irwan ANTONIUS PETRUS RUMENGAN Arsida N.A. Kamaludin Billy T. Wagey Billy Th. Wagey Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Carolus P. Paruntu Carolus P. Paruntu Cykca Lumenta Deiske A Sumilat Deiske A. Sumilat Deiske A. Sumilat Deiske Adeliene Sumilat, Deiske Adeliene Delpris Piter Edwin L. A. Ngangi Elvy Like Ginting Enjelika Polimba Sahuma Fitje Losung Fitje Losung Fitje Losung Fitje Losung Frans Lumuindong Ginting, Elvy Like Glorima J. A. Tijow Grevo S. Gerung Gulo, Puji Eli Arnita Henky Manoppo Henky Manoppo Inneke F. Rumengan Inneke F.H. Rumengan Jane Mamuaja Joshian N. W. Schaduw Joshian N.W. Schaduw Kakaskasen Andreas Roeroe Kalalembang, Delarosa Khristin I. F. Kondoy, Khristin I. F. Kumampung, Deislie R. H. Kurniati Khemer Lidya Magdalena Lintang, Rosita A.J Lintang, Rosita AJ Maarisit, Ismariani Mamangkey, Noldy Gustaf Frans Manembu, Indri Shelovita Manembu Mangangkung, Nazarrian Mangindaan, Remy Emile Petrus Mantiri, Desy M. H Markus T. Lasut Markus T. Lasut Medy Ompi Medy Ompi Meivyarni Wangka Mengko, Christian Monijung, Revol Dulles Musak, Putra Natalia D.C. Rumampuk Natalie D Rumampuk Nickson J. Kawung Nickson J. Kawung Nickson J. Kawung, Nickson J. Okstan Kalesaran Pasodung, Aditya Putra Musak Putri E. Malinti Reiny Tumbol Remy E. P Mangindaan Remy E.P. Mangindaan Rian S. Lalawi Rignolda Djamaluddin Rignolda Djamaluddin Robert A Bara Robert A. Bara Robert Bara Rosita A Lintang Royke M. Rampengan Sandra O. Tilaar Sandra Tilaar Stenly Wullur Stenly Wullur Suria Darwisito, Suria Suzanne L. Undap Tessalonica Dajoh Tikas N.P. Rasmo Undap , Suzanne Lydia Veibe Warouw Veibe Warouw Veibe Warow Wilmy E. Pelle Yoan Lumbu