Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

THE ROLE OF SMART FARMING 5.0 IN CREATING FOOD SOVEIREGNTY IN INDONESIA D. Iwan Riswandi; Safruddin Safruddin; Dyah Suryaningrum; Sella Antesty; Emmy Hamidah
JURNAL ILMIAH EDUNOMIKA Vol 8, No 2 (2024): EDUNOMIKA
Publisher : ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29040/jie.v8i2.13158

Abstract

Abstract As we know, Indonesia is an agricultural country whose main income comes from the agricultural sector. Indonesia's position in the equatorial region and tropical climate makes Indonesia a country with megabiodiversity. Indonesia has a variety of regional conditions with agricultural management techniques according to the needs of farmers in the region. Smart farming 5.0 which utilizes artificial intelligence has become a mainstay for the Indonesian Government in the current digital era. Smart farming 5.0 can encourage farmers' work so that agricultural cultivation becomes measurable and integrated. Farmers can cultivate without depending on the season but through mechanization. The planting to harvesting process can be carried out accurately starting from labor, planting time and the harvesting process. Several smart farming technologies such as blockchain which can make it easier to track the supply of agricultural products for modern off-farm farming, agri drone sprayer (drone spraying pesticides and liquid fertilizer), drone surveillance (drones for mapping land), soil and weather sensors (soil and weather sensors) , smart irrigation system (smart irrigation), Agriculture War Room (AWR), Siscrop (information system) which have been implemented in several areas. The varying levels of education of farmers, the phenomenon of aging farmers, the high cost of Smart Farming technology tools are the biggest obstacles for farmers in implementing Smart Farming. This article aims to analyze the magnitude of the role of Smart Farming 5.0 to utilize the potential of millennial farmers as actors and analyze various government policies to support the implementation of Smart Farming 5.0 as an effort to create Indonesian food sovereignty. Keywords: Smart Farming 5.0., Food Sovereignty, Agriculture
Analisis Rantai Nilai Tanaman Kakao Kebun Rakyat di Kecamatan Air Batu Kabupaten Asahan Surya Fajri; Heru Gunawan; Azwar Anas Manurung; Indra Satria; Safruddin Safruddin
ProBisnis : Jurnal Manajemen Vol. 17 No. 1 (2026): February: Management Science
Publisher : Lembaga Riset, Publikasi dan Konsultasi JONHARIONO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan salah satu produsen kakao terbesar di dunia, menempati peringkat ketiga setelah Pantai Gading dan Ghana. Namun, rantai nilai kakao di Indonesia, khususnya pada perkebunan rakyat, menghadapi berbagai tantangan termasuk rendahnya kualitas fermentasi, saluran pemasaran yang panjang, dan distribusi keuntungan yang tidak merata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rantai nilai kakao di Kecamatan Air Batu, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, serta mengidentifikasi margin pemasaran pada setiap tingkat pelaku pasar. Penelitian dilaksanakan pada bulan September hingga Desember 2025 dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi yang melibatkan 45 petani kakao, 8 pedagang pengumpul desa, 4 pedagang pengumpul kecamatan, dan 2 pedagang besar. Analisis data menggunakan kerangka analisis rantai nilai Porter untuk memetakan aktivitas penambahan nilai dan menghitung margin pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga saluran pemasaran di wilayah penelitian: (1) petani-pedagang pengumpul desa-pedagang pengumpul kecamatan-pedagang besar dengan margin pemasaran Rp 8.500/kg; (2) petani-pedagang pengumpul kecamatan-pedagang besar dengan margin Rp 6.000/kg; dan (3) petani-pedagang besar dengan margin Rp 4.500/kg. Pendapatan Petani berkisar antara 87,59% hingga 93,43%. Ketiga saluran pemasaran tergolong efisien dengan nilai efisiensi di bawah 5%. Kendala utama dalam rantai nilai meliputi rendahnya tingkat fermentasi (hanya 15% produksi yang difermentasi), terbatasnya fasilitas pengeringan, dan lemahnya posisi tawar petani. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kelompok tani, perbaikan infrastruktur pengolahan pasca panen, dan penerapan kebijakan harga diferensiasi untuk biji kakao fermentasi guna meningkatkan efisiensi rantai nilai dan kesejahteraan petani