Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Rantai Nilai Tanaman Kakao Kebun Rakyat di Kecamatan Air Batu Kabupaten Asahan Surya Fajri; Heru Gunawan; Azwar Anas Manurung; Indra Satria; Safruddin Safruddin
ProBisnis : Jurnal Manajemen Vol. 17 No. 1 (2026): February: Management Science
Publisher : Lembaga Riset, Publikasi dan Konsultasi JONHARIONO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan salah satu produsen kakao terbesar di dunia, menempati peringkat ketiga setelah Pantai Gading dan Ghana. Namun, rantai nilai kakao di Indonesia, khususnya pada perkebunan rakyat, menghadapi berbagai tantangan termasuk rendahnya kualitas fermentasi, saluran pemasaran yang panjang, dan distribusi keuntungan yang tidak merata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rantai nilai kakao di Kecamatan Air Batu, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, serta mengidentifikasi margin pemasaran pada setiap tingkat pelaku pasar. Penelitian dilaksanakan pada bulan September hingga Desember 2025 dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi yang melibatkan 45 petani kakao, 8 pedagang pengumpul desa, 4 pedagang pengumpul kecamatan, dan 2 pedagang besar. Analisis data menggunakan kerangka analisis rantai nilai Porter untuk memetakan aktivitas penambahan nilai dan menghitung margin pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga saluran pemasaran di wilayah penelitian: (1) petani-pedagang pengumpul desa-pedagang pengumpul kecamatan-pedagang besar dengan margin pemasaran Rp 8.500/kg; (2) petani-pedagang pengumpul kecamatan-pedagang besar dengan margin Rp 6.000/kg; dan (3) petani-pedagang besar dengan margin Rp 4.500/kg. Pendapatan Petani berkisar antara 87,59% hingga 93,43%. Ketiga saluran pemasaran tergolong efisien dengan nilai efisiensi di bawah 5%. Kendala utama dalam rantai nilai meliputi rendahnya tingkat fermentasi (hanya 15% produksi yang difermentasi), terbatasnya fasilitas pengeringan, dan lemahnya posisi tawar petani. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kelompok tani, perbaikan infrastruktur pengolahan pasca panen, dan penerapan kebijakan harga diferensiasi untuk biji kakao fermentasi guna meningkatkan efisiensi rantai nilai dan kesejahteraan petani
Adopsi Agroteknologi, Efisiensi Produksi, dan Kinerja Agribisnis Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat dan Perusahaan dalam Mendukung Implementasi Biodiesel B50 di Indonesia Surya Fajri; Heru Gunawan; Indra Satria; Azwa Anas Manurung
ProBisnis : Jurnal Manajemen Vol. 17 No. 03 (2026): June: Management Science
Publisher : Lembaga Riset, Publikasi dan Konsultasi JONHARIONO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mandatori biodiesel B50 yang berlaku sejak 1 Juli 2026 meningkatkan kebutuhan minyak sawit mentah (CPO) domestik hingga 15,7 juta ton per tahun, sementara produksi CPO nasional stagnan pada kisaran 48–51 juta ton dan kesenjangan produktivitas antara perkebunan rakyat dan perusahaan masih lebar. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan tingkat adopsi agroteknologi, efisiensi teknis produksi, dan kinerja agribisnis antara perkebunan kelapa sawit rakyat dan perusahaan serta implikasinya terhadap pemenuhan bahan baku B50. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan campuran (mixed methods) dengan strategi concurrent embedded berdesain komparatif di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, pada Januari–Mei 2026 terhadap 30 pekebun swadaya dan empat unit kebun perusahaan yang dipilih secara purposive; data dianalisis dengan indeks adopsi teknologi, Data Envelopment Analysis (DEA), dan analisis pendapatan usahatani (R/C ratio) yang diperdalam dengan wawancara kualitatif. Hasil: Indeks adopsi agroteknologi perkebunan rakyat hanya 58,4 persen dibandingkan 91,7 persen pada perusahaan; rata-rata efisiensi teknis rakyat 0,672 (CRS) dengan hanya 10,0 persen unit efisien, sedangkan perusahaan mencapai 0,928; produktivitas tandan buah segar rakyat 14,6 ton per hektare per tahun berbanding 21,8 ton pada perusahaan, dengan R/C ratio 1,86 berbanding 2,34. Kesimpulan: Peningkatan adopsi agroteknologi kebun rakyat melalui peremajaan, benih bersertifikat, dan pemupukan berimbang merupakan jalur intensifikasi paling realistis untuk menutup defisit bahan baku B50 tanpa ekspansi lahan. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi analisis komparatif adopsi teknologi, efisiensi DEA, dan kinerja agribisnis dua tipologi pengelolaan sawit dalam kerangka kebijakan energi B50 yang belum pernah dikaji sebelumnya