Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pelatihan Standardisasi Waktu Salat: Upaya Meningkatkan Pemahaman Masyarakat terkait Waktu Shalat di Kecamatan Alam Barajo Kota Jambi Rahmadi Rahmadi; Tasnim Rahman Fitra; Husin Bafadhal
J-ABDIPAMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol 8, No 1 (2024): April 2024
Publisher : IKIP PGRI Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30734/j-abdipamas.v8i1.4081

Abstract

ABSTRACTCommunity understanding regarding prayer times is important to address the differences that occur. This service aims to provide an understanding of prayer times theoretically and applicatively as well as calibrate time benchmarks (clocks) in mosques which are indicated to be inaccurate. This activity was carried out through training related to the implementation of the Indonesian Ministry of Religion's standard prayer times in Alam Barajo District, Jambi City. These PkM activities are generally carried out using the Participatory Action Research (PAR) method where parties (stakeholders) are actively involved in the activities. As a result, through this socialization activity, the community's paradigm and responsibility for the importance of standard prayer times has become better, especially in its implementation among the community. Furthermore, it is hoped that standardization of prayer times can be maintained and conflicts related to differences in prayer times will not occur.Keywords: Prayer Times, Training, Standardization of Prayer Times ABSTRAKPemahaman masyarakat terkait dengan waktu salat adalah hal yang penting untuk menyikapi perbedaan yang terjadi. Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang waktu salat secara teoritis-aplikatif sekaligus mengkalibrasi patokan waktu (jam) pada masjid-masjid yang terindikasi belum presisi. Kegiatan ini dilaksanakan melalui pelatihan terkait implementasi waktu salat standar Kemenag RI di Kecamatan Alam Barajo Kota Jambi. Kegiatan PkM ini secara umum dilaksanakan dengan menggunakan metode Participatory Action Research (PAR) dimana pihak-pihak (stakeholders) dilibatkan secara aktif dalam kegiatan. Hasilnya, melalui kegiatan sosialisasi ini paradigma dan tanggung jawab masyarakat terhadap pentingnya waktu salat yang standar menjadi semakin baik, terutama dalam implementasinya di tengah-tengah Masyarakat. Selanjutnya diharapkan standarisasi waktu salat dapat terjaga dan konflik berkaitan dengan perbedaan waktu salat ini tidak terjadi.Kata Kunci: Waktu Salat, Pelatihan, Standarisasi Waktu Salat
Investigation of the Appearance of Fajr Ṣādiq as the Basis for Determining the Beginning of Subuh Prayer Time Using a Sky Quality Meter at Mount Kerinci. Rahmadi Rahmadi; Arman Abdul Rochman
Al-Marshad: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan Vol 12, No 1 (2026): Al-Marshad
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jam.v12i1.28884

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki kemunculan fajar subuh sebagai dasar penentuan awal waktu shalat subuh menggunakan Sky Quality Meter (SQM) di kaki Gunung Kerinci, Provinsi Jambi. Latar belakang penelitian ini muncul dari perbedaan kriteria sudut depresi matahari yang digunakan untuk menentukan awal waktu subuh, khususnya antara −18° dan −20°, serta temuan empiris yang menunjukkan pengaruh signifikan kualitas langit malam dan kondisi atmosfer terhadap visibilitas fajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif-deskriptif dengan pengamatan berkelanjutan yang dilakukan selama 14 hari dari tanggal 23 Oktober hingga 6 November 2025. Data kecerahan langit malam dianalisis menggunakan metode pencocokan gradien polinomial orde keenam untuk mendeteksi titik infleksi dalam peningkatan kecerahan, yang diinterpretasikan sebagai kemunculan fajar subuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas langit malam selama periode pengamatan berkisar antara 14 hingga 17 MPASS, jauh di bawah ambang batas ideal 20,35 MPASS. Peningkatan signifikan pada kecerahan fajar terdeteksi ketika Matahari berada pada sudut depresi antara −11° dan −14°, yang berbeda dari kriteria referensi yang umum digunakan. Perbedaan ini disimpulkan sebagai akibat dari kondisi cuaca dan atmosfer yang tidak ideal, bukan koreksi terhadap kriteria yang telah ditetapkan untuk awal waktu Subuh. Studi ini menekankan pentingnya pengamatan jangka panjang dan pemilihan kondisi langit ideal dalam studi empiris penentuan waktu shalat Subuh.