Ria Haryatiningsih
Prodi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Islam Bandung, Indonesia.

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Pengaruh Tingkat Penerimaan Teknologi E-Wallet Terhadap Perilaku Konsumtif Generasi Milenial Kota Bandung Adiba Nuha Rabbani; Ria Haryatiningsih
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v4i1.10729

Abstract

Abstract. The digital era has had an impact on society, encouraging the utilization of technology for financial transactions, especially among the millennial generation, which is more influenced by technological advancements and responsive to environmental changes. One prevalent technology in use today is E-Wallet technology, which is a part of financial technology (fintech) as a company providing financial services with a modern technological touch. Financial Technology (fintech) has evolved with the lifestyle of the community, involving technology in daily activities. The analytical method used in this research is quantitative with a descriptive approach, utilizing SmartPLS 3.0 as the tool. Sample collection technique involves purposive sampling, with 100 respondents from the millennial generation in Bandung who are users of E-Wallet technology. The measurement scale used is the Likert scale. Based on the questionnaire data processing, conclusions can be drawn regarding Perceived Ease of Use, Perceived Usefulness, Attitude Toward Using, Behavioral Intention, and Actual Use, all of which exhibit strong perceptions indicated by the intervals of strongly agree and agree. Additionally, there is a significant influence between technology acceptance and the variable of consumptive behavior, as evidenced by a T-Statistic value of 9.180. However, both variables only demonstrate a moderate relationship, as indicated by an R-Square value of 28.5%, meaning that the remaining 72.5% is influenced by other variables not covered in this study. Abstrak. Era digital memberikan dampak pada masyarakat untuk memanfaatkan teknologi sebagai transaksi keuangan terutama pada generasi milenial yang lebih terpengaruh pada perkembangan teknologi dan reaktif pada perubahan lingkungan. Salah satu teknologi yang marak dipakai saat ini ialah teknologi E-Wallet yang merupakan bagian dari financial technology (fintech) sebagai perusahaan penyedia jasa keuangan dengan sentuhan teknologi modern. Financial Technology (fintech) berkembang dengan adanya gaya hidup masyarakat yang melibatkan teknologi pada aktivitas sehari-hari. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif serta menggunakan alat SmartPLS 3.0. Teknik pengumpulan sampel menggunakan purposive sampling atau sampel bertujuan, yaitu sebanyak 100 responden generasi milenial Kota Bandung pengguna teknologi E-Wallet. Skala pengukuran yang dipakai ialah dengan skala likert. Berdasarkan pengolahan data kuesioner maka dapat diperoleh kesimpulan yaitu pada Perceived Ease of Use, Perceived Usefulness, Attitude Toward Using, Behavioral Intention, dan Actual Use memiliki persepsi kuat yang ditunjukkan pada interval sangat setuju dan setuju. Selain itu, terdapat pengaruh yang signifikan antara penerimaan teknologi terhadap variabel perilaku konsumtif yang ditandai dengan nilai T-Statistic sebesar 9,180. Namun, pada kedua variabel tersebut hanya menujunjukkan hubungan moderat yang ditandai dengan nilai R-Square sebesar 28,5 pesen, sehingga besaran nilai 72,5 persen lainnya dipengaruhi oleh variabel diluat penelitian ini.
Pengaruh Inflasi, Upah Minimum dan Jumlah Penerima BLT terhadap Pengeluaran Konsumsi Perkapita di 7 Kota Jawa Barat Tahun 2018-2022 Safina Allyanisa Hidayat; Ria Haryatiningsih
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v4i1.10925

Abstract

Abstract. The main indicator that makes up a country's economic performance is aggregate spending, which includes total public spending on goods and services. Consumption decisions by households have a significant impact on overall economic behavior, both in the long and short term. Including one of them, West Java province as one of the provinces after DKI Jakarta which has the highest GDP value in the Java Island region where household consumption dominates and the largest contributor to GRDP according to usage. West Java Province in which there are 7 major cities that are most dominant in contributing to the economy including Bogor City, Sukabumi City, Bandung City, Bekasi City, Cirebon City, Depok City, and Tasikmalaya City. The seven cities are considered centers of economic activity reflecting regional macroeconomic dynamics. This study aims to determine the effect of Inflation, Minimum Wage and Number of BLT Recipients on Per Capita Consumption Expenditure in 7 Cities of West Java. The analysis method used in this study is panel data regression with Fixed Effect Model (FEM) approach. The results of the analysis obtained, it can be seen that the Inflation variable has a negative and significant effect on the Per Capita Consumption Expenditure variable in 7 Major Cities of West Java, and the Minimum Wage and Number of BLT Recipients variables have a positive and significant effect on the Per Capita Consumption Expenditure variable in 7 Major Cities of West Java. Abstrak. Indikator utama yang membentuk kinerja ekonomi suatu negara adalah pengeluaran agregat, yang mencakup total belanja masyarakat untuk barang dan jasa. Keputusan konsumsi oleh rumah tangga memiliki dampak signifikan terhadap perilaku ekonomi secara keseluruhan, baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Termasuk salah satunya, provinsi Jawa Barat sebagai salah satu provinsi setelah DKI Jakarta yang memiliki nilai PDRB tertinggi di wilayah Pulau Jawa dimana konsumsi rumah tangga mendominasi dan penyumbang terbesar dalam PDRB menurut penggunaan. Provinsi Jawa Barat didalamnya terdapat 7 kota besar yang paling dominan dalam memberikan kontribusi perekonomian diantaranya Kota Bogor, Kota Sukabumi, Kota Bandung, Kota Bekasi, Kota Cirebon, Kota Depok, dan Kota Tasikmalaya. Ketujuh kota tersebut dianggap sebagai pusat aktivitas ekonomi yang mencerminkan dinamika makroekonomi regional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Inflasi, Upah Minimum dan Jumlah Penerima BLT terhadap Pengeluaran Konsumsi Perkapita di 7 Kota Besar Jawa Barat. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi data panel dengan pendekatan Fixed Effect Model (FEM). Hasil analisis yang diperoleh, dapat diketahui bahwa variabel Inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap variabel Pengeluaran Konsumsi Perkapita di 7 Kota Besar Jawa Barat, serta variabel Upah Minimum dan Jumlah Penerima BLT berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel Pengeluaran Konsumsi Perkapita di 7 Kota Besar Jawa Barat.
Pengaruh PDRB, Jumlah Sektor Industri & Upah Minimum terhadap Kesempatan Kerja di 10 Kabupaten/Kota Jawa Barat Periode 2017-2021 Ratih Trisnawati; Ria Haryatiningsih
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v4i1.11174

Abstract

Abstract. The problems currently facing Indonesia, such as the lack of employment prospects, are complex problems involving elements of the welfare state, economy, society and politics. The number of workers in Indonesia is still greater than the number of open jobs. One indicator of how well economic development is going, labor plays an important role in it. The aim of this research is to determine the effect of the number of industries, GRDP, and minimum wages on employment opportunities in ten districts and cities in West Java from 2017 to 2021. The fixed effect model is an estimate used in a quantitative research approach. which uses panel data as a regression analysis model. . Secondary data obtained from the Central Statistics Agency (BPS) website was used in this research. The findings of this research show how the number of industries, GDP, and minimum wages influence employment opportunities simultaneously. Meanwhile, the minimum wage has a positive and large influence on job prospects, the number of industries has a small influence on employment opportunities, and partially GRDP has a negative and large influence. Suggestions for other research that uses this research as a reference, can expand the objects and variables used. Abstrak. Permasalahan yang dihadapi Indonesia saat ini, seperti kurangnya prospek lapangan kerja , merupakan permasalahan rumit yang melibatkan unsur - unsur negara kesejahteraan , ekonomi , masyarakat , dan politik. Jumlah tenaga kerja di Indonesia masih lebih besar dibandingkan dengan jumlah lapangan kerja yang terbuka . Salah satu indikator seberapa baik pembangunan ekonomi berjalan , tenaga kerja memainkan peranan penting di dalamnya . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah industri , PDRB , dan upah minimum terhadap kesempatan kerja di sepuluh kabupaten dan kota di Jawa Barat pada tahun 2017 hingga 2021. Model fixed effect merupakan estimasi yang digunakan dalam pendekatan penelitian kuantitatif yang menggunakan data panel model analisis regresi. Data sekunder didapatkan dari website Badan Pusat Statistik ( BPS ) digunakan dalam penelitian ini. Temuan studi ini menunjukkan bagaimana jumlah industri , PDRB , dan upah minimum mempengaruhi peluang kerja secara bersamaan. Sementara itu , upah minimum mempunyai pengaruh yang positif dan besar terhadap prospek kerja , jumlah industri mempunyai pengaruh yang kecil terhadap kesempatan kerja , dan secara parsial PDRB mempunyai pengaruh yang negatif dan besar. Saran untuk penelitian lainnya yang menggunakan penelitian ini sebagai referensi, dapat meluaskan kembali objek dan variabel yang digunakan.
Pengaruh Upah Minimum Provinsi, Pertumbuhan Ekonomi, Dan Indeks Pembangunan Manusia Terhadap Tingkat Pengangguran Di Provinsi Banten Tahun 2008-2022 Taufik Asri; Ria Haryatiningsih
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v4i1.11868

Abstract

Abstract. The island of Java has the highest open unemployment rate in Indonesia due to its dense population and being the center of government, education center and industrial center, so competition in finding work is very tight. The province that has made a large contribution to the open unemployment rate for twelve consecutive years in Indonesia is Banten Province. This research was written to analyze how much influence the minimum wage, economic growth and human development index have in Banten Province in 2008-2022. The type of research carried out was quantitative descriptive, the data collection technique used in this research was documentation study, the data used in this research used secondary data, and the analysis model used in this research was multiple linear regression with the eviews12 program. The results of the research show that the provincial minimum wage partially has a significant effect on the unemployment rate in Banten Province with a prob value of 0.0036 < 0.05 and a coefficient of – 7.788013. Partial economic growth has a significant effect on the unemployment rate in Banten Province with a probability value of 0.0399 < 0.05 and a coefficient of – 0.403049. The partial human development index does not have a significant effect on the unemployment rate in Banten Province with a probability figure of 0.39 > 0.05. Then the provincial minimum wage, economic growth and human development index simultaneously have a significant effect on the unemployment rate in Banten Province with a prob value of (0.000699) < 0.05. Abstrak. Pulau Jawa memiliki tingkat pengangguran terbuka tertinggi di Indonesia yang disebabkan oleh jumlah penduduk yang padat serta menjadi pusat pemerintahan, pusat pendidikan, dan pusat industri, sehingga kompetisi dalam mencari pekerjaan sangat ketat. Provinsi yang memberikan kontribusi besar dalam tingkat pengangguran terbuka selama dua belas tahun berturut-turut di Indonesia yaitu Provinsi Banten. Penelitian ini ditulis untuk menganalisis seberapa besar pengaruh upah minimum, pertumbuhan ekonomi, dan indeks pembangunan manusia di Provinsi Banten tahun 2008-2022. Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif kuantitatif, teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah studi dokumentasi, data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data sekunder, dan model analaisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda dengan program eviews12. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa upah minimum provinsi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengangguran di Provinsi Banten dengan nilai prob 0.0036 < 0,05 dan koefisien sebesar – 7.788013. Pertumbuhan ekonomi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengangguran di Provinsi Banten dengan nilai prob 0.0399 < 0,05 dan koefisien sebesar – 0.403049. Indeks pembangunan manusia secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengangguran di Provinsi Banten dengan angka prob 0.39 > 0,05. Kemudian upah minimum provinsi, pertumbuhan ekonomi, dan indeks pembangunan manusia secara simultan berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengangguran di Provinsi Banten dengan nilai prob (0.000699) < 0,05.
Pengaruh Inflasi, Nilai Output, dan Jumlah Industri terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Industri Mikro dan Kecil di Pulau Jawa Tahun 2017-2021 Intan Az Zahra; Ria Haryatiningsih
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v4i1.11882

Abstract

Abstract. Labor has an important role in economic development. However, it is a problem if the existing micro and small industrial sectors are not comparable to the workforce absorbed, this is because there are many factors that influence labor absorption, including inflation, output value, and number of industries. This research aims to find out how and how much influence inflation, output value, and number of industries have on the employment of micro and small industries on the island of Java in 2017-2021. This research is a type of research using a quantitative approach. The data used is secondary data for 6 provinces on the island of Java (DKI Jakarta, West Java, Central Java, Yogyakarta Special Region, East Java and Banten) in 2017-2021 taken through the Central Statistics Agency. The analysis used is panel data regression analysis with Random effect regression model, which is obtained based on the results of Chow test, Hausman test and Lagrange test. Data is processed using Eviews 10. The results show that inflation, output value, and the number of industries partially positively and significantly affect the employment of micro and small industries. However, changes in labour absorption in micro and small industries in the 6 provinces in Java Island are not very responsive to changes in inflation, output value, and number of industries. This is in accordance with the characteristics of labour in micro and small industries, many of which come from families. Abstrak. Tenaga kerja memiliki peranan penting dalam Pembangunan ekonomi. Akan tetapi menjadi masalah jika sektor industri mikro dan kecil yang ada tidak sebanding dengan tenaga kerja yang terserap, hal ini dikarenakan ada banyak faktor yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja, di antaranya inflasi, nilai output, dan jumlah industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dan seberapa besar pengaruh inflasi, nilai output, dan jumlah industri terhadap penyerapan tenaga kerja industri mikro dan kecil di Pulau Jawa tahun 2017-2021. Penelitian ini merupakan jenis penelitian dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan adalah data sekunder 6 provinsi di Pulau Jawa (DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur dan Banten) tahun 2017-2021 yang diambil melalui Badan Pusat Statistik. Analisis yang digunakan adalah analisis regresi data panel dengan model regresi Random effect, yang diperoleh berdasarkan hasil uji Chow, uji Hausman dan uji Lagrange. Data diolah dengan menggunakan Eviews 10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inflasi, nilai output, dan jumlah industri secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja industri mikro dan kecil. Akan tetapi perubahan penyerapan tenaga kerja di industri mikro dan kecil di 6 Provinsi yang ada di Pulau Jawa ini sangat tidak responsif terhadap perubahan tingkat inflasi, nilai output, dan jumlah industri. Ini sesuai dengan karakteristik tenaga kerja di industri mikro dan kecil yang banyak berasal dari keluarga.
Faktor Penentu Masyarakat dalam Memilih Perumahan di Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung Nurul Ilmi Rahmadini; Ria Haryatiningsih
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 4 No. 3 (2024): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v4i3.13371

Abstract

Abstract. Housing and settlements are problems that will always develop along with population growth. Increased development in the city causes the need for land for housing development, public facilities, and other needs to increase. The limited availability of urban land has an impact on the difficulty of obtaining further land, making land prices continue to increase. Meanwhile, the need for housing for city dwellers must be met, causing the location of housing to shift towards the suburbs. This study aims to determine people's perceptions of factors that can encourage people's decisions to choose housing in Baleendah District. This research uses quantitative descriptive method. The data collection technique used is the Likert Scale, which can help in the preparation of research instruments (questionnaires). Then the results of the study can describe and measure the behavior of attitudes and perceptions of the community about a phenomenon. The results showed that the factors of income, environment, price perception, facilities and accessibility can encourage the decision to choose housing in Baleendah District. Of the five factors, the factor that has the most encouragement in the determination of choosing housing in Baleendah District is the income factor. Abstrak.Perumahan dan permukiman merupakan permasalahan yang akan selalu berkembang seriring dengan pertambahan penduduk. Pembangunan di kota yang semakin meningkat menyebabkan kebutuhan lahan untuk pembangunan perumahan, fasilitas umum, maupun kebutuhan lainnya akan semakin meningkat. Ketersediaan lahan kota yang terbatas berdampak pada sulitnya memperoleh lahan selanjutnya membuat harga lahan terus meningkat. Sementara itu kebutuhan akan hunian penduduk kota harus dipenuhi mengakibatkan lokasi hunian bergeser ke arah pinggiran kota Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap faktor -faktor yang dapat mendorong dalam keputusan masyarakat untuk memilih perumahan di Kecamatan Baleendah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah Skala Likert, yang dapat membantu dalam penyusunan instrumen penelitian (kuesioner). Kemudian hasil dari penelitian dapat menggambarkan dan mengukur perilaku sikap dan persepsi masyarakat tentang suatu fenomena. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pendapatan, lingkungan, persepsi harga, fasilitas dan aksesibilitas dapat mendorong keputusan memilih perumahan di Kecamatan Baleendah. Dari lima faktor tersebut, faktor yang memiliki dorongan paling besar dalam penentuan memilih perumahan di Kecamatan Baleendah adalah faktor pendapatan.
Faktor-Faktor yang Menentukan Konsumen dalam Memilih Café di Kecamatan Bandung Wetan Kota Bandung Resti Meirawati; Ria Haryatiningsih
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 4 No. 3 (2024): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v4i3.13429

Abstract

Abstract. The development of the times has shifted the culture among the people, one of which is the way of consuming coffee drinks. Today, coffee has become a lifestyle for all. This cultural shift creates an attractive market for entrepreneurs. This phenomenon is evidenced by the growth of cafés in big cities, one of which is Bandung City, the growth of cafés is increasing from year to year. There is a sub-district with the highest number of cafes in Bandung City, namely Bandung Wetan Sub-district with 46 cafes. Jalan R.E. Martadinata and Jalan Trunojoyo are two streets in Bandung Wetan that have the largest number of cafes. The rapid growth of cafés in Bandung City creates new opportunities and also increases the level of competition in this industry. To be able to stay competitive, café entrepreneurs need to understand their consumers, by knowing the factors that determine consumers in choosing a café in Bandung Wetan. This type of research is descriptive quantitative, using a Likert scale by distributing questionnaires to 100 respondents of café visitors in Bandung Wetan. The analysis method used is descriptive analysis. The results showed that there are 5 factors that determine consumers in choosing a café in Bandung Wetan, namely, service quality, product quality, café atmosphere, price and location. Abstrak. Perkembangan zaman telah menggeser budaya di kalangan masyarakat, salah satunya adalah cara mengonsumsi minuman kopi. Saat ini, kopi telah menjadi gaya hidup bagi semua kalangan. Pergeseran budaya ini menciptakan pasar yang menarik bagi para pengusaha. Fenomena ini dibuktikan dengan pertumbuhan café di kota-kota besar salah satunya Kota Bandung, pertumbuhan cafe yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Terdapat kecamatan dengan jumlah café terbanyak di Kota Bandung yaitu Kecamatan Bandung Wetan dengan jumlah 46 café. Jalan R.E. Martadinata dan Jalan Trunojoyo merupakan dua jalan di Bandung Wetan yang memiliki jumlah café terbanyak. Pertumbuhan pesat café di Kota Bandung menciptakan peluang baru dan juga meningkatkan tingkat persaingan di industri ini. Untuk dapat tetap bersaing, pengusaha café perlu memahami konsumennya, dengan mengetahui faktor-faktor yang menetukan konsumen dalam memilih café di Bandung Wetan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, menggunakan skala likert dengan menyebarkan kuesioner kepada 100 responden pengunjung café di Bandung Wetan. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 5 faktor yang menentukan konsumen dalam memilih café di Bandung Wetan yaitu, kualitas pelayanan, kualitas produk, suasana café, harga dan juga lokasi.
Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Belanja Modal dan Pendidikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Jawa Barat Tahun 2019-2023 Nadia Nurizka; Ria Haryatiningsih
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 4 No. 3 (2024): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v4i3.13758

Abstract

Abstract. The progress of a development is measured by a high Human Development Index. The higher the level of development in a country, the more advanced and developed the country is. West Java Province is not ranked among the 10 provinces with the highest Human Development Index (HDI) in Indonesia. This suggests that there are differences or challenges in human development efforts at the regional level, which require a special approach to overcome inequality and improve the quality of life for the welfare of society. This study aims to determine the effect of Regional Original Revenue, Capital Expenditure, and Education on the Human Development Index in West Java Province in 2019-2023. The analysis method used in this research is panel data regression with the Random Effect Model (REM) approach. The results of the analysis obtained, it can be seen that the Local Revenue variable has a positive and significant effect on the Human Development Index, the Capital Expenditure variable has no significant effect on the Human Development Index, and the Education variable has a positive and significant effect on the Human Development Index. Abstrak. Kemajuan suatu pembangunan diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia yang tinggi. Semakin tinggi tingkat pembangunan di suatu negara, maka semakin maju dan berkembang negara tersebut. Provinsi Jawa Barat tidak termasuk kedalam peringkat 10 Provinsi dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tertinggi di Indonesia. Hal tersebut mengisyaratkan adanya perbedaan atau tantangan dalam upaya pembangunan manusia di tingkat regional, yang memerlukan pendekatan khusus untuk mengatasi ketimpangan dan memperbaiki kualitas hidup untuk kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Belanja Modal, dan Pendidikan Terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Jawa Barat Tahun 2019-2023. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi data panel dengan pendekatan Random Effect Model (REM). Hasil analisis yang diperoleh, dapat diketahui bahwa variabel Pendapatan Asli Daerah berpengaruh positif dan signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia, variabel Belanja Modal tidak berpengaruh signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia, serta variabel Pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia.