Bawang merah memiliki signifikansi yang penting dalam konteks hortikultura, memiliki prospek pasar yang cerah, dan nilai ekonomi yang tinggi. Petani telah melakukan berbagai usaha dalam budidaya bawang merah untuk mencapai hasil terbaik, tetapi tantangan utama di lapangan adalah serangan organisme pengganggu tanaman. Salah satu faktor yang dapat mengurangi produksi bawang merah adalah serangan jamur Alternari porri yang dapat mengurangi hasil 3% hingga 57%, tergantung pada tingkat serangannya. Sejauh ini tindakan pengendalian yang dilakukan petani umumnya menggunakan fungisida sintetik untuk mengendalikan patogen, namun penggunaan fungisida dapat mempengaruhi kondisi lingkungan pertanaman. Oleh karenanya penelitian ini akan memanfaatkan ekstrak tumbuhan sebagai bio-fungisida untuk mengendalikan jamur A. porri. Penelitian ini di laksanakan di Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan yaitu PO: Kontrol, P1: Ekstrak Daun Mimba, P2: Ekstrak Daun Pepaya, P3 Ekstrak Umbi Bawang Putih, P4: Ekstrak Daun Kelor, P5: Ekstrak Daun Kelor, P6: Ekstrak Daun Sirsak dan P6: Ekstrak Daun Putri Malu dan diulang sebanyak 5 kali. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak yang diujikan mampu menghambat pertumbuhan jamur A. porri secara in-vitro dan perlakukan yang paling efektif adalah perlakuan Ekstrak daun mimba dengan persentase daya hambat mencapai 50,87% di ikuti Ekstrak Umbi Bawang Putih 38,95%; Ekstrak daun kelor 37,39%; Ekstrak Daun Pepaya 31, 10% dan yang paling rendah yaitu Ekstrak daun putri malu 21,96%.