Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : International Journal of Demos

Keberlanjutan Demokrasi Indonesia? Dua Tahun Pandemi COVID-19 yang Penuh Tantangan Agustino, Leo; Hikmawan, M Dian; Silas, Jonah
International Journal of Demos (IJD) Volume 5 Issue 2 (2023)
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v5i2.444

Abstract

AbstractThe COVID-19 pandemic provides trials as well as lessons for the democratic system in Indonesia. This article examines and discusses the sustainability of democracy in Indonesia by reflecting on the handling of the COVID-19 pandemic. The research method we use is qualitative with data collection techniques through observation, library research, and utilizing various online sources to analyze it. Our findings show that the government's strategy in anticipating the COVID-19 pandemic has reduced the level of democracy. This can be seen in the politicization of regulations which has led to the arrest and prosecution of civilians who disagree with the government. Second, the occurrence of executive aggrandisement by attracting opposition elites into the government so that there is no resistance in terms of handling COVID-19 and, third, the birth of a discourse on the perpetuation of executive power. If there are no efforts to correct the course of democracy, then Indonesian democracy will experience a deeper setback than during the COVID-19 pandemic.Keywords: COVID-19, Executive Aggrandisement, Democratic Regression, Authority AbstrakPandemi COVID-19 memberikan cobaan sekaligus pembelajaran terhadap sistem demokrasi di Indonesia.  Artikel ini membahas dan mendiskusikan keberlanjutan demokrasi di Indonesia dengan bercermin pada penanganan pandemi COVID-19.  Metode penelitian yang kami gunakan adalah kualitatif dengan teknik pengutipan data melalui observasi, library research, serta memanfaatkan berbagai sumber online untuk menganalisisnya.  Temuan Kami menunjukkan bahwa strategi pemerintah dalam mengantisipasi pandemi COVID-19 telah menurunkan kadar demokrasi.  Ini tampak pada politisasi regulasi yang berujung pada penangkapan dan penuntutan warga sipil yang berseberangan pandangan dengan pemerintah.  Kedua, terjadinya executive aggrandisement dengan cara menarik menarik masuk elit oposisi dalam pemerintahan agar tidak ada perlawanan dalam hal penanganan COVID-19 dan, ketiga, lahirnya wacana pengekalan kekuasaan eksekutif.  Jika tak ada upaya koreksi atas jalannya demokrasi, maka demokrasi Indonesia akan mengalami kemunduran yang lebih dalam dari masa pandemi COVID-19 lalu.Kata Kunci: COVID-19, Executive aggrandisement, Regresi demokrasi, Kuasa
Praktik Pembatasan Internet Pada Masa Konflik di Papua Silas, Jonah; Agustino, Leo; Hikmawan, M Dian
International Journal of Demos (IJD) Volume 6 Issue 1 (2024)
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v6i1.478

Abstract

AbstrakThis research explores the practice of internet restrictions carried out by the state, with a focus on the current socio-political conflict situation. Digital power as a concept is used in this research to look at state control over the internet, especially when socio-political conflicts occur, and the internet becomes a threat to state stability. This research focuses on state control of the internet in the practice of internet restrictions when social conflict is ongoing in Papua. Qualitative research was conducted using a case study approach, using literature studies and interviews with government institutions and private institutions that are related to the issue of internet restrictions. The main finding of this research is that the practice of internet restrictions carried out by the state during the conflict in Papua was to prevent the public from verifying the accuracy of information.Keywords:  Internet Restrictions, Digital Power, Conflict in Papua. AbstrakPenelitian ini mengeksplorasi praktik pembatasan internet yang dilakukan oleh negara, dengan fokus pada situasi konflik sosial politik yang sedang terjadi. Kuasa digital sebagai konsep digunakan pada penelitian ini untuk melihat kendali negara pada internet, terkhusus ketika konflik sosial politik terjadi dan internet menjadi ancaman bagi stabilitas negara. Penelitian ini fokus pada kontrol negara dalam internet pada praktik pembatasan internet ketika konflik sosial sedang berlangsung di Papua. Penelitian kualitatif dilakukan dengan pendekatan studi kasus, menggunakan studi Pustaka dan wawancara dengan lembaga pemerintah serta lembaga swasta yang memiliki keterkaitan dengan isu pembatasan internet. Temuan penelitian ini yang utama ialah, praktik pembatasan internet dilakukan oleh negara pada masa konflik di Papua ialah untuk menghambat publik melakukan verifikasi keakuratan informasi.Kata kunci: Pembatasan Internet, Kuasa Digital, Konflik di Papua.
Pergantian Kepemimpinan Partai Kebangkitan Bangsa Kabupaten Bandung dan Kemenangan Pemilu Legislatif Kabupaten Bandung Tahun 2024 Suryana, Nanang; Nurzaman, Tedy; Silas, Jonah
International Journal of Demos (IJD) Volume 7 Issue 2 (2025)
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v7i2.535

Abstract

Abstract Party leadership is an important aspect in showing the face of a political party to the public as voters. Several studies show that party leadership has a fairly strong influence in determining voting behavior (Liddle & Mujani, 2007). In the midst of the decentralization system in force in Indonesia, the presence of political parties at the regional level is thus a necessity, at least to reach voters at a more micro level. The touch between the community and the party at the regional level is certainly more intense compared to the party at the central level. The last four legislative elections in Bandung Regency (2004, 2009, 2014, and 2019), were always won by the Golkar party, until finally this dominance collapsed marked by the victory of the National Awakening Party (PKB) in the 2024 Bandung Regency legislative election. This victory occurred after the change in leadership of the National Awakening Party (PKB) at the regional level, in this case in Bandung Regency. Through the conceptual framework built by Stark (1996), related to the criteria for changing party leadership, this article aims to analyze in more depth how the change in leadership of the National Awakening Party of Bandung Regency can provide electoral incentives for the National Awakening Party's vote acquisition in the 2024 Bandung Regency legislative election. This article shows the factors of acceptance of party leaders by party members, electoral interest possessed by party leaders, and the competence of party leaders, which are supported by the factor of ownership of popular power as determinant factors that must be possessed by party leaders, as happened in the National Awakening Party (PKB) of Bandung Regency which succeeded in breaking the dominance of the Golkar Party in the 2024 Bandung Regency legislative election. Keywords: Change of Party Leadership, Popular Political Actors, PKB Abstrak Kepemimpinan partai menjadi aspek penting dalam menunjukkan wajah partai politik kepada publik sebagai pemilih. Beberapa studi menujukan kepemimpinan partai memiliki pengaruh cukup kuat dalam menentukan perilaku memilih (Liddle & Mujani, 2007). Di tengah sistem desentralisasi yang berlaku di Indonesia, kehadiran partai politik pada tingkatan daerah dengan begitu, menjadi suatu keharusan, paling tidak untuk menjangkau pemilih pada tingkatan yang lebih mikro. Sentuhan antara masyarakat dengan partai pada tingkatan daerah tentunya menjadi lebih intens dibandingkan dengan partai pada tingkatan pusat. Empat pemilu legislatif Kabupaten Bandung terakhir (2004, 2009, 2014, dan 2019), selalu dimenangkan oleh partai golongan karya (Golkar), sampai akhirnya dominasi tersebut runtuh ditandai dengan kemenangan partai kebangkitan bangsa (PKB) pada pemilu legislatif Kabupaten Bandung tahun 2024. Kemenangan tersebut terjadi pasca pergantian kepemimpinan partai kebangkitan bangsa (PKB) di tingkatan daerah, dalam hal ini di Kabupaten Bandung. Melalui kerangka konseptual yang dibangun oleh Stark (1996), terkait kriteria pergantian kepemimpinan partai, artikel ini bertujuan untuk menganalisis lebih dalam bagaimana pergantian kepemimpinan partai kebangkitan bangsa Kabupaten Bandung dapat memberikan insentif elektoral terhadap raihan suara partai kebangkitan bangsa pada pemilu legislatif Kabupaten Bandung tahun 2024. Artikel ini menunjukkan faktor penerimaan pemimpin partai oleh anggota partai, ketertarikan elektoral yang dimiliki pemimpin partai, dan kompetensi pemimpin partai, yang ditopang oleh faktor kepemilikan kekuatan popular menjadi faktor determinan yang harus dimiliki oleh pemimpin partai, sebagaimana yang terjadi pada partai kebangkitan bangsa (PKB) Kabupaten Bandung yang berhasil mematahkan dominasi partai golkar pada pemilu legislatif Kabupaten Bandung tahun 2024. Kata Kunci: Pergantian Kepemimpinan Partai, Aktor Politik Popular, PKB