Ronal Arulangi
Sekolah Tinggi Teologi Mamasa

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Makna Mantunu Tedong dalam Upacara Kematian di Kalangan Masyarakat Mamasa Ronald Arulangi; Barbalina Bulawan
Jurnal Loko Kada Vol 2 No 02 (2022): LOKO KADA: JURNAL TEOLOGI KONTEKSTUAL DAN OIKUMENIS
Publisher : STT Mamasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (889.115 KB)

Abstract

Mantunu Tedong dalam masyarakat Mamasa merupakan warisan budaya yang terus bertahan hingga saat ini, tradisi ini dilakukan dengan cara mengorbankan atau memotong hewan pada upacara kematian (rambu solo’). Selain sebagai sebuah tradisi, keberadaan warisan budaya ini juga mempunyai tujuan penting yaitu untuk mempererat relasi atau hubungan di dalam keluarga besar maupun masyarakat secara luas. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mantunu tedong merupakan bentuk penghormatan, kasih sayang, ucapan terima kasih terhadap keluarga atau orang terkasih yang telah mendahului kita (meninggal dunia). Adapun jumlah hewan yang dikurbankan dalam upacara tersebut, tergantung tingkat kemampuan keluarga. Fungsi dalam mantunu tedong pada masa lalu ialah dipercaya sebagai bekal kubur atau “kendaran” arwah menuju alam baka yang disebut Puya (Tana Toraja) atau Pullondong (Mamasa) dalam kepercayaan Aluk Toyolo. Ketika kekristenan datang, pelaksanaan ritual ini di kalangan Kristen tidak lagi menekankan pada hewan yang dikurbankan. Jika kerbau dipotong, ada upaya memaknainya sebagai sebuah kurban syukur dan persembahan kepada Tuhan atas keselamatan melalui iman kepada Yesus Kristus. Hewan yang dikurbankan dikonsumsi bersama hadirin dan keluarga atau kerabat yang turut hadir membagi duka, dan mungkin juga sebagai tanda persekutuan mereka dengan orang yang telah meninggal tersebut.
Meretas Jalan Pembebasan: Hermeneutik Silang Budaya antara Cerita Rakyat Perempuan-Perempuan Pelarian dan Ratu Wasti Ressa, Yosia Polando; Tumbelaka-van Munster, Cindy Cecilia; Arulangi, Ronald
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 9, No 1 (2024): Oktober 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v9i1.1392

Abstract

Abstract. The topic discussed in this article is the issue of gender justice related to sex discrimination and violence in a patriarchal society, where women lose their inspiring voice. Christian women can look for values in the Bible, but sometimes they only find that women's voices that are very weak because of patriarchal gender bias. They can trace their path of searching for spiritual riches in their oral traditions, namely folklore. Based on this background, this article offers a cross-cultural reading of the Bible between the authority of values originating from folklore and other local wisdom, and the authority of the Bible as the basis for church teaching. The cultural context of Mamasa and the stories of “Runaway Women” will be in dialogue with the story of Queen Vashti in the book of Esther. As the result, women's struggle in seeking gender justice can be achieved if relationships and networks of empowering power are built with other women around them.Abstrak. Topik yang didiskusikan dalam tulisan ini adalah seputar persoalan keadilan gender terkait diskriminasi seks dan kekerasan dalam masyarakat yang patriarkhal, di mana perempuan kehilangan suara inspirasinya. Para perempuan Kristen dapat saja mencari-cari pijakan nilai  dalam Akitab, namun terkadang hanya menemukan kenyataan bahwa suara-suara perempuan di sana sangat lemah karena bias gender yang patriarkhal. Mereka dapat menyusuri jalan pencarian mereka dalam kekayaan spiritual dalam tradisi lisan mereka, yaitu cerita rakyat. Dengan latar belakang tersebut, tulisan ini menawarkan pembacaan Alkitab silang budaya antara otoritas nilai yang bersumber dari cerita rakyat dan kearifan lokal lainnya, dan otoritas Alkitab sebagai dasar pengajaran gereja. Konteks kultural Mamasa dan cerita “Perempuan-perempuan Pelarian” akan didialogkan dengan kisah Ratu Wasti dalam kitab Ester. Hasilnya, perjuangan perempuan dalam mengusahakan keadilan gender apabila terbangun relasi dan jejaring kekuatan pemberdaya dengan perempuan lain di sekitarnya.
Tidak ada kutuk pada makanan: Dialektika 1 Samuel 14:24-46 dan tradisi kappunan dalam konteks kultural Mamasa Ressa, Yosia Polando; Arulangi, Ronald
KURIOS Vol. 10 No. 1: April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i1.812

Abstract

Culture is one factor that shapes the characteristics of the Christian faith in a region. However, not all cultural elements can be compromised with the Christian faith. There is always an effort to create a dialogue between tradition and the Christian faith so that tradition can enrich the appreciation of the Christian faith in the local context. This paper offers a contextual dialogical approach between the kappunan tradition and the text of 1 Samuel 14:24-46. The method used is the cross-textual reading hermeneutic or cross-cultural method. As a result, this research shows that the kappunan tradition should not be based on the belief that food brings curses, but rather that food is a blessing for those who receive and are grateful for it, and will not even bring disaster to those who reject it. Apart from that, the kappunan tradition cannot be a means of judgment but rather a reminder that accepting food from other people is a form of love and appreciation for the hospitality of different people. AbstrakBudaya merupakan salah satu faktor yang membentuk karakteristik iman Kristen di sebuah wilayah. Namun, tidak semua unsur budaya dapat begitu saja dikompromikan dengan iman Kristen. Selalu ada upaya untuk mendialogkan tradisi dan iman Kristen agar tradisi dapat memperkaya penghayatan iman Kristen dalam konteks lokal. Tulisan ini menawarkan pendekatan dialogis kontekstual antara tradisi kappunan dengan teks 1 Samuel 14:24-46. Metode yang digunakan adalah metode hermeneutik cross-textual reading atau silang budaya. Hasilnya, penelitian ini menunjukkan tradisi kappunan seharusnya tidak didasarkan pada keyakinan bahwa makanan mendatangkan kutuk, melainkan makanan adalah berkat bagi yang menerima dan mensyukurinya, bahkan tidak akan mendatangkan musibah bagi yang menolaknya. Selain itu, tradisi kappunan tidak dapat menjadi alat penghakiman, melainkan sebagai pengingat bahwa menerima makanan dari orang lain merupakan wujud kasih dan penghargaan atas keramahtamahan dari orang lain.
The Taiping Heavenly Kingdom: Rebellion and the Blasphemy of Empire Ronal Arulangi
LOKO KADA TUO: Jurnal Teologi Kontekstual dan oikumenis Vol. 3 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI MAMASA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70418/lkt.v3i1.119

Abstract

Persoalan Dasar dalam Dialog Injil dan Kebudayaan: Integrasi Teologi Akademik dan Teologi Jemaat dalam Diskusi Lintas Sinodal mengenai Teologi Kontekstual dan Kebutuhan Hermeneutik Multikultural di Gereja Masehi Injili Timor dan Gereja Toraja Mamasa Ronal Arulangi
Akoloutheo: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 1 (2026): Penguatan Kapasitas dalam Teologi dan Praktik Pelayanan Gereja melalui Pendekatan
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper is a result of research and community service that integrates academic theological studies with the church's need for theological principles to examine the relationship between church theology and local culture at the practical level in congregational ministry. It explores the practical theological experiences of the Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) and the Gereja Toraja Mamasa (GTM) in conjunction with academic theological studies. An inadequate understanding of contextualization is considered to be the cause of the lack of development of relevant methods and approaches at the practical level in congregations by church ministers. The discussion, revealed that the primary issue that needs to be addressed is resolving issues of terminology and dogmatics presumption. Using a qualitative analysis method, this study confirms initial needs and can provide suggestions for a methodological design to fulfill the objectives of a future church framework on the contextualization of theology and dialogue between the gospel and culture, particularly in local church organizations with ethnic backgrounds such as both churches. It also reveals the need for an adequate hermeneutic method to ensure the application of scientific principles and practical needs that emphasize dialogue in four contexts.