Anak-anak tidak selalu terkena dampak negatif dari dampak keluarga broken home. Namun, sebagian besar anak sering memiliki pemikiran negatif, seperti: suka marah-marah, emosian, seolah-olah kesepian, dan selalu berpikiran untuk menyalahkan dirinya sendiri, merasa dihantui oleh rasa takut, dan mudah terpengaruh oleh lingkungan negatif, tapi sebagian dari mereka memiliki perilaku buruk karena hal itu tergantung pola asuh orang tua. Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian kuantitatif dengan pendekatan penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen angket tema penelitian Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah orang tua yang ada di Provinsi Jambi yaitu Guru TK Aldha Novita dan KB Putri Cipiring yang ada di Provinsi Jambi. Sampel terdiri dari 10 orang tua. Hasil pembahasan Pada pola asuh demokratis, Pada pernyataan pertama mengenai orang tua membebaskan anak memilih permainannya sendiri membuat anak mandiri, sebanyak (100%) responden menyatakan setuju. Pada pernyataan kedua mengenai berkomunikasi yang terbuka kepada anak membuat anak jujur dalam hal apapun, sebanyak (100%) responden menyatakan setuju.Pada pernyataan ketiga mengenai orang tua mendorong anak untuk bertanggung jawab atas pilihannya, sebanyak (100%) responden menyatakan setuju.Dari hasil analisi data dapat disimpulkan bahwa Responden paling banyak menerapkan pola asuh orang tua demokratis pada anak dalam keluarga broken hometerhadap perkembangan sosial emosional, pada pola asuh demokratis ini anak dapat bebas berpendapat, membuat keputusan dan menjalin hubungan yang baik serta terbuka kepada orang tua dan slalu menjaga agar hubungan kelurga tetap harmons antara orang tua dan anak.