Tulisan ini hadir untuk membedah polemik penerimaan pengungsi asing di Indonesia. Persoalan yang ada penulis bedah menggunakan perspektif persaudaraan sejati dalam Ensiklik Fratelli Tutti, sekaligus mencari argumen pembelaannya dalam Kitab Suci. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, melalui bacaan dari berbagai buku, jurnal, dan dokumen Gereja. Tujuan penulisan ini untuk merumuskan pandangan baru yang lebih inklusif, dalam diri setiap orang Kristen dalam menyikapi persoalan pengungsi asing di Indonesia. Sebab, Indonesia sendiri tidak memiliki rancangan kerja atau pengalokasian dana khusus untuk penanganan pengungsi asing yang masuk ke dalam negeri, sedangkan di lain pihak, Indonesia mesti tetap menerima kedatangan para eksodus atas nama kemanusiaan. Situasi ini akhirnya menimbulkan masalah baru berupa ketegangan sosial antara masyarakat lokal di beberapa daerah dengan kelompok pengungsi asing di dalam negeri. Padahal, menurut Paus Fransiskus, dalam Ensiklik Fratelli Tutti, fenomena pengungsian global dipandang sebagai awan gelap yang memerlukan uluran tangan setiap orang tanpa terkecuali. Sebab, sejatinya setiap manusia dipanggil untuk berjumpa dan mengalami berbagai peristiwa unik yang Tuhan kehendaki baik bagi ciptaan-Nya, termasuk dalam perjumpaan dengan para pengungsi. Oleh karena itu, menurut Paus Fransiskus, tidaklah pantas apabila beban penderitaan yang telah dipikul para pengungsi mesti ditambahkan lagi dengan beban yang diciptakan oleh sikap penolakan terhadap keberadaan mereka. Lebih dari itu, keberpihakan Paus Fransiskus terhadap para pengungsi merupakan bentuk pengalaman atas keberpihakan Allah terhadap kelompok marginal ini, seturut narasi Kitab Suci. keberpihakan Allah kepada para pengungsi dapat ditelusuri di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.