Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Makna Khusyu’ Dalam Al-Qur’an: Studi Kajian Tematik Dalam Prespektif Tafsir Al-Azhar A.Amirul Faizin, Faiz; Arif Firdausi N.R; Edy Wirastho
Al Furqan: Jurnal Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 7 No. 1 (2024): Al Furqan: Jurnal Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Jawa Timur: Prodi. Ilmu Al Quran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin IAI Tarbiyatut Tholabah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58518/alfurqon.v7i1.2524

Abstract

This research focuses on Al-Azhar's interpretation of the concept of "khusyū" in the Quran in depth and comprehensively. It is based on literature review utilizing various books available in both physical and digital libraries that are easily accessible. The importance of this research lies in understanding the various meanings of khusyū found in Al-Azhar's interpretation and maximizing the quality of worship by understanding the science of khusyū in worship. The result of this research is the meaning of khusyū in Al-Azhar's interpretation, which refers to submission and total focus in worship, originating from the heart and manifested in both physical and spiritual forms during prayer. This includes lowering the gaze, keeping the body still, feeling tranquility, and dedicating oneself during worship. The word "khusyū" is also mentioned in the Quran in various contexts, both with positive meanings, such as worship and obedience to Allah, and with negative meanings, such as showing regret on the Day of Judgment for those who ignore Allah's warnings and engage in evil deeds. Khusyū serves as a primary indicator of one's faith and piety in Islam, and it is also the key to achieving happiness and salvation in both this world and the hereafter.
Penafsiran Tentang Peran Orang Terhadap Anak Pada Q.S Luqman Dalam Tafsir Al-Munir Muhnaf Billah; Arif Firdaus N.R; Edy Wirastho
MULTIPLE: Journal of Global and Multidisciplinary Vol. 2 No. 8 (2024): Agustus
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-Qur'an telah memberikan banyak petunjuk dan tuntunan bagi orang tua untuk mendidik anak, salah satunya melalui kisah Luqman al-Hakim yang memberikan nasihat-nasihat bijak kepada putranya, sehingga menarik untuk di kaji lebih karena Luqman al-Hakim memberikan nasihat yang bijak kepada putranya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penafsiran ayat-ayat peran orang tua terhadap anak pada surat Luqman dalam kitab tafsir al-Munir karya wahbah az-Zuhaili dan implementasi penafsiran tersebut dalam kehidupan saat ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kepustakaan dalam pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menerangkan bahwa dalam tafsir Al-munir, karya Wahbah az-Zuhaili menafsirkan peran orang tua terhadap anak dalam surat Luqman bahwa nasehat-nasehat Luqman kepada anaknya mencakup ajaran tauhid, ibadah, akhlak, manhaj, dan perilaku. Secara umum, penafsiran az-Zuhaili ini menyajikan analisis yang meluas tentang peran orang tua, khususnya ayah, dalam mendidik dan membina anak-anaknya. Hal ini menjadi sangat penting di tengah maraknya fenomena minimnya peran ayah dalam pengasuhan anak di zaman sekarang.
Konsep Friendship Perspektif Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir Annisa Solihah Nurjannah; Arif Firdausi Nur Romadlon; Edy Wirastho
Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an, Tafsir dan Pemikiran Islam Vol. 6 No. 2 (2025): Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir dan Pemikiran Islam
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) IAIFA Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study explores the concept of friendship from the perspective of Wahbah Az-Zuhaili as presented in Tafsir al-Munīr. According to Az-Zuhaili, friendship is not merely a social relationship but a bond that carries spiritual, moral, and religious responsibilities. Based on his interpretation of several Qur’anic verses, including Surah Az-Zukhruf [43]:67, Al-Furqan [25]:28–29, Al-‘Ashr [103]:3, and Al-Hujurat [49]:10, he asserts that true friendship is grounded in faith, piety, and love for Allah (al-ḥubb fī Allāh), and thus yields benefits both in this world and the hereafter. Conversely, friendships based on worldly interests or values that contradict divine guidance lead only to regret and enmity on the Day of Judgment. Az-Zuhaili emphasizes the crucial role of selectivity in choosing companions as a means to preserve and strengthen one’s faith and moral character. Furthermore, he highlights the social function of friendship in Islam as a medium for mutual counsel in truth and patience, and as a force that reinforces Islamic brotherhood (ukhuwah Islamiyah). Accordingly, Az-Zuhaili’s concept of friendship integrates both vertical (ḥablun minallāh) and horizontal (ḥablun minannās) dimensions, making it a vital component in the construction of a balanced, caring, and hereafter-oriented Islamic society.
Etika Bisnis dalam Al-Qur’an Menurut R. Lukman Fauroni dan Relevansinya dengan Praktik Bisnis Modern Hazballah, Hanik Faiz; Hanik Faiz Hazballah; Muhammad Mukharom Ridho; Edy Wirastho
Jurnal Semiotika Quran Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v5i2.29154

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran R. Lukman Fauroni mengenai etika bisnis dalam al-Qur’an sebagaimana tertuang dalam karyanya Etika Bisnis Dalam Al-Qur’an, serta menelaah relevansinya terhadap praktik bisnis modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis dan teknik studi pustaka (library research). Data primer bersumber dari buku karya Fauroni, sedangkan data sekunder meliputi buku tafsir, jurnal, dan karya ilmiah lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Fauroni menawarkan paradigma etika bisnis berbasis nilai-nilai Qur’ani seperti tauhid, keseimbangan, kehendak bebas, tanggung jawab, dan ihsan. Ia menegaskan bahwa bisnis dalam perspektif al-Qur’an tidak hanya bersifat material tetapi juga immaterial, melibatkan dimensi spiritual dan moral. Penelitian ini juga menyoroti praktik-praktik bisnis yang bertentangan dengan nilai al-Qur’an, seperti riba, penipuan, dan korupsi. Kontribusi Fauroni menunjukkan bahwa integrasi nilai spiritual dan etika dalam bisnis dapat menjadi solusi atas problematika etika dalam dunia bisnis modern, serta menjadi kerangka kerja yang mendukung keberlanjutan dan keadilan dalam aktivitas ekonomi kontemporer.
Comparative Analysis of the Concept of Women's Leadership in Tafsir Al-Misbah and Tafsir An-Nur Syahida, Zulfa Rahma; Romadlon , Arif Firdausi Nur; Edy Wirastho
Jurnal Semiotika Quran Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v5i2.30148

Abstract

Women's leadership is an important and controversial issue in contemporary Muslim society, where interpretations of the Qur'an regarding the position of women as leaders still vary. Meanwhile, global data shows that there is still a significant gender gap in leadership positions. This study aims to compare and analyze the views of Tafsir Al-Misbah by M. Quraish Shihab and Tafsir An-Nur by Hasbi Ash-Shiddieqy on women's leadership based on relevant verses of the Qur'an,  particularly  QS. An-Nisa' [4]: 34  and QS. At-Taubah [9]: 71.  The method used is qualitative with a comparative analysis approach, which compares the two interpretations in depth. The results of the study show that both interpretations agree on placing men as leaders in the domestic sphere due to their responsibility for maintenance and protection, but still open up space for women to lead in the public sphere as long as they meet the requirements of trustworthiness and capability. The Tafsir Al-Misbah tends to be moderate, taking into account natural aspects, while the Tafsir An-Nur is more progressive and inclusive, emphasizing the principles of justice, deliberation, and gender equality. The contribution of this research is to enrich the discourse on contemporary interpretation and offer a distinctive Indonesian perspective in the global dialogue on women's leadership and gender justice in Islam.