Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Analisis Variasi Nilai Time Inversion (TI) Terhadap Infromasi Citra MRI Knee Joint Potongan Sagital Sekuen PDW SPAIR Widiatmoko, Mahfud Edy; Sabina, Asy Syifa; Supriyaningsih, Eny; Rizqi, Muhammad; Hidayat, Eka Putra Syarif
Jurnal Imejing Diagnostik (JImeD) Vol. 11 No. 2 (2025): JULY 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jimed.v11i2.13326

Abstract

Background: Magnetic Resonance Imaging (MRI) is a non-invasive imaging modality essential for evaluating complex anatomical structures such as the knee joint. MRI allows multiplanar imaging with high soft tissue contrast resolution. In knee imaging, the sagittal plane is particularly effective in assessing pathologies and visualizing structures like cartilage, menisci, bones, and ligaments (ACL and PCL). Proton Density Weighted (PDW) sequences combined with Spectral Adiabatic Inversion Recovery (SPAIR) fat suppression are commonly used to enhance soft tissue visualization. The image quality in SPAIR sequences is significantly influenced by the Time Inversion (TI) parameter. This study aimed to analyze the impact of varying TI values on the image quality of sagittal PDW SPAIR MRI of the knee joint, focusing on anatomical detail and contrast resolution.Methods: This research used a quantitative analytical method with an experimental approach. The study was conducted at the Radiology Department of Pertamina Central Hospital from March to April 2025. Ten knee MRI examinations were selected as samples. Image quality was assessed by three radiologists using a structured scoring questionnaire. The data were analyzed using non-parametric statistical tests, including Friedman and Wilcoxon Signed-Rank tests.Results: The Friedman test revealed statistically significant differences in anatomical detail (χ²(2) = 15.000, p = 0.001) and contrast resolution (χ²(2) = 17.882, p = 0.000) across the three TI values (100 ms, 160 ms, and 200 ms). Post-hoc Wilcoxon analysis showed that both TI 160 ms and 200 ms provided significantly higher image quality than 100 ms (p < 0.017) in both parameters. However, no significant differences were found between TI 160 ms and 200 ms (p = 0.506 for anatomical detail, p = 0.273 for contrast resolution). Among the values tested, TI 160 ms demonstrated consistent and optimal scores for both image clarity and contrast.Conclusions: A TI value of 160 ms in the PDW SPAIR sequence is recommended as the optimal parameter for producing superior sagittal MRI images of the knee joint, particularly in terms of anatomical clarity and contrast resolution.
Nilai Hounsfield Unit (HU) CT-Scan pada Lesi Paru-Paru Pasien Suspek COVID-19 Widiatmoko, Mahfud Edy; Ramadhanti, Shelsa
Jurnal Kesehatan Vokasional Vol 8, No 3 (2023): August
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkesvo.78738

Abstract

Latar Belakang: National Health Commission of China menyatakan bahwa Computed Tomography (CT) memiliki peranan penting dalam hal menegakkan diagnosis dan pemantauan prognosis pada pasien COVID-19 karena memiliki sensitivitas diagnostik tinggi sebesar 97,2% dan menjadi pelengkap dari pengujian RT-PCR. Gambaran CT thorax pada pasien dengan lesi paru-paru suspek COVID-19 terlihat nodul konsolidasi dan Ground Glass Opacities (GGO) di sebagian area. Sebaran nodul GGO pada COVID-19 diklasifikasikan dengan istilah CO-RADS. Karakteristik nodul lesi dapat dianalisis kepadatan jaringan dengan nilai Hounsfield Unit (HU).Tujuan: Mengetahui nilai Houndsfield Unit (HU) CT pada lesi paru-paru pasien suspek COVID-19 berdasarkan kategori CO-RADS.Metode: Penelitian ini menggunakan studi cross‑sectional berdasarkan data sekunder hasil rekonstruksi gambar pemeriksaan CT thorax dengan klinis suspek pneumonia COVID-19 tahun 2021 dan jumlah sampel 40 kasus.Hasil: Hasil rata-rata nilai HU pada kategori CO-RADS 4, 5, dan 6, berturut-turut, -203,00 HU, -168,97 HU), dan -133,57 HU). Berdasarkan uji statistik, nilai p < 0,05 yang artinya bahwa rata-rata nilai HU ketiga kategori CO-RADS berbeda secara signifikan.            Kesimpulan: Ada beda tingkatan klasifikasi CO-RADS 4-6, yaitu bahwa semakin tinggi tingkatan kategori CO-RADS, semakin tinggi pula nilai HU CT pada lesi paru-paru.
Analisis Efektivitas Apron 0.35 mmPb dalam Melindungi Pekerja Radiasi pada Pemeriksaan Radiografi Irsal, Muhammad; Sutoro, Shinta Gunawati; Widiatmoko, Mahfud Edy; Tarigan, Asumsie; Winarno, Guntur; Prananto, Legia
Jurnal Kesehatan Vokasional Vol 8, No 3 (2023): August
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkesvo.80499

Abstract

Latar Belakang: Quality Control (QC) pada apron wajib dilakukan satu tahun sekali. Hal ini bertujuan untuk memastikan keamanan pada pekerja radiasi sebelum melakukan prosedur pemeriksaan radiologi sehingga penerimaan dosis radiasi tidak melebihi 20 mSv/ tahun.Tujuan: Menganalisis efektivitas penggunaan apron 0.35 mmPb untuk melindungi pekerja radiasi pada pemeriksaan radiografi.Metode: Penelitian ini dilakukan di laboratorium Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi, Poltekkes Kemenkes Jakarta II. Prosedur yang dilakukan pada penelitian adalah dengan simulasi apabila pekerja menerima paparan radiasi primer dan sekunder pada jarak 100 cm dengan rentang faktor eksposi 45-100kVp. Apron yang digunakan berbahan timbal (Pb) dengan ketebalan 0.35 mmPb dan, untuk pekerja radiasi, diganti dengan menggunakan pantom anthorophomorpic. Penggunaan luas lapangan sesuai kondisi klinis yaitu 18 cm x 24 cm, 43 cm x 35 cm, dan kemudian dilakukan analisis efektivitas apron Pb terhadap perubahan faktor eksposi.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas penggunaan apron 0.35 mmPb pada rentang tegangan tabung 45-100kVp untuk kedua penggunaan luas lapangan memiliki nilai persentasi yang sama 99.9-93%.Kesimpulan: Peningkatan tegangan tabung menyebabkan terjadinya penurunan atenuasi apron Pb.